Loading
Sekularisme Membahayakan Islam…… dapat menggiring penganutnya pada kekufuran. ————————————————————————————- Tak ada Pemisahan Agama dan Negara dalam Islam —————————————– Sekularisme merupakan akidah yang memisahkan agama dengan kehidupan masyarakat dan negara. Pluralisme dan liberalisme lahir dari akidah sekularisme ini. Secara imani, sekularisme berbahaya dan bertentangan dengan Islam. Bahkan sekularisme dapat menggiring penganutnya pada kekufuran. —————————— sekularisme memisahkan agama dari kehidupan, sedangkan Islam mewajibkan setiap kehidupan diatur oleh ajaran Islam. Boleh jadi seorang sekular secara ritual masih menjalankan ibadah, namun ia menolak hukum Islam dalam persoalan sosial, politik dan ekonomi. Padahal Allah SWT berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya setan itu musuh nyata kalian (QS al-Baqarah [2]: 108). Imam Ibnu Katsir memaknai ayat itu dengan menyatakan, “Allah Zat Yang Mahatinggi berfirman dengan memerintahkan kepada para hamba-Nya yang beriman kepada-Nya lagi membenarkan Rasul-Nya agar mengambil semua buhul Islam dan syariahnya, mengamalkan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya seoptimal mungkin.” (Ibn Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm, I/565). ———————————– | EP Artikel-Edy Gojira

Sekularisme Membahayakan Islam…… dapat menggiring penganutnya pada kekufuran. ————————————————————————————- Tak ada Pemisahan Agama dan Negara dalam Islam —————————————– Sekularisme merupakan akidah yang memisahkan agama dengan kehidupan masyarakat dan negara. Pluralisme dan liberalisme lahir dari akidah sekularisme ini. Secara imani, sekularisme berbahaya dan bertentangan dengan Islam. Bahkan sekularisme dapat menggiring penganutnya pada kekufuran. —————————— sekularisme memisahkan agama dari kehidupan, sedangkan Islam mewajibkan setiap kehidupan diatur oleh ajaran Islam. Boleh jadi seorang sekular secara ritual masih menjalankan ibadah, namun ia menolak hukum Islam dalam persoalan sosial, politik dan ekonomi. Padahal Allah SWT berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya setan itu musuh nyata kalian (QS al-Baqarah [2]: 108). Imam Ibnu Katsir memaknai ayat itu dengan menyatakan, “Allah Zat Yang Mahatinggi berfirman dengan memerintahkan kepada para hamba-Nya yang beriman kepada-Nya lagi membenarkan Rasul-Nya agar mengambil semua buhul Islam dan syariahnya, mengamalkan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya seoptimal mungkin.” (Ibn Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm, I/565). ———————————–

Sekularisme Membahayakan Islam…… dapat menggiring penganutnya pada kekufuran.
————————–————————–————————–——-
Tak ada Pemisahan Agama dan Negara dalam Islam
————————–—————
Sekularisme merupakan akidah yang memisahkan agama dengan kehidupan masyarakat dan negara. Pluralisme dan liberalisme lahir dari akidah sekularisme ini. Secara imani, sekularisme berbahaya dan bertentangan dengan Islam. Bahkan sekularisme dapat menggiring penganutnya pada kekufuran.
——————————
sekularisme memisahkan agama dari kehidupan, sedangkan Islam mewajibkan setiap kehidupan diatur oleh ajaran Islam. Boleh jadi seorang sekular secara ritual masih menjalankan ibadah, namun ia menolak hukum Islam dalam persoalan sosial, politik dan ekonomi. Padahal Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya setan itu musuh nyata kalian (QS al-Baqarah [2]: 108).
Imam Ibnu Katsir memaknai ayat itu dengan menyatakan, “Allah Zat Yang Mahatinggi berfirman dengan memerintahkan kepada para hamba-Nya yang beriman kepada-Nya lagi membenarkan Rasul-Nya agar mengambil semua buhul Islam dan syariahnya, mengamalkan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya seoptimal mungkin.” (Ibn Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm, I/565).

———————————–
Hal ini dapat dipahami dari beberapa hal.

