Loading
Tersesat …. Karena Meng-IKUT-i {taklid} …….KeBANYAKan Orang…. ………………………………… TAKLID BUTA tanpa memikirkan BENAR dan SALAH………………………. وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الأرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلا يَخْرُصُونَ “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” [QS.al-An’am/6: 116] ……………………………….. mempelajari AYAT-AYAT Allah … harus dengan AKALnya … bukan dengan TAKLID (ikut-ikutan saja) … apa gunanya AKAL?? ——————– jangan seperti ANJING … atau … BINATANG TERNAK …. yang TIDAK “berpikir” … Al A’raf:176 ————————————– TAKWA itu harus dengan AKAL …. Al Baqarah:197 … BUKAN hanya TAKLID (ikut-ikutan saja …. {Al Baqarah:166} ———————————– ﴾ Al A’raf:176 ﴿ Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan AYAT-AYAT itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti ANJING jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka BERFIKIR ﴾ Al A’raf:179 ﴿ Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi TIDAK dipergunakannya untuk MEMAHAMI (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai BINATANG TERNAK, bahkan mereka lebih SESAT lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. ————————- | EP Artikel-Edy Gojira

Tersesat …. Karena Meng-IKUT-i {taklid} …….KeBANYAKan Orang…. ………………………………… TAKLID BUTA tanpa memikirkan BENAR dan SALAH………………………. وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الأرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلا يَخْرُصُونَ “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” [QS.al-An’am/6: 116] ……………………………….. mempelajari AYAT-AYAT Allah … harus dengan AKALnya … bukan dengan TAKLID (ikut-ikutan saja) … apa gunanya AKAL?? ——————– jangan seperti ANJING … atau … BINATANG TERNAK …. yang TIDAK “berpikir” … Al A’raf:176 ————————————– TAKWA itu harus dengan AKAL …. Al Baqarah:197 … BUKAN hanya TAKLID (ikut-ikutan saja …. {Al Baqarah:166} ———————————– ﴾ Al A’raf:176 ﴿ Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan AYAT-AYAT itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti ANJING jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka BERFIKIR ﴾ Al A’raf:179 ﴿ Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi TIDAK dipergunakannya untuk MEMAHAMI (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai BINATANG TERNAK, bahkan mereka lebih SESAT lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. ————————-

Tersesat …. Karena Meng-IKUT-i {taklid} …….KeBANYAKan Orang….
……………………..…………. TAKLID BUTA tanpa memikirkan BENAR dan SALAH……………………….

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الأرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلا يَخْرُصُونَ

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” [QS.al-An’am/6: 116]
……………………..…………
mempelajari AYAT-AYAT Allah … harus dengan AKALnya … bukan dengan TAKLID (ikut-ikutan saja) … apa gunanya AKAL??
——————–
jangan seperti ANJING … atau … BINATANG TERNAK …. yang TIDAK “berpikir” … Al A’raf:176
————————————–
TAKWA itu harus dengan AKAL …. Al Baqarah:197 … BUKAN hanya TAKLID (ikut-ikutan saja …. {Al Baqarah:166}
———————————–
﴾ Al A’raf:176 ﴿
Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan AYAT-AYAT itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti ANJING jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka BERFIKIR

﴾ Al A’raf:179 ﴿
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi TIDAK dipergunakannya untuk MEMAHAMI (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai BINATANG TERNAK, bahkan mereka lebih SESAT lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.
————————-
﴾ Al Baqarah:197 ﴿ <<< TAKWA dengan menggunakan AKAL … BUKAN hanya TAKLID (ikut-ikutan saja …. {Al Baqarah:166}

﴾ Al Baqarah:166 ﴿
(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.
إِذْ تَبَرَّأَ ٱلَّذِينَ ٱتُّبِعُوا۟ مِنَ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوا۟ وَرَأَوُا۟ ٱلْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ ٱلْأَسْبَابُ ﴿البقرة:١٦٦﴾
﴾ Al Baqarah:167 ﴿
Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami”. Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.
وَقَالَ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوا۟ لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا۟ مِنَّا ۗ كَذٰلِكَ يُرِيهِمُ ٱللَّـهُ أَعْمٰلَهُمْ حَسَرٰتٍ عَلَيْهِمْ ۖ وَمَا هُم بِخٰرِجِينَ مِنَ ٱلنَّارِ ﴿البقرة:١٦٧﴾

﴾ Al Baqarah:197 ﴿
(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.
ٱلْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومٰتٌ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ ٱلْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِى ٱلْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا۟ مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ ٱللَّـهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ ۚ وَٱتَّقُونِ يٰٓأُو۟لِى ٱلْأَلْبٰبِ ﴿البقرة:١٩٧﴾
……………………..……………………...

manusia cenderung mengikuti kebanyakan orang. Jika masyarakatnya senang dengan kesyirikan dan kebid’ahan, maka ia mengikutinya. Dan jika masyarakatnya baik merekapun menjadi baik pula. Hal ini persis sebagaimana yang disebutkan dalam hadist

; لَا تَكُونُوا إِمَّعَةً تَقُولُونَ: إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا، وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْنَا، وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا، وَإِنْ أَسَاءُوا فَلَا تَظْلِمُوا

Janganlah kalian menjadi orang yg suka mengekor orang lain. Jika manusia menjadi baik, maka kami juga akan berbuat baik. Dan jika mereka berbuat zhalim, maka kami juga akan berbuat zhalim.’ Akan tetapi mantapkanlah hati kalian, jika manusia berbuat baik kalian juga berbuat baik, namun jika mereka berlaku buruk, janganlah kalian berbuat zhalim. Berkata Abu Isa: Ini merupakan hadits hasan gharib tak kami ketahui kecuali melalui jalur ini. [ HR. At turmudzi 1930 ].

Lebih parah lagi jika kebenaran diukur dengan kebanyakan manusia. Jika banyak manusia melakukannya, maka itulah kebenaran, tetapi jika sedikit yang melakukannya, maka hal itu dianggap kesesatan. Padahal kebenaran dan kesesatan harus diukur dengan al qur’an dan sunnah Rasulullah sallallahu alaihiwasallam. Sementara al qur’an telah menjelaskan bahwa kebanyakan manusia adalah sesat sebagaimana ayat di atas.

Makna Ayat Secara Umum Para ulama’ ahli tafsir memberi keterangan tentang ayat diatas dengan penjelasan sebagai berikut ; Imam Baidhowi rahimahullah berkata: “Yang dimaksud dengan umumnya manusia adalah orang-orang kafir atau orang-orang bodoh tentang agama atau pengikut hawa nafsu.” [Tafsir al-Baidhowi: 2/199]

Syaikh Abdurrohman as-Sa’di rahimahullah berkata: “Ayat ini menjelaskan bahwa kebenaran itu bukan karena banyak pendukungnya, dan kebathilan itu bukan karena orang yang mengerjakannya sedikit. Kenyataannya yang mengikuti kebenaran hanya sedikit, sedangkan yang mengikuti kemungkaran banyak sekali. Kewajiban bagi umat Islam adalah mengetahui yang benar dan bathil, lihatlah jalan yang ditempuh.” [Tafsir al-Karimur Rohman: 1/270]

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya: “Sebagian menusia jika dilarang dari perbuatannya yang menyimpang dari ajaran syariat Islam atau menyimpang dari adab Islam berargumen umumnya manusia mengerjakannya. Jika demikian, bagaimana kita menjawabnya?

Mayoritas bukanlah dasar kebenaran, karena Allah azza wa jalla berfirman (Baca QS.al-An’am/6:116 dan QS.Yusuf/12:103]. Sedangkan tolak ukur kebenaran jika Allah azza wa jalla berfirman dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, atau ulama salafush sholih yang berfatwa.” [Majmu’ Fatawa wa Rosa’il, Ibnu Utsaimin: 3/103] Selanjutnya beliau rahimahullah berkata: “Hendaknya kita tidak tertipu dengan mayoritas, karena mayoritas kada kala tersesat seperti ayat diatas (QS.al-An’am/6:116).

Dari sisi lain, jika manusia tertipu dengan mayoritas sehingga dia menduga bahwa dialah yang menang, inilah penyebab manusia menjadi hina. Kamu jangan berkata: Semua manusia berbuat demikian, mengapa kami sendiri yang tidak? Kamu jangan tertipu dengan mayoritas, jangan tertipu dengan umumnya orang yang hancur akidah dan akhlaknya sehingga kamu hancur bersama mereka, dan janganlah kamu tertipu dengan orang yang sukses,

sehingga kamu termasuk orang yang sombong, sehingga kamu tinggalkan golongan yang sedikit, sebab boleh jadi yang sedikit itu lebih baik dari pada yang mayoritas.” [al-Qoulul Mufid ala Kitabut Tauhid: 1/7].

Maka sebagai mukmin yang baik, kita harus berpegang terhadap al qur’an dan as sunnah. Apa yang dinyatakan baik, maka kita nyatakan kebikannnya. Dan apa yang dianggap sesat, maka kita juga menyesatkannya, meski banyak orang yang menganggap baik. Jangan tertipu dengan banyaknya orang. Karena kebanyakan orang adalah tersesat, dholim dan bodoh. Hanya pada Allah kita memohon keistiqamahan di atas kebenaran hingga ajal menjemput.

Views All Time
Views All Time
438
Views Today
Views Today
2
About Edy Gojira 722 Articles
sampaikanlah .... kebenaran ayat-ayat Allah

4 Comments on Tersesat …. Karena Meng-IKUT-i {taklid} …….KeBANYAKan Orang…. ………………………………… TAKLID BUTA tanpa memikirkan BENAR dan SALAH………………………. وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الأرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلا يَخْرُصُونَ “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” [QS.al-An’am/6: 116] ……………………………….. mempelajari AYAT-AYAT Allah … harus dengan AKALnya … bukan dengan TAKLID (ikut-ikutan saja) … apa gunanya AKAL?? ——————– jangan seperti ANJING … atau … BINATANG TERNAK …. yang TIDAK “berpikir” … Al A’raf:176 ————————————– TAKWA itu harus dengan AKAL …. Al Baqarah:197 … BUKAN hanya TAKLID (ikut-ikutan saja …. {Al Baqarah:166} ———————————– ﴾ Al A’raf:176 ﴿ Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan AYAT-AYAT itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti ANJING jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka BERFIKIR ﴾ Al A’raf:179 ﴿ Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi TIDAK dipergunakannya untuk MEMAHAMI (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai BINATANG TERNAK, bahkan mereka lebih SESAT lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. ————————-

  1. JANGAN mengikuti/taklid pada ULAMA SU’ = MUNAFIK yg BERILMU ….. ulama jelek / buruk.
    …………………………………………
    Sayyidina Umar Bin Khoththob ra berkata “Sesungguhnya paling mengkhawatirkannya yang aju khawatirkan dari umat ini adalah para MUNAFIQ yang berILMU”

  2. JANGAN BODOH ….. MENGIKUTI/ TAKLID BUTA …. para PEMIMPIN FASIK dan MUNAFIK “pandai BICARA”.. menjadi PEMIMPIN …. sebelum hari KIAMAT
    < << (SUDAH SANGAT TERBUKTI … terjadi) >>>>

    Imam Ahmad dan Ath-Thabrani meriwayatkan hadits dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwasannya Nabi bersabda,
    “Sebelum Hari kiamat terjadi, terdapat tahun-tahun penipuan; pada tahun-tahun tersebut, orang tepercaya dituduh, orang tertuduh dipercayai, dan arruwaibidhah berbicara”. Para sahabat berkata, “Apa ar-ruwaibidhah itu?” Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Yaitu orang bodoh yang berbicara tentang urusan manusia”.
    Dalam riwayat lain disebutkan, “Yaitu orang fasik yang berbicara tentang urusan manusia”.
    …………………………………………………………
    FASIK = ORANG “BODOH BERBICARA”
    …………………………………………………………….
    Dari Abu Hurairah radiyallahu anhu, Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: (maksudnya)
    “Akan datang kepada masyarakat tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Pada tahun-tahun itu pembohong dipandang benar, Orang yang benar dianggap bohong; pengkhianat diberi amanat, sedangkan orang yang amanah dianggap pengkhianat. Pada saat itu yang berbicara adalah ruwaibidhah.” Lalu ada sahabat bertanya, “Apakah ruwaibidhah itu?” Rasulullah menjawab, “Orang bodoh yang berbicara / mengurusi urusan umum” (Dalam riwayat lain disebutkan, ruwaibidhah itu adalah “orang FASIK yang berbicara urusan umum)
    [HR Ahmad, Ibnu Majah, Abu Ya’la dan al-Bazzar, Kata Sheikh Shu’aib Al-Arnaud: Isnadnya HASAN,

  3. beberapa bentuk amalan dan ibadah yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, dengan kata lain ibadah tersebut adalah bid’ah.
    —————————-
    1. TAHLILAN

    Tahlilan adalah peringatan hari kematian dari salah seorang kerabat keluarga, tahlilan dapat juga disebut upacara selamatan untuk orang yang telah meninggal. Dalam kegiatan tahlilan ini dibacakan doa-doa dan kalimat tahlil secara bersama-sama dan berulang-ulang. Namun yang menjadikan suatu persoalan adalah bahwa acara tahlilan dilakukan dengan mengundang orang-orang satu kampung dan menyediakan hidangan yang berlebihan selayaknya sebuah pesta. Ini juga terjadi pada hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100,bahkan hari ke-1000 setelah kematian. Bukankah ini suatu keanehan bahwa di dalam acara peringatan kematian di lakukan pesta dengan penyajian beragam makanan.
    —————–
    Imam syafi’I berkata dalam kitabnya, Al-Umm, Juz I hlm 279
    ————–
    “….dan aku membenci Al-Ma’tam, yaitu proses berkumpul/bergabung (ditempat keluarga mayit) walaupun tanpa tangisan, karena hal tersebut hanya akan menimbulkan bertambahnya kesedihan dan membutuhkan biaya, padahal beban kesedihan masih melekat (dikeluarga mayit).
    ————————-
    Khalifah umar bin abdul aziz melarang tahlilan seperti dalam Riwayat Ibnu Abi Syaibah:

    Telah berkata kepada kami Yan ‘Aqid bin isa dari tsabit dari Qais, beliau berkata” saya telah menyaksikan umar bin abdul aziz melarang keluarga mayit mengadakan perkumpulan kemudian berkata: “kalian akan mendapat bencana dan akan merugi”
    —————————–
    Jika kita telusuri, upacara kematian tersebut di adopsi dari budaya hindu dan budha. Mereka umta hindu dan budha menganggap bahwa setelah meninggal maka mayit tersebut akan datang kerumah pada malam hari mengunjungi keluarganya. Untuk itu kedatangan ruh tersebut harus disambut dengan pembacaan doa-doa dan menyiapkan sesajen untuk ruh mayit agar ruh itu bebas dari siksa kematian dan dapat mengunjungi keluarga yang di cintainya.
    ———————————-
    Setelah Islam masuk maka acara tersebut secara perlahan-lahan diganti dengan kegiatan yang bernafaskan Islam, misalnya sesajen diganti dengan makanan-makanan yang dibagikan, mantera-mantera diganti Fdengan doa-doa dan bacaan Al-Qur’an. Namun secara aqidah kegiatan tersebut tetap menjadi bid’ah karena mengikuti cara yang dilakukan oleh umat agama lain dan tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah.

    mari kita buktikan dengan dalil bahwa amalan tahlilan adalah ditolak

    Hadist Shahih Riwayat Abu Dawud :

    “ apabila mati anak Adam, maka putuslah amalannya kecuali 3 perkara : pertama: se dekah yang berkekalan (sedekah wafatnya), kedua: ilmu yang bermanfaat bagi orang lain, krtiga: anak yang shaleh yang mendoakan orang tuanya”.

    penjelasan hadist :

    A.Hasan mengatakan bahwa :

    – Kalau seseorang telah mati, tidak akan bertambah amalnya, kecuali 3 perkara tadi.

    – Ilmu dan anak, adalah daripada usahanya sendiri pada waktu ia masih hidup dan itu yang akan menambah amalnya.

    – Manusia itu Cuma akan mendapat ganjaran dari apa yang telah dikerjakan sendiri diatas dunia.

    Coba kita lihat acara tahlilan, mereka menganggap dengan mengundang orang untuk mendoakan sang mayat maka akan mengurangi azab dan dapat menambah amalan bagi si mayat tersebut. Disitulah kekeliruan pemahaman yang banyak terjadi sekarang ini. Semoga mereka yang masih meyakini pemahaman seperti itu diberikan petunjuk oleh Allah.

    sesat tahlilan

    2. YASINAN
    ————————
    Maraknya upacara Yasinan pada zaman sekarang seperti pada hari setelah kematian, pada malam jumat, pada ziarah kubur dan sebagainya seakan-akan bahwa Al-Qur’an itu hanya berisi surat Yasin saja. Padahal sangat dianjurkan untuk mengkhatamkan seluruh ayat Al-Qur’an setiap 1 bulannya.
    ————————–
    Ada beberapa syarat diterimanya amalan ibadah
    ———————
    1. Ikhlas karena Allah dan semata-mata untuk Allah dengan konsekwensi terhadap syahadat yang terbebas dari syirik.
    ——————–
    2. konsekwensi dari syahadat Muhammad Rasulullah, dengan mengikuti apa yang dianjurkan dan meninggalkan bid’ah (yang diada-adakan).
    ————————————–

    Mari kita bandingkan apakah yasinan tersebut sudah mengikuti syarat tersebut
    ————————
    • Yasinan mengkhususkan dengan surat Yasin, padahal tidak ada dalil yang shahih yang mengkhususkan surat tersebut.
    • Yasinan mengkhususkan pada hari tertentu saja (tiap malam jumat) namun dalil mengenai hal itu adalah lemah.
    • Mengkhususkan pada waktu atau acara tertentu (sebelum dan sesudah kematian ). Padahal Al-Qur’an dan Hadist tidak mengajarkan hal itu.
    • Dilakukan dengan cara berjamaah, membaca secara seperti paduan suara dan tidak jelas makhraj dan tajwidnya. Padahal Rasulullah mengajarkan membaca Al-Qur’an dengan tartil, pelan, benar dan teratur, dibaca oleh satu orang yang lain mendengarkan.
    ——————————
    mari kita lihat dalil-dalil yang menjelaskan yasinan tersebut.

    “ barangsiapa yang membaca surat Yasin dalam suatu malam, maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya. Dan siapa yang membaca surat ad-Dukhan pada malam Jumat, maka ketika dia bangun pagi harinya maka diampuni dosanya”
    ——————————–
    Keterangan : hadist ini palsu : Ibnu Jauzi mengatakan, semua jalannya adalah bathil, tidak ada asalnya. Imam Daruquthni berkata, Muhammad bin Zakaria yang ada dalam sanad hadit adalah tukang pemalsu hadist.
    ——————————
    Hadist lainnya

    “Siapa yang membaca surat Yasin satu kali, maka seolah-olah ia membaca Al-Qur’an sepuluh kali”.

    Keterangan : hadist ini Maudhu (palsu) diriwayatkan oleh imam Baihaqi dalam Syuabul Iman. Rasanya tidak perlu lagi membaca surat lain, karena dengan membaca surat Yasin seperti sudah khatam Al-Qur’an 10 kali.

    Begitulah yang terjadi pada masyarakat kita sekarang ini, beribadah tetapi sia-sia, karena menggunakan dalil yang lemah atau palsu sehingga tidak menimbulkan manfaat sedikitpun untuk dirinya.

    3. RUWAHAN

    Ruwahan berasal dari ajaran agama hindu yang percaya dengan roh-roh. Setelah Islam masuk maka nenek moyang melakukan upacara untuk menyambut roh pendahulunya karena memasuki bulan ramadhan roh tersebut akan mengunjungi anak cucunya.

    Upacara ruwahan ini dilakukan dengan mengundang orang banyak untuk mengikuti yasinan bersama, dan mendokan bersama kepada arwah yang telah meninggal tersebut.

    Ruwahan dalam pandangan hadist

    Hadist pertama

    “ ada enam perkara, orang yang aku (kata Nabi S.A.W) laknat dan Allah juga melaknatnya, padahal setiap permohonan Nabi itu diperkenankan :

    1. orang yang menambahi kitab Allah
    2. orang yang mendustakan ketentuan Allah
    3. orang yang mengalah kepada pemerintah yang sombong lagi kejam.
    4. orang yang menghalalkan larangan Allah
    5. orang yang menghalalkan dari keturunanku yang Allah haramkan.
    6. orang yang meninggalkan sunnahku”
    hadist kedua,.

    Jauhilah oleh kalian setiap perkara yang baru (dalam agama), karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.

    Dari hadist tersebut dapat disimpulkan

    • Orang yang melaksanakan ruwahan tidak diterima amal dan sedeqahnya karena menyalahi perintah Allah dan Rasul, apalagi jika agar disenangi orang banyak sehingga menjadikan nya riya.
    • Orang yang melaksanakan ruwahan mendapat laknat dari Allah
    • Orang yang mengajak dan diajak sama-sama memikul dosanya.
    • Orang yang melakukan ruwahan akan dimasukan kedalam neraka..

    4. TAWASSUL

    Tawasul menurut ulama adalah perantara antara hubungan manusia dengan Allah S.W.T

    Namun tawassul yang dilakukan pada zaman sekarang ini sudah mengalami pergeseran karena seringkali kita lihat bahwa banyak orang bertawassul dengan benda yang dianggap keramat, kuburan, dan sebagainya.

    Dalam surat Al-Hajj ayat 73

    ”Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah”

    Jadi meminta doa kepada orang yang telah mati ( walaupun itu adalah seorang Syekh atau ulama ) maka perbuatan itu adalah sia-sia, karena orang yang mati itupun tidak mampu untuk menolong dirinya sendiri. Begitu juga menggunakan makam orang-orang shaleh sebagai perantara dalam berdoa juga merupakan perbuatan yang sia-sia, bisa menjadi Syirik.

    Dalam surat Ar-Rad ayat 14

    “Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya[769]. Dan doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka”.

    Doa yang dibolehkan hanya ditujukan kepada Allah. Bahkan kita diwajibkan untuk selalu berdoa kepada Allah sebagai salah satu bentuk pelaksanaan ibadah kepada Allah. Apabila kita ingin bertawassul menjadikan perantara dalam berdoa maka ini pun hanya boleh dilakukan kepada orang yang masih hidup seperti orang tua, anak yatim, ulama dan orang-orang shaleh lainnya yang mempunyai keutamaan dalam hal agamanya. Tapi kita tidak dibolehkan menjadikan orang-orang kafir sebagai perantara dalam berdoa.

    Dalam sebuah hadits

    Ada seorang laki-laki masuk ke mesjid, sementara Nabi S.A.W sedang berkhutbah. Lalu laki-laki itu berkata, ya Rasulullah, harta kekayaaan telah hancur (akibat kemarau panjang), segala usaha telah terputus, maka mohonkanlah kepada Allah agar kita ditolong (diturunkan hujan)) kemudian Nabi SAW berdoa menadahkan tangannya dan tidak lama kemudian turunlah hujan selama satu minggu.

    5. ISTIGHOSAH.(MEMINTA PERTOLONGAN)

    1. Meminta pertolongan kepada orang yang sudah mati adalah syirik besar sekalipun itu adalah makam Nabi Saw
    2. meminta pertolongan kepada orang masih hidup dibenarkan oleh syariat, dengan meyakini bahwa Allah yang mengabulkan.
    3. meminta pertolongan kepada makhluk selain manusia yang masih hidup sangat bertentangan dengan syariat Islam dan bisa terjerumus kedalam syirik akbar.

    Al-Qur’an surat An-Naml ayat 80

    “Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling membelakang”.

    6. TABARRUK (MENCARI BERKAH)

    Tabarruk adalah mencari berkah. Namun kita tidak dibolehkan bertabarruk dengan perantara sesuatu yang tidak mampu berbuat apa-apa.

    Contoh tabarruk yang dilarang

    a. bertabaruk dengan kubur Rasulullah Saw apalagi kuburan selain rasul atau melakukan perjalanan hanya untuk mengunjungi pemakamannya.
    b. Berdoa dimakam Rasulullah dan menyangka doa disana akan langsung dikabulkan.
    c. Bertabarruk dengan orang-orang shaleh yang telah mati
    Bertabaruk dengan cara seperti diatas dapat menjadikan haram karena telah melakukan bid’ah dalam agama, dan bisa juga menjadi musyrik karena telah mempersekutukan Allah dalam beribadah.

    Bertabarruk yang dibolehkan misalnya berzikir dan membaca Al-Qur’an agar mendapatkan keberkahan

    7. ZIARAH KUBUR

    Ziarah kubur dianjurkan oleh syariat dengan tujuan agar mengambil pelajaran dan ingat akan kematian kita sendiri dengan tidak berkata yang membuat Allah murka.

    Ziarah kubur dimaksudkan agar para peziarah mengambil pelajaran dengan mengingat mati sehingga setelah itu ia meminta ampunan dan bertobat kepada Allah atas segala dosa yang telah diperbuat sebelumnya. Namun bila berziarah kubur selain dari pada tujuan tersebut maka tidaklah dianjurkan untuk melakukannya, karena merupakan bid’ah. Apalagi kalau berziarah kubur untuk meminta doa, meminta berkah, meminta ilmu kesaktian, meminta kesembuhan dan sebagainya itu adalah termasuk kedalam syirik akbar.

    8. MAULID NABI

    Maulid Nabi Saw adalah suatu perayaan peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad Saw. Pada zaman sekarang ini sangat marak acara peringatan tersebut dilakukan di berbagai daerah. Namun sangat jauh dari makna peringatan maulid nabi Saw tersebut. Peringatan maulid nabi dilakukan dengan menghidangkan berbagai macam hidangan sehingga seringkali menimbulkan mubazir. Dan acara maulid nabi diisi dengan tarian dan musik yang tidak ada hubungan dengan syariat sediktpun.

    Jika kita ingin memperingati maulid nabi sebagai bentuk kecintaan kita kepada Rasulullah dapat dilakukan dengan cara lain yang lebih bermanfaat dan bernilai ibadah. Misal

    Mengikuti Nabi Muhammad Saw, mengerjakan sunnahnya, mengikuti perkataannya, menjalan perintahnya, dan menjauhi larangannya ( ali imran ayat 31)

    Mendahulukan apa yang disyariatkan dan diperintahkan oleh Rasulullah Saw, dari pada hawa nafsunya dan keinginan sendiri. ( surat Al Hasyr ayat 9)

    Banyak mengingat Rasulullah Saw, orang yang cinta kepada sesuatu, dia akan selalu mengingatnya ( surat Al-Ahzab ayat 56)

    Sumber ringkasan : Membongkar Kesesatan Tahlilan, Yasinan, Ruwahan, Tawassul, Istighotsah, Ziarah, Maulid Nabi Saw, Basyaruddin bin Nurdin Shalih Syuhaimin, Mujahid Press Bandung, 2008.

    Demikianlah ringkasan dari bentuk ibadah yang banyak terjadi sekarang ini namun semua itu tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah Saw, bahkan Rasulullah Saw sendiri mengingatkan kepada kita bahwa semua yang tidak berasal dari beliau adalah bid’ah. Sedangkan bid’ah adalah sesat dan kesesatan ada dalam neraka.. semoga kita terlindung dari segala perbuatan bid’ah tersebut.

    Agama adalah dalil, jangan mengingkari setiap perkataan yang didasarkan pada dalil yang berasal dari Rasulullah

Leave a Reply