Loading
dengan UANG ….. NERAKA bisa diBELI ….. SURGA bisa diraih !!!! ………………………………………………… ………………. harta/uang yg banyak = UJIAN terberat bagi MANUSIA .. krn BANYAK sekali menyebabkan …. manusia diLEMPAR ke NERAKA ……………….. bisa membeli DOSA dg MUDAH … dg uang yg BANYAK | EP Artikel-Edy Gojira

dengan UANG ….. NERAKA bisa diBELI ….. SURGA bisa diraih !!!! ………………………………………………… ………………. harta/uang yg banyak = UJIAN terberat bagi MANUSIA .. krn BANYAK sekali menyebabkan …. manusia diLEMPAR ke NERAKA ……………….. bisa membeli DOSA dg MUDAH … dg uang yg BANYAK

dengan UANG ….. NERAKA bisa diBELI ….. SURGA bisa diraih !!!!
……………………..……………………..…..
………………. harta/uang yg banyak = UJIAN terberat bagi MANUSIA .. krn BANYAK sekali menyebabkan …. manusia diLEMPAR ke NERAKA
……………….. bisa membeli DOSA dg MUDAH … dg uang yg BANYAK

Kebanyakan manusia menilai dengan kebodohannya bahwa kebahagiaan dan ketenangan hidup diraih dengan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dan menggapai kedudukan duniawi setinggi-tingginya, sebagai akibat dari kuatnya dominasi hawa nafsu dan sifat materialistis dalam diri mereka. Allah Azza wa Jallaberfirman:

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

Mereka hanya mengetahui yang lahir (nampak) dari kehidupan dunia; sedangkan tentang (kehidupan) akhirat mereka lalai. [ar-Rum/30:7].

Artinya, mereka hanya memahami dan mengutamakan perhiasan duniawi yang tampak di mata mereka, sementara mereka melalaikan balasan kebaikan yang kekal abadi di akhirat [1]

Oleh karena itu, mereka berusaha sekuat tenaga dan berlomba-lomba mengumpulkan kekayaan duniawi, tanpa mengenal lelah dan waktu. Sifat tamak ini, paling tidak akan menyeret mereka kepada dua kerusakan dan keburukan besar:

1. Cinta kepada dunia/harta yang berlebihan.
2. Ambisi mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya tanpa peduli halal atau haram.

Dua kerusakan besar ini sudah cukup menjadi awal malapetaka besar bagi seorang hamba dan pada gilirannya akan membawa bencana-bencana besar lainnya, jika hamba dia tidak menyadari bahaya ini dan bertobat kepada Allah.

Renungkanlah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:

وَالله ِ لاَ الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ, وَلَكِنْ أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ, فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُو وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ

Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang aku takutkan (akan merusak agama) kalian, akan tetapi yang aku takutkan bagi kalian adalah jika (perhiasan) dunia dibentangkan (dijadikan berlimpah) bagi kalian sebagaimana (perhiasan) dunia dibentangkan bagi umat (terdahulu) sebelum kalian, maka kalian pun berlomba-lomba mengejar dunia sebagaimana mereka berlomba-lomba mengejarnya, sehingga (akibatnya) dunia (harta) itu membinasakan kalian sebagaimana dunia membinasakan mereka [2]

Arti sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam “… sehingga (akibatnya) dunia (harta) itu membinasakan kalian”: dunia menjerumuskan kalian ke dalam (jurang) kebinasaan, disebabkan persaingan yang tidak sehat untuk mendapatkannya, kecintaan yang berlebihan terhadapnya serta kesibukan dalam mengejarnya sehingga melalaikan dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta’aladan balasan di akhirat [3].

Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً, وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ

Sesungguhnya pada setiap umat (kaum) ada fitnah (yang merusak/menyesatkan mereka) dan fitnah (pada) umatku adalah harta.