Pertama: sekularisme memisahkan agama dari kehidupan, sedangkan Islam mewajibkan setiap kehidupan diatur oleh ajaran Islam. Boleh jadi seorang sekular secara ritual masih menjalankan ibadah, namun ia menolak hukum Islam dalam persoalan sosial, politik dan ekonomi. Padahal Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya setan itu musuh nyata kalian (QS al-Baqarah [2]: 108).
Imam Ibnu Katsir memaknai ayat itu dengan menyatakan, “Allah Zat Yang Mahatinggi berfirman dengan memerintahkan kepada para hamba-Nya yang beriman kepada-Nya lagi membenarkan Rasul-Nya agar mengambil semua buhul Islam dan syariahnya, mengamalkan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya seoptimal mungkin.” (Ibn Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm, I/565).
Di ruang pengadilan pun, paham sekularisme hanya menjadikan Islam sebagai pelengkap dan lelucon. Misalnya, ahli suatu perkara disumpah ’Demi Allah’ dengan diletakkan di atas kepalanya mushaf al-Quran. Namun, apa yang dia sampaikan tidak berdasarkan ajaran Islam, dengan alasan, ini bukanlah negara Islam.

Kedua: hukum dalam sekularisme dibuat oleh manusia, sedangkan hukum dalam Islam digali dari al-Quran, as-Sunnah, Ijmak Sahabat, dan Qiyas Syar’i. Hukum sekular tidak digali dari Islam. Allah Zat Yang Mahatinggi melarang umat-Nya menerapkan hukum manusia dan mengancam mereka dengan siksa-Nya. Hal ini tegas sekali termaktub dalam firman-Nya:
وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ
Hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, janganlah mengikuti hawa nafsu mereka, dan berhati-hatilah terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah) maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berkehendak menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik (QS al-Maidah [5]: 49).

Ketiga: hukum dalam sekularisme dibuat oleh segelintir orang. Itu pun tidak dapat lepas dari kepentingan para pembuatnya. Hukum merupakan kompromi antarkepentingan. Muaranya, siapa kuat, dialah yang menang. Jadilah manusia sebagai serigala terhadap manusia lainnya (homo homini lupus). Keadilan pun hanya tinggal harapan. Sebaliknya, hukum Islam menjamin tercapainya keadilan karena berasal dari Zat Yang Mahaadil. Menerapkan sekularisme berarti meninggalkan hukum terbaik, yakni hukum Allah SWT, sebagaimana al-Quran menegaskan:
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? Hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS al-Maidah [5]: 50).
Sebagai contoh, pemimpin redaksi majalah Playboy Indonesia divonis bebas, padahal telah nyata-nyata memproduksi dan menyebarkan pornografi. Contoh lain, pengujian materil UU penodaan agama kaum liberal masih saja diladeni. padahal jelas-jelas tuntutannya adalah pembelaan terhadap penodaan dan penistaan Islam, yang tentu bertentangan dengan ajaran Islam. Mestinya, tuntutan seperti itu tidak diterima sehingga tidak layak disidangkan. Jangan kecewa jika kelak keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) bersifat kompromistis. Sebab, landasan hukum yang dipakainya memang sekularisme. Satu lagi, sekulerisme sering tidak konsisten, tergantung kepentingan. Mereka yang menuntut agar UU no.1/PNPS/1965 tentang penodaan agama dicabut menyatakan agama tidak boleh mencampuri urusan pribadi/privat. Pandangan ini tidak konsisten. Sebab, pada saat berbicara nikah siri dan poligami yang merupakan urusan privat justru mereka meminta tangan negara untuk turut campur melarang keduanya. Sebaliknya, Islam konsisten. Islam mengatur baik masalah pribadi maupun permasalahan publik.
————————–————————–
Negara: Bagian dari Ajaran Islam
Dalam pandangan sekularisme, negara merupakan bagian dari tatanan sosial kemasyarakatan. Agama dipandang sebagai bagian dari kebudayaan. Konsekuensinya, tidak semua hal boleh diatur oleh negara. Negara pun tidak boleh menjadikan hukum agama untuk mengatur masyarakat. Padahal realitas menunjukkan bahwa masyarakat merupakan kumpulan individu yang memiliki pemikiran, perasaan dan diatur oleh satu hukum yang sama. Negara merupakan penerap aturan/hukum tersebut di tengah masyarakat. Jadi, pilar utama dari suatu negara adalah adanya akidah dalam masyarakat sebagai tempat berpijak negara. Akidah itulah yang melahirkan pemikiran, perasaan dan aturan/hukum (syariah). Berdasarkan hal ini, negara mesti menyatu dengan akidah tersebut.
Islam merupakan agama sempurna dan paripurna. Dia telah menyempurnakan Islam, mencukupkan nikmat-Nya dan meridhai Islam sebagai agama bagi kita (QS al-Maidah [5]: 3). Allah SWT telah menetapkan berbagai hukum-