Loading
MATI ….. Rugi … Su’ul Khatimah …. krn diLALAIkan oleh DUNIA ……………………………………………. …………………….. jangan SYIRIK … jangan MURTAD tanpa sadar … …………….. jangan MUNAFIK … jangan FASIK … jangan DOSA BESAR ……………………………………… Manusia tenggelam dalam seribu satu kesenangan dunia, sementara ia lalai mempersiapkan diri menyambut akhiratnya. Berbeda dengan para malaikat yang senantiasa patuh dan mengerjakan perintah Tuhannya. Duhai, tidakkah manusia sadar. Seandainya dia tahu apa isi neraka saat ini juga pasti dia akan menangis, menangis dan menangis. SubhanAllah, adakah orang yang tidak merasa takut dari neraka. Sebuah tempat penuh siksa. Sebuah negeri kengerian dan jeritan manusia-manusia durhaka. Neraka ada di hadapan kita, dengan apakah kita akan membentengi diri darinya ? Apakah dengan menumpuk kesalahan dan dosa, hari demi hari, malam demi malam, sehingga membuat hati semakin menjadi hitam legam ? Apakah kita tidak ingat ketika itu kita berbuat dosa, lalu sesudahnya kita melakukannya, kemudian sesudahnya kita melakukannya ? Sampai kapan engkau jera ? …………………………………. Sebab-sebab su’ul khatimah | EP Artikel-Edy Gojira

MATI ….. Rugi … Su’ul Khatimah …. krn diLALAIkan oleh DUNIA ……………………………………………. …………………….. jangan SYIRIK … jangan MURTAD tanpa sadar … …………….. jangan MUNAFIK … jangan FASIK … jangan DOSA BESAR ……………………………………… Manusia tenggelam dalam seribu satu kesenangan dunia, sementara ia lalai mempersiapkan diri menyambut akhiratnya. Berbeda dengan para malaikat yang senantiasa patuh dan mengerjakan perintah Tuhannya. Duhai, tidakkah manusia sadar. Seandainya dia tahu apa isi neraka saat ini juga pasti dia akan menangis, menangis dan menangis. SubhanAllah, adakah orang yang tidak merasa takut dari neraka. Sebuah tempat penuh siksa. Sebuah negeri kengerian dan jeritan manusia-manusia durhaka. Neraka ada di hadapan kita, dengan apakah kita akan membentengi diri darinya ? Apakah dengan menumpuk kesalahan dan dosa, hari demi hari, malam demi malam, sehingga membuat hati semakin menjadi hitam legam ? Apakah kita tidak ingat ketika itu kita berbuat dosa, lalu sesudahnya kita melakukannya, kemudian sesudahnya kita melakukannya ? Sampai kapan engkau jera ? …………………………………. Sebab-sebab su’ul khatimah

MATI ….. Rugi … Su’ul Khatimah …. krn diLALAIkan oleh DUNIA
……………………..……………………..
…………………….. jangan SYIRIK … jangan MURTAD tanpa sadar …
…………….. jangan MUNAFIK … jangan FASIK … jangan DOSA BESAR
……………………..……………….
Manusia tenggelam dalam seribu satu kesenangan dunia, sementara ia lalai mempersiapkan diri menyambut akhiratnya. Berbeda dengan para malaikat yang senantiasa patuh dan mengerjakan perintah Tuhannya. Duhai, tidakkah manusia sadar. Seandainya dia tahu apa isi neraka saat ini juga pasti dia akan menangis, menangis dan menangis. SubhanAllah, adakah orang yang tidak merasa takut dari neraka. Sebuah tempat penuh siksa. Sebuah negeri kengerian dan jeritan manusia-manusia durhaka. Neraka ada di hadapan kita, dengan apakah kita akan membentengi diri darinya ? Apakah dengan menumpuk kesalahan dan dosa, hari demi hari, malam demi malam, sehingga membuat hati semakin menjadi hitam legam ? Apakah kita tidak ingat ketika itu kita berbuat dosa, lalu sesudahnya kita melakukannya, kemudian sesudahnya kita melakukannya ? Sampai kapan engkau jera ?
……………………..…………..
Sebab-sebab su’ul khatimah
……………………..………………
Saudaraku seiman mudah -mudahan Allah memberikan taufik kepada Anda- ketahuilah bahwa su’ul khatimah tidak akan terjadi pada diri orang yang shalih secara lahir dan batin di hadapan Allah. Terhadap orang-orang yang jujur dalam ucapan dan perbuatannya, tidak pernah terdengar cerita bahwa mereka su’ul khotimah. Su’ul khotimah hanya terjadi pada orang yang rusak batinnya, rusak keyakinannya, serta rusak amalan lahiriahnya; yakni terhadap orang-orang yang nekat melakukan dosa-dosa besar dan berani melakukan perbuatan-perbuatan maksiat. Kemungkinan semua dosa itu demikian mendominasi dirinya sehingga ia meninggal saat melakukannya, sebelum sempat bertaubat dengan sungguh-sungguh.

Perlu diketahui bahwa su’ul khotimah memiliki berbagai sebab yang banyak jumlahnya. Di antaranya yang terpokok adalah sebagai berikut :

• Berbuat syirik kepada Allah ‘azza wa jalla. Pada hakikatnya syirik adalah ketergantungan hati kepada selain Allah dalam bentuk rasa cinta, rasa takut, pengharapan, do’a, tawakal, inabah (taubat) dan lain-lain.
• Berbuat bid’ah dalam melaksanakan agama. Bid’ah adalah menciptakan hal baru yang tidak ada tuntunannya dari Allah dan Rasul-Nya. Penganut bid’ah tidak akan mendapat taufik untuk memperoleh husnul khatimah, terutama penganut bid’ah yang sudah mendapatkan peringatan dan nasehat atas kebid’ahannya. Semoga Allah memelihara diri kita dari kehinaan itu.
• Terus menerus berbuat maksiat dengan menganggap remeh dan sepele perbuatan-perbuatan maksiat tersebut, terutama dosa-dosa besar. Pelakunya akan mendapatkan kehinaan di saat mati, disamping setan pun semakin memperhina dirinya. Dua kehinaan akan ia dapatkan sekaligus dan ditambah lemahnya iman, akhirnya ia mengalami su’ul khotimah.
• Melecehkan agama dan ahli agama dari kalangan ulama, da’i, dan orang-orang shalih serta ringan tangan dan lidah dalam mencaci dan menyakiti mereka.
• Lalai terhadap Allah dan selalu merasa aman dari siksa Allah. Allah berfirman yang artinya, “Apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga). Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi” (QS. Al A’raaf [7] : 99)
• Berbuat zalim. Kezaliman memang ladang kenikmatan namun berakibat menakutkan. Orang-orang yang zalim adalah orang-orang yang paling layak meninggal dalam keadaan su’ul khotimah. Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim” (QS. Al An’aam [6] : 44)
• Berteman dengan orang-orang jahat. Allah berfirman yang artinya, “(Ingatlah) hari ketika orang yang zalim itu menggigit dua tangannya, seraya berkata, “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan yang lurus bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku dulu tidak menjadikan si fulan sebagai teman akrabku” (QS. Al Furqaan [25] : 27-28)
• Bersikap ujub. Sikap ujub pada hakikatnya adalah sikap seseorang yang merasa bangga dengan amal perbuatannya sendiri serta menganggap rendah perbuatan orang lain, bahkan bersikap sombong di hadapan mereka. Ini adalah penyakit yang dikhawatirkan menimpa orang-orang shalih sehingga menggugurkan amal shalih mereka dan menjerumuskan mereka ke dalam su’ul khotimah.
Demikianlah beberapa hal yang bisa menyebabkan su’ul khotimah. Kesemuanya adalah biang dari segala keburukan, bahkan akar dari semua kejahatan. Setiap orang yang berakal hendaknya mewaspadai dan menghindarinya, demi menghindari su’ul khotimah.
……………………..…………………
Tanda-tanda husnul khotimah
……………………..………………….

Tanda Husnul Khatimah yang Dirasakan Oleh yang Sedang Meninggal

Pastinya setiap kita berharap husnul khatimah. Namun itu bukanlah hal yang mudah. Oleh sebab itulah, seorang hamba Allah yang shalih sangat merisaukannya. Mereka melakukan amal shalih tanpa putus, merendahkan diri kepada Allah agar Allah memberikan kekuatan untuk tetap istiqamah sampai meninggal. Mereka berusaha merealisasikan wasiat Allah Azza wa Jalla,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan janganlah kalian mati melainkan dalam keadaan muslim (berserah diri)”. (QS. Ali Imran: 102)

Husnul khatimah memiliki banyak tanda-tandanya. Sebagiannya bisa diketahui oleh orang lain yang ada disekitarnya (walaupun tidak bisa dijadikan sebagai suatu kepastian). Dan sebagian yang lain, hanya bisa diketahui dan dirasakan oleh orang yang menghadapi kematian tersebut.

Tanda husnul khatimah yang diketahui dan dirasakan oleh yang orang yang akan meninggal dunia adalah bisyarah (kabar gembira) mendapat ridha Allah dan kemuliaan dari-Nya saat kematian tiba. Hal sebagaimana yang Allah ‘Azza wa Jalla firmankan,

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.” (QS. Al-Fushilat: 30)

Dan bisyarah ini bagi orang-orang mukmin ketika menghadapi kematian, ketika berada di kuburnya, dan saat dibangkitkan dari kubur-kubur mereka pada hari kiamat. (Dinukil dari Khalid Bin Abdurrahman al-Syayi’ dalam makalahnya, “‘Alamaat wa Asbab husnil Khatimah wa Su’il Khatimah”.)

Dalil lain yang menguatkannya adalah hadits yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya,  dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ

Siapa yang suka bertemu dengan Allah, maka allah pun suka bertemu dengannya. Sebaliknya, siapa yang benci bertemu Allah, maka Allah juga benci bertemu dengannya.

Lalau Aisyah bertanya, “Wahai Nabi Allah, Apa maksud benci kematian itu, padahal kami semua benci kematian?” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,

لَيْسَ كَذَلِكِ وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا بُشِّرَ بِرَحْمَةِ اللَّهِ وَرِضْوَانِهِ وَجَنَّتِهِ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ فَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَإِنَّ الْكَافِرَ إِذَا بُشِّرَ بِعَذَابِ اللَّهِ وَسَخَطِهِ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ وَكَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ

Bukan seperti itu (maksudnya). Akan tetapi, seorang mukmin, apabila diberi kabar gembira tentang rahmat dan ridha Allah serta janah-Nya, maka ia akan suka bertemu Allah. Dan sesungguhnya orang kafir, apabila diberi kabar tentang azab Allah dan kemurkaan-Nya, maka ia akan benci untuk bertemu Allah, dan Allah-pun membenci bertemu dengannya.

Imam Abu ‘Ubaid Al-Qayim bin Salam rahimahullaah menjelaskan makna hadits ini, “Menurutku maknanya bukan membenci kematian dan kedahsyatannya, karena tak seorangpun bisa menghindarinya. Tetapi yang dicela dari semua itu adalah mengutamakan dunia dan cenderung kepadanya serta membenci untuk kembali kepada Allah dan negeri akhirat.” Beliau rahimahullaah mendasarkan penjelasannya tersebut pada firman Allah Ta’ala yang mencela suatu kaum karena mencintai kehidupan dunia.

إِنَّ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا وَالَّذِينَ هُمْ عَنْ آَيَاتِنَا غَافِلُونَ  أُولَئِكَ مَأْوَاهُمُ النَّارُ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami. Mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Yunus: 7-8)

Al-Imam al-Khatthabi rahimahullaah juga menjelaskan mengenai maksud hadits di atas, “Maksud dari kecintaan hamba untuk bertemu Allah, yaitu ia lebih mengutamakan akhirat daripada dunia. Karenanya, ia tidak senang tinggal terus-menerus di dunia, bahkan siap meninggalkannya. Sedangkan makna kebencian adalah sebaliknya”.

Orang yang suka bertemu dengan Allah: Ia lebih mengutamakan akhirat daripada dunia. Karenanya, ia tidak senang tinggal terus-menerus di dunia, bahkan siap meninggalkannya. Sedangkan makna kebencian adalah sebaliknya

Imam Nawawi rahimahullaah berkata,”Secara syari’at, kecintaan dan kebencian yang diperhitungkan adalah saat dicabutnya nyawa yang saat itu taubat tidak lagi diterima. Maka pada saat itu, setiap orang akan diberi kabar tentang tempat kembalinya dan apa yang telah disediakan untuknya, dan akan disingkapkan semua itu kepadanya. Karenanya, Ahlus Sa’adah (orang-orang yang berbahagia) mencintai kematian dan suka bertemu dengan Allah serta berpindah kepada apa yang dijanjikan untuk mereka. Dan Allah-pun suka bertemu dengan mereka, maknanya: akan memberikan balasan yang banyak dan kemuliaan. (Sebaliknya) orang-orang yang menderita (celaka) membenci bertemu dengan Allah karena mengetahui tempat buruk yang akan ditinggalinya. Sehingga Allah juga benci bertemu dengan mereka, maknanya: menjauhkan mereka dari rahmat dan kemuliaan-Nya . . “ (Disarikan dari Syarah Shahih Muslim)

wallahu a’lam

Views All Time
Views All Time
536
Views Today
Views Today
2
About Edy Gojira 722 Articles
sampaikanlah .... kebenaran ayat-ayat Allah

4 Comments on MATI ….. Rugi … Su’ul Khatimah …. krn diLALAIkan oleh DUNIA ……………………………………………. …………………….. jangan SYIRIK … jangan MURTAD tanpa sadar … …………….. jangan MUNAFIK … jangan FASIK … jangan DOSA BESAR ……………………………………… Manusia tenggelam dalam seribu satu kesenangan dunia, sementara ia lalai mempersiapkan diri menyambut akhiratnya. Berbeda dengan para malaikat yang senantiasa patuh dan mengerjakan perintah Tuhannya. Duhai, tidakkah manusia sadar. Seandainya dia tahu apa isi neraka saat ini juga pasti dia akan menangis, menangis dan menangis. SubhanAllah, adakah orang yang tidak merasa takut dari neraka. Sebuah tempat penuh siksa. Sebuah negeri kengerian dan jeritan manusia-manusia durhaka. Neraka ada di hadapan kita, dengan apakah kita akan membentengi diri darinya ? Apakah dengan menumpuk kesalahan dan dosa, hari demi hari, malam demi malam, sehingga membuat hati semakin menjadi hitam legam ? Apakah kita tidak ingat ketika itu kita berbuat dosa, lalu sesudahnya kita melakukannya, kemudian sesudahnya kita melakukannya ? Sampai kapan engkau jera ? …………………………………. Sebab-sebab su’ul khatimah

  1. Iblis lalu mengatakan Teman iblis di neraka nanti ada 10 Golongan , Yaitu :
    1 . ) Haakimun Zaa’kir ( hakim yang curang )
    Artinya Seorang Hakim yang tidak adil Dalam menegakkan Hukum . Contoh : Hakim Yang Menerima Suap. Dll.
    2 . ) Ghoniyyun Mutakabbir ( Orang Kaya yang Sombong )
    Orang Yang Banyak Harta tapi tak Pernah Sedekah , dan Mengaku Bahwa Kekayaannya Adalah Usaha dari dirinya sendiri , tanpa Mengingat Allah SWT.
    3 . ) Taajirun Kha’in ( Pedagang yang berkhianat )
    Yaitu pedagang yang curang , dan suka menipu Pembeli
    4 . ) Syaaribu Al-khamr (Orang Yang Meminum khamar)
    Adalah Suka meminum Khamr ( minuman yang memabukkan ) . Seperti : bir , wine , arak , dll.
    5 . ) Al-Fattaan (Tukang Fitnah)
    Seprti Mengunggkap Aib seseorang yang tidak disertai Bukti yang jelas , terus seprti Ghibah & Gosip .
    6 . ) Ar-Riya` ( Suka Memamerkan Diri )
    Sifat ini sering sekali muncul pada diri seseorang ( termasuk Saya ) exclaim . Seperti Menunjukkan Kehebatan , Kelebihan , Kekayaan , Kepandaian , dll . Dengan Niat ingin Dipuji seseorang .
    7 . ) Aakilu Maal Al-yatiim (Orang Yang Memakan Harta Anak Yatim)
    Mereka memanfaatkan harta anak yatim atau sumbangan untuk anak yatim demi kepentingan pribadi atau kelompoknya. Lihat di QS al-Ma’un [107]: 1-7.
    8 . ) Al-Mutahaawinu Bi Al-Shalah (Orang Yang Melalaikan Sholat)
    Yaitu Orang yang meringankan sholat . Seperti Mengundur-ngundur Waktu Sholat.
    9 . ) Maani’u Az-zakaah (Orang Yang Enggan Untuk zakat)
    Kenapa Zakat Koq dirasa berat question . Satu pertanyaan = Ada gak orang suka bayar Zakat Terus dia kemiskinan ? exclaim .
    10 . ) Man Yuthiilu Al-amal (Panjang angan-angan)
    Enggan berusaha , tapi suka mengandai-andai suatu hal , padahal dia tak pernah melakukan hal itu.

  2. Yang dimaksud dengan ahli ilmu (orang alim) disini adalah orang yang mempunyai pemahaman agama dengan baik atau mumpuni, dan pengetahunya itu dipraktikkan dalam sikap, prilakunya serta ibadahnya sehari-hari. Sedang yang dimaksud dengan ahli ibadah (orang yang banyak ibadahnya) adalah orang yang kuat dan banyak ibadahnya, namun ibadah yang ia lakukan tidak didasari dengan ilmu syari’at. Ia melakukan ibadah dengan mengikuti perasaan dan naluri saja, atau hanya ikut-ikutan orang-orang awam yang ada di sekitarnya.

  3. bahaya RIYA’ …. = penyebab SYUHADA, ILMUWAN, DERMAWAN …. diLEMPAR ke NERAKA
    …………………………………….
    Mengingat pentingnya ikhlas dalam bermal, maka Allah SWT mengecam perilaku riya. Di samping itu, Allah mengingatkan orang-orang mukmin akan kesia-siaan suatu amal jika dilakukan karena bermaksud mencari kedudukan atau pujian di sisi manusia (QS 2:264-265; 4:38, 142; 8:47; 107:5-7).

  4. bahaya RIYA’ …. = penyebab SYUHADA, ILMUWAN, DERMAWAN …. diLEMPAR ke NERAKA
    …………………………………….
    Mengingat pentingnya ikhlas dalam bermal, maka Allah SWT mengecam perilaku riya. Di samping itu, Allah mengingatkan orang-orang mukmin akan kesia-siaan suatu amal jika dilakukan karena bermaksud mencari kedudukan atau pujian di sisi manusia (QS 2:264-265; 4:38, 142; 8:47; 107:5-7).

    Selain ayat-ayat Quran di atas, banyak hadits yang mengingatkan kita akan bahaya riya.

    Dalam sebuah hadits shahih diceritakan tentang tiga golongan manusia yang pertama kali dihisab Allah, yaitu syuhada, orang berilmu, dan para dermawan. Sesungguhnya orang yang pertama diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid. Dia didatagkan ke pengadilan da diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmat yang telah diterimanya, maka dia pun mengakuinya.

    Allah bertanya, “Apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu?” Dia menjawab, “Aku berperang karena Engkau hingga mati syahid.” Allah berfirman, “Engkau dusta. Engkau berperang supaya dikatakan, ‘Dia adalah orang yang gagah berani’, dan memang begitulah yang dikatakan orang (tentang dirimu).”Kemudian Allah memerintahkan agar dia diseret dengan muka tertelungkup lalu dilemparkan ke dalam neraka.

    Berikutnya (yang diadili) adalah seorang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al Quran. Dia didatangka ke pengadilan lalu diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmat Allah yang telah diterimanya, maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya, “Apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu?” Dia menjawab, “Aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca Al Quran karena-Mu.”

    Allah berfirman, “Engkau dusta. Engkau mempelajari ilmu agar dikatakan, ‘Dia adalah orang yang berilmu’, da begitulah yang dikatakan orang (tentang dirimu).” Kemudian Allah memeritahkan agar dia diseret dengan muka tertelungkup lalu dilemparkan ke dalam neraka.

    Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberi kelapangan hidup oleh Allah dan juga diberi-Nya berbagai macam harta. Lalu dia didatangkan ke pengadilan dan diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmat yang telah diterimanya, maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya, “Apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu?” Dia menjawab, “Aku tidak meninggalkan satu jalan pun yang Engkau suka agar dinafkahkan harta, melainkan aku pun menafkahkannya karena-Mu.” Allah berfirman, “Engkau dusta. Engkau melakukan hal itu agar dikatakan, ‘Dia seorang pemurah’, dan memang begitulah yag dikatakan orang (tentang dirimu).” Kemudian Allah memerintahkan agar dia diseret dengan wajah tertelungkup lalu dilemparkan ke dalam neraka (H.R Muslim, Nasa’i, Tirmidzi, dan Ibnu Hiban).

Leave a Reply