Maksudnya, menyibukkan diri dengan harta secara berlebihan adalah fitnah (yang merusak agama seseorang) karena harta dapat melalaikan pikiran manusia dari melaksanakan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan membuatnya lupa kepada akhirat, sebagaimana firman-Nya:

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu merupakan fitnah (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. [at-Taghabun/64:15][4].

Dalam dua hadits di atas terdapat nasehat berharga bagi orang yang dibukakan baginya pintu-pintu harta, hendaknya dia mewaspadai bahaya dan fitnah harta, dengan tidak berlebihan dalam mencintainya dan terlalu berambisi dalam mengejarnya [5].

Maka mungkinkah seseorang akan merasakan ketenangan dan kebahagiaan dalam hidupnya kalau sifat yang merupakan sumber kebinasaan dan bencana ini selalu ada pada dirinya?. Bahkan tidak berlebihan jika dikatakan bahwa malapetaka dan bencana yang menimpa orang yang memiliki sifat ini akan terus bertambah besar seiring dengan semakin rakusnya dia mengejar harta benda duniawi dan banyaknya dia mengkonsumsi harta yang haram. Hal ini dikarenakan secara tabiat, nafsu manusia tidak akan pernah merasa puas dan cukup dengan harta dan kemewahan dunia yang dimilikinya, bagaimanapun berlimpahnya [6], kecuali orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan hal ini dalam sabda beliau: “Seandainya seorang manusia memiliki dua lembah (yang penuh berisi) harta/emas, maka dia pasti akan menginginkan lembah (harta) yang ketiga”[7].

Sifat rakus inilah yang akan terus memacunya untuk mengejar harta dan mengumpulkannya siang dan malam, dengan mengorbankan apapun untuk tujuan tersebut dan tanpa memperdulikan cara-cara yang halal atau haram. Sehingga tenaga dan pikirannya akan terus terkuras untuk mengejar ambisi tersebut, dan ini merupakan kerusakan sekaligus siksaan besar bagi dirinya di dunia, sebelum siksaan yang lebih besar di akhirat nanti.

Imam Ibnul Qayyim berkata:”Orang yang mencintai dunia/harta (secara berlebihan) tidak akan lepas dari tiga (kerusakan dan penderitaan): Kekalutan (pikiran) yang tidak pernah hilang, keletihan yang berkepanjangan dan penyesalan yang tiada berakhir [8].

Dalam hal ini, seorang Ulama Salaf berkata: “Barangsiapa yang mencintai dunia/harta (secara berlebihan), maka hendaknya dia mempersiapkan dirinya untuk menanggung berbagai macam penderitaan”[9].

berbabagai sumber

[1]. Lihat Tafsir Ibnu Katsir 3/560 dan Taisir karimir Rahman halm. 636.
[2]. HSR al-Bukhari no.2988 dan Muslim no.2961.
[3]. Lihat catatan kaki Shahihul Bukhari 3/1152.
[4]. Lihat Faidhul Qadir 2/507.
[5]. Nasehat Imam Ibnu Baththal yang dinukil dalam Fathul Bari 11/245.
[6]. Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam Ighatsatul Lahfan (hlm. 84 – Mawridul AmanI).
[7]. HR. Al-Bukhari no 6075 dan Muslim no.116.
[8]. Ighatsatul Lahfan (hlm. 83-84, Mawaridul Aman).
[9]. Dinukil oleh Imam Ibnul Qayyim dalam Ighatsatul Lahfan (hlm. 83, Mawaridul Aman).

Views All Time
Views All Time
611
Views Today
Views Today
1
About Edy Gojira 722 Articles
sampaikanlah .... kebenaran ayat-ayat Allah

2 Comments on dengan UANG ….. NERAKA bisa diBELI ….. SURGA bisa diraih !!!! ………………………………………………… ………………. harta/uang yg banyak = UJIAN terberat bagi MANUSIA .. krn BANYAK sekali menyebabkan …. manusia diLEMPAR ke NERAKA ……………….. bisa membeli DOSA dg MUDAH … dg uang yg BANYAK

  1. ………. merasa diri diberi NIKMAT BANYAK …. berKACAlah .. MUNGKIN itu adalah ISTIDRAJ dari ALLAH ?????…. muhasabah diri

    Bila ada yang bertanya, “dapatkah nikmat berubah menjadi azab/ bencana?” Maka jawabannya, Iya hal itu dapat terjadi. Karena itu, marilah kita senantiasa berdoa, seperti doa yang diajarkan Rasulullah Saw sebagai berikut: “Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya nikmat, dari azab yang datang tiba-tiba, berubahnya keselamatan yang diberikan oleh-Mu dan dari semua kemurkaan-Mu. ” (HR. Muslim).

    Perhatikan firman Allah SWT berikut ini: ”Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan JIKA KAMU MENGINGKARI (NIKMAT-KU), MAKA SESUNGGUHNYA AZAB-KU SANGAT PEDIH” (QS. Ibrahim [14] : 7)

    Berikut ini beberapa penyebab yang bisa mengakibatkan nikmat berubah menjadi azab/bencana :

    1. Perbuatan maksiat dan dosa. Banyak sekali ayat-ayat al-Qur’an dan hadits Nabi saw yang menegaskan hal itu, di antaranya, firman-Nya: ”Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. ar-Rum [30]: 41). Dan perhatikan juga firman-Nya, yang lain: “ Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri….” (QS.an-Nisa’ [4]:79).

    2. Apabila kita menisbatkan nikmat tersebut kepada selain Allah SWT Sang Pemberi nikmat. Hal ini sebagai mana yang terjadi terhadap Qarun ketika ia menisbatkan nikmat kepada dirinya dan ilmunya melalui firman Allah SWT : “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.” (QS. al-Qashash [28]: 78). Kemudian Allah mengazabnya sebagaimana tewrtulis dalam firman-Nya berikut ini: “Maka Kami benamkan Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap azab Allah, dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).” (QS.al-Qashash [28]: 81).

    Kita tidak boleh menisbatkan nikmat kepada selain Allah SWT. Karena hal tersebut termasuk kekufuran dan termasuk dalam golongan orang yang kafir, sebagaimana tertulis dalam firman-Nya: “Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir. ”(QS. an-Nah [16]: 83).

    Pernahkan teman-teman dalam suatu kasus, misalnya terhindar dari suatu bahaya atau berhasil dalam melakukan sesuatu, lalu berkata, “untung tadi si fulan mencegah kita, kalau tidak kita pasti sudah… atau, ”kalau saja bukan karena si fulan menolong kita, nggak tahu deh, bagaimana keadaan kita sekarang ini” atau kata-kata lain yang kira-kira seperti itu. Kalau iya, berarti tanpa teman-teman sadari, teman-teman telah menisbatkan sesuatu kepada selain Allah, dan tidak bersukur kepada Allah. Karena Allah yang mengatur segala sesuatu, memang tampaknya, hal tersebut terjadi karena suatu sebab, tapi sebenarnya itu adalah jalan Allah menyelamatkan kita, melalui tangan hamba-Nya yang lain atau jalan/cara Allah membantu kita melalui salah seorang hamba-Nya. Jadi tidak ada istilah kebetulan, karena semuanya berada dalam pantauan dan pengaturan-Nya. Tetapi dalam hal berterima kasih terhadap sesama, itu tidak apa-apa, bahkan selayaknya kita berterima kasih kepada orang yang telah berbuat baik kepada kita dengan mengatakan kepadanya, “Jazakallahu khaira, (Semoga Allah membalas kebaikan kepadamu).” karena kita tidak termasuk hamba yang bersyukur kepada Allah, bila tidak berterima kasih terhadap sesama manusia. Sebagaimana sabda Rasulullah saw : “‘Tidaklah bersyukur kepada Allah orang yang tidak berterimakasih kepada manusia.” (Shahih al-Jami’, 7719).

    Yang harus kita lakukan, adalah, pertama-tama adalah kita harus bersyukur kepada Allah SWT dan berterima kasih pada sesama manusia yang telah membantu kita. Jangan sampai ada terbesit dalam hati kita, bahwa kita bisa selamat dari bahaya, itu karena pertolongan seseorang, karena sebenarnya, itu adalah pertolongan Allah, melalui seorang hamba-Nya.

    3. Apabila kita mempunyai sifat percaya diri yang berlebihan, atau sombong dan congkak terhadap makhluk lain karena memiliki harta yang banyak, properti, ilmu, kedudukan dan sebagainya. Dan Allah SWT tidak suka pada orang-orang yang sombong, perhatikan juga firman-Nya berikut ini: ”Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Luqman [31] :18)

    4. Apabila kita tidak memenuhi hak Allah SWT atas nikmat tersebut. Bila kita memiliki ilmu, maka kita harus mengajarkannya; jika kita memiliki harta, maka kita harus menginfakkannya /mensedekahkannya. Ilmu yang dimiliki seorang muslim bukan untuk dibanggakan di hadapan manusia karena hal itu dapat menjadi bumerang dan merugikan dirinya, seperti hadits: ”Janganlah kamu menuntut ilmu untuk saling membanggakan diri di hadapan para ulama, mendebat orang-orang bodoh, dan menyombongkan diri di depan majelis. Karena, siapa yang melakukannya, maka hendaknya ia berhati-hati dengan api neraka.” (HR Ibn Majah). Dan tentang kita harus menginfakkan rezeki/harta kita, perhatikan firman Allah SWT berikuit ini: Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: “Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada bari itu tidak ada jual beli dan persahabatan” (QS. Ibrahim [14]: 31).

    Oleh karena itu, seperti di dalam kitab ash-Shahih, dua malaikat berdoa setiap harinya dengan doa, “Ya Allah, berikanlah kepada orang yang berinfak pengganti dan berikanlah kepada orang kikir kehancuran.” (HR.al-Bukhari dan Muslim).
    Mungkin ada dari kita yang bertanya, mengapa kalau kita melihat orang-orang fasik, orang-orang yang bergelimang dosa dan maksiat, tapi hidup mereka senang, tidak terkena azab. Seakan-akan kebaikan terus menerus mengalir deras kepada mereka? Untuk menjawab pertanyaan seperti ini, perhatikan sabda Nabi Muhammad saw. Berikut ini, “Bila kamu melihat Allah memberikan kepada seorang hamba dunia dan apa yang ia sukai, padahal ia melakukan berbagai perbuatan maksiat, maka itu hanyalah Istidraj dari-Nya (HR. Ahmad dan al-Baihaqi). Istidraj adalah : mengulur, memberi terus menerus supaya bertambah lupa, tiap berbuat dosa ditambah dengan nikmat dan dilupakan untuk minta ampunan, kemudian dibinasakan.

    Seperti tertulis dalam firman-Nya di surah Al An ’aam, ayat 44 : “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu, mereka terdiam, berputus asa.” Perhatikan firman Allah SWT dalam surat Hud, ayat 102,: ”Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras.

    Jadi, nikmat bisa berubah menjadi azab dan bencana, kemenangan bisa berubah menjadi kekalahan, kegembiraan bisa berubah menjadi kesedihan apabila kita mengundang murka Allah. Oleh sebab itu, bila diberi kesehatan, kepandaian/ ilmu, kemudahan, kelapangan, maka kita harus mensyukuri dan mengamalkannya, jangan berbuat sesuatu yang mengundang murka Allah yang akan mengakibatkan nikmat yang kita peroleh berubah menjadi azab atau bencana. Perhatikan dengan seksama firman Allah SWT berikut ini : “Dan Sesungguhnya kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), Mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. As Sajdah [32] : 21).

    Dan cegahlah diri kita agar jangan sampai menjadi hamba yang di istidraj oleh Allah.

    Ya Allah, golongkan kami menjadi ahli syukur atas segala nikmat yang Engkau berikan kepada kami. Dan bimbing kami ya Allah agar kami bisa mengerjakan amal sholeh yang dapat meraih keridhaan-Mu. Ya Allah, jangan biarkan nikmat yang Engkau berikan membuat kami kufur terhadap karunia-Mu dan ampunilah kami, apabila ada dari nikmat yang Engkau berikan, telah kami gunakan untuk maksiat. Ya Allah lindungi kami dan keluarga kami dari kefasikan. Ya Allah, lindungi kami agar tidak melakukan kesalahan yang bisa mengundang murka-Mu, lindungi kami dari kesalahan yang bisa merubah nikmat yang Enagkau karuniakan menjadi azab-Mu yang pedih. Ya Allah, bimbinglah kami, agar kami bisa selalu mensyukuri nikmat-Mu, puas dengan pembagian rezeki yang Engkau atur, sabar terhadap segala ujian yang Engkau berikan, dan selalu bersandar kepada-Mu, Amin Ya Robbal Alamin.

  2. HARTA dan ANAK = UJIAN ….. UJIAN = KEBAIKAN dan KEBURUKAN
    …………………………………..
    . ……Allah MENGUJI hamba-Nya …. Untuk APA? …Al Mulk:2 ……
    …………………………………………………….
    “pintu KESENANGAN” (kebaikan) … membuat tergelincir ke NERAKA = banyak GAGALnya manusia bila diUJI “kebaikan/ kesenangan”
    …………………………………………….
    ﴾ Al Mu’minun:55 ﴿
    Apakah mereka mengira bahwa HARTA dan anak-ANAK yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa),
    أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُم بِهِۦ مِن مَّالٍ وَبَنِينَ ﴿المؤمنون:٥٥﴾
    ﴾ Al Mu’minun:56 ﴿
    Kami bersegera memberikan kebaikan-KEBAIKAN kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.
    نُسَارِعُ لَهُمْ فِى ٱلْخَيْرٰتِ ۚ بَل لَّا يَشْعُرُونَ ﴿المؤمنون:٥٦﴾
    ﴾ Al Mu’minun:57 ﴿
    Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka,
    إِنَّ ٱلَّذِينَ هُم مِّنْ خَشْيَةِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ ﴿المؤمنون:٥٧﴾
    ﴾ Al Mu’minun:58 ﴿
    Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka,
    وَٱلَّذِينَ هُم بِـَٔايٰتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ ﴿المؤمنون:٥٨﴾
    …………………………………
    < < ujian/cobaan Allah bentuknya ” KEBURUKAN” dan “KEBAIKAN/kebajikan” … Al Anbiyaa:35 >>

    bukan hanya KEJELEKAN/ kekurangan/ kemiskinan/ kesakitan/ penderitaan dst ….. saja …. “TETAPI” ….KEBAIKAN, .. kaya, banyak HARTA, SEHAT dst …. Al Anbiyaa:35

    < << ﴾ Al Anbiyaa:35 ﴿ Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan meng-UJI kamu dengan keBURUKan dan keBAIKan sebagai COBAan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. ﴾ Al Maidah:48 ﴿ Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak meng-UJI kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-LOMBA-lah berbuat keBAJIKan/ kebaikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, <<<< pertanyaan yang lebih EXTREME lagi …. Mengapa ORANG “harus” MATI …. Mati itu “menyakitkan”? … mengapa Allah TIDAK membuat manusia KEKAL …. TIDAK mati … tidak MENDERITA …. Hidup selama-lamanya … sehingga bisa MENIKMATI HIDUP selamanya? … katanya Allah Maha PENGASIH dan PENYAYANG >>>> ﴾ Al Fatihah:1 ﴿ Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah {RAHMAN/ٱلرَّحْمٰنِ} lagi Maha Penyayang {rahim/ٱلرَّحِيمِ }. ﴾ Al Fatihah:3 ﴿ Maha Pemurah {ٱلرَّحْمٰنِ} lagi Maha Penyayang {ٱلرَّحِيمِ}. >>>>

    >>> ﴾ Al Mulk:2 ﴿ Yang menjadikan MATI dan HIDUP, supaya Dia meng-UJI kamu, SIAPA di antara kamu yang —-LEBIH BAIK AMALNYA—. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun
    …………………………………………………………………………………..
    < << RUSAK AGAMA ...dan.... RAKUS pada HARTA = penyebab RUSAK dan HANCURnya UMAT ISLAM >>>>
    …………….. LHATLAH ….. BACALAH …. RASUL “TAKUT” umatnya diberi UJIAN KAYA ….”dibentangkan DUNIA” …. yg membuat BINASA Umat ISLAM
    ……………………………………………mereka diBAKAR /disterika lambung dan punggungnya dg HARTAnya .. di NERAKA… At Taubah: 34-35)
    ……………………………………..
    rasul bersabda: “Sesungguhnya setiap umat memiliki ujian, dan UJIAN umatku adalah HARTA” {HR. Tirmidzi, no. 2336; Ahmad 4/160; Ibnu Hibbân no. 3223; al-Hâkim 4/318; al-Qudhai dalam Asy-Syihâb no. 1022; dishahihkan oleh syaikh Salîm al-Hilâli dalam Silsilah al-Manahi asy-Syar’iyyah, 4/194}
    ………………………………
    “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak {= menyimpan HARTA/UANG di BANK sekarang/ present time} dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu di dalam neraka Jahannam, lalu dahi mereka, lambung dan punggung mereka dibakar dengannya, (lalu dikatakan) kepada mereka: Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri,maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan.” (Qs. At Taubah: 34-35)

    “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Ali Imran: 180)
    ………………………………..

    .. karena berapa banyak orang miskin dan fakir TIDAK mendekati kekafiran, apalagi jadi kafir. Lihatlah realita kebanyakan sahabat; mereka fakir, tapi tidak kafir. Yang benar, jika ilmu dan iman seseorang kurang, maka di sinilah seseorang terkadang mendekati kekufuran.

    … Karena sesungguhnya kaya-miskin merupakan ketentuan Allah. Dia melapangkan rizki kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Begitu juga sebaliknya, menyempitkan rizki dan membatasinya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dia sengaja membuat perbedaan itu dengan hikmah yang Dia ketahui. –
    ………………………………………………………..
    LHATLAH ….. BACALAH …. RASUL “TAKUT” umatnya diberi UJIAN KAYA ….”dibentangkan DUNIA” …. yg membuat BINASA Umat ISLAM

    Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda:“Tidaklah kefakiran yang aku takutkan atas kalian, tetapi yang aku khawatirkan pada kalian kalau dibentangkan dunia pada kalian sebagaimana dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian lalu kalian berlomba-lomba mengejarnya sebagaimana mereka lakukan lalu membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka.” (HR. al-Bukhori: 3791 dan Muslim: 2961)
    ………………………………….
    < << RUSAK AGAMA ...dan.... RAKUS pada HARTA = penyebab RUSAK dan HANCURnya UMAT ISLAM >>>>

    Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلاَ فِى غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ

    Kerusakan pada sekawanan kambing akibat dua srigala lapar yang dilepaskan padanya tidak lebih parah dibandingkan kerusakan pada agama seseorang akibat kerakusannya terhadap harta dan kemuliaan {HR. Tirmidzi, no. 2376; Ahmad 3/456; dishahîhkan syaikh Salîm al-Hilâli dalam Silsilahtul Manahi asy-Syar’iyyah, 4/195 }
    …………………………………………………
    ﴾ Al Qashash:82 ﴿
    Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Karun itu, berkata: “Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambanya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah)”.

    وَأَصْبَحَ ٱلَّذِينَ تَمَنَّوْا۟ مَكَانَهُۥ بِٱلْأَمْسِ يَقُولُونَ وَيْكَأَنَّ ٱللَّـهَ يَبْسُطُ ٱلرِّزْقَ لِمَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِۦ وَيَقْدِرُ ۖ لَوْلَآ أَن مَّنَّ ٱللَّـهُ عَلَيْنَا لَخَسَفَ بِنَا ۖ وَيْكَأَنَّهُۥ لَا يُفْلِحُ ٱلْكٰفِرُونَ ﴿القصص:٨٢﴾

    ……………………………………….
    ﴾ Ar Ra’du:26 ﴿
    Allah me-LUAS-kan rezeki dan me-NYEMPIT-kannya bagi siapa yang Dia KEHENDAKi. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).
    ………………………………………………………………………………………..

    ………..……….…. RAHMAN dan RAHIM …………… ….
    “—Ar-RAHMAN— artinya Yang memiliki rahmat, kasih sayang yang luas, karena wazan (bentuk kata) fa’lan dalam bahasa Arab menunjukkan makna luas dan penuh. Semisal dengan kata ‘Seorang lelaki ghadhbaan,’ artinya penuh kemarahan.
    >> “Ar-Rahman artinya Yang Maha Pengasih terhadap seluruh makhluk, sedangkan Ar-Rahim artinya Yang Maha Pengasih terhadap kaum mukminin.” (Tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabari, Tafsir Basmalah)

    Sementara, —AR-RAHIIM— adalah nama Allah l yang memiliki makna kata kerja dari rahmat (yakni Yang merahmati, Yang mengasihi), karena wazan fa’iil ( ٌﻞِْﻴﻌَﻓ ) bermakna faa’il (2 ٌ( ﻞِﻋﺎَﻓ pelaksana, sehingga kata tersebut menunjukkan perbuatan (merahmati, mengasihi). Oleh karena itu, paduan antara nama Ar-Rahman dan Ar-Rahim bermakna rahmat Allah l itu luas dan kasih sayang-Nya akan sampai kepada makhluk-Nya.”
    >> Ibnul Qayyim memandang bahwa Ar-Rahman menunjukkan sifat kasih sayang pada Dzat Allah l (yakni Allah l memiliki sifat kasih sayang), sedangkan Ar-Rahim menunjukkan bahwa sifat kasih sayang-Nya terkait dengan makhluk yang dikasihi-Nya.
    …………………
    —keBAIKan menurut manusia—- ….. bisa jadi = keBURUKan menurut Allah .. Al Jin:10
    …………………………………………….
    parameter BAIK dan BURUK adalah PETUNJUK Allah (Al qur’an) .. Al Jin:13
    ………………………………………………………………………..

    ﴾ Al Jin:10 ﴿Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka.

    ﴾ Al Jin:11 ﴿
    Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda.
    ﴾ Al Jin:12 ﴿
    Dan sesungguhnya kami mengetahui bahwa kami sekali-kali tidak akan dapat melepaskan diri (dari kekuasaan) Allah di muka bumi dan sekali-kali tidak (pula) dapat melepaskan diri (daripada)Nya dengan lari.
    ﴾ Al Jin:13 ﴿
    Dan sesungguhnya kami tatkala mendengar petunjuk (Al Quran), kami beriman kepadanya. Barangsiapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan.
    ﴾ Al Jin:14 ﴿
    Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus.
    ﴾ Al Jin:15 ﴿
    Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api bagi neraka Jahannam.
    ﴾ Al Jin:16 ﴿
    Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak).
    ……………………
    krn MISKIN …. bisa jadi = itu JALAN ke surga,
    krn KAYA …… bisa jadi = itu JALAN ke NERAKA (efek buruk KAYA)
    ………………………………………….
    “pintu KESENANGAN” (kebaikan) … membuat tergelincir ke NERAKA = banyak GAGALnya manusia bila diUJI “kebaikan/ kesenangan”

    ,,,,,,,,…………,,,,,,,, HARTA = FITNAH …………………………

    HARTA … yang diGUNAkan & diSIMPAN utk DIRI sendiri …. sebagai “pemBAKAR dirinya” …… di NERAKA JAHANAM

    TIDAK menunaikan kewajiban yaitu ZAKAT pada harta, maka simaklah siksa yang telah menanti anda:

    وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلاَ يُنفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللّهِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ {34} يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَـذَا مَا كَنَزْتُمْ لأَنفُسِكُمْ فَذُوقُواْ مَا كُنتُمْ تَكْنِزُونَ

    “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu di dalam neraka Jahannam, lalu dahi mereka, lambung dan punggung mereka dibakar dengannya, (lalu dikatakan) kepada mereka: Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri,maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan.” (Qs. At Taubah: 34-35)

    Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu mengisahkan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    مَنْ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً ، فَلَمْ يُؤَدِّ زَكَاتَهُ مُثِّلَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شُجَاعًا أَقْرَعَ، لَهُ زَبِيبَتَانِ، يُطَوَّقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، ثُمَّ يَأْخُذُ بِلِهْزِمَتَيْهِ – يَعْنِى شِدْقَيْهِ – ثُمَّ يَقُولُ أَنَا مَالُكَ ، أَنَا كَنْزُكَ. ثُمَّ تَلاَ ولاَ يَحْسِبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ . إلى آخر الآية متفق عليه

    “Barang siapa yang telah Allah beri harta kekayaan, lalu ia tidak menunaikan zakatnya, niscaya kelak pada hari kiamat harta kekayaannya akan diwujudkan dalam bentuk ular berkepala botak, di atas kedua matanya terdapat dua titik hitam. Kelak pada hari kiamat, ular itu akan melilit lehernya, lalu dengan rahangnya ular itu menggigit tangannya, Selanjutnya ular itu berkata kepadanya: ‘Aku adalah harta kekayaanmu, aku adalah harta timbunanmu,’

    firman Allah Ta’ala:

    وَلاَ يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللّهُ مِن فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَّهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُواْ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلِلّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاللّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

    “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Ali Imran: 180)

    كُلُّ جَسَدٍ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ. رواه الحاكم والبيهقي وصححه الألباني

    “Setiap jasad yang tumbuh dari harta haram, maka nerakalah yang lebih tepat menjadi tempatnya.” (Riwayat Al Hakim, Al Baihaqi dan dinyatakan sebagai hadits shahih oleh Al Albani)

    firman Allah.

    مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

    “Barang siapa yang beramal sholeh, baik lelaki maupun perempuan sedangkan ia beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. An Nahl: 97)

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

    لَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلاَّ أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَؤُنَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ، وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلاَّ مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ وَلَوْلاَ الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا. رواه ابن ماجة والحاكم والبيهقي وحسنه الألباني

    “Tidaklah mereka berbuat curang dalam hal takaran dan timbangan melainkan mereka akan ditimpa paceklik, biaya hidup mahal, dan perilaku jahat para penguasa. Dan tidaklah mereka enggan untuk membayar zakat harta mereka, melainkan mereka akan dihalangi dari mendapatkan air hujan dari langit, andailah bukan karena binatang ternak, niscaya mereka tidak akan diberi hujan.” (Riwayat Ibnu Majah, Al Hakim, Al Baihaqi dan dinyatakan sebagai hadits hasan oleh Al Albani)
    …………………………………………………………………..

    ﴾ Al An’am:44 ﴿
    Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.
    ﴾ Al Baqarah:126 ﴿
    Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”.
    ﴾ Ali Imran:14 ﴿
    Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).
    ﴾ Ali Imran:185 ﴿
    Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.

Leave a Reply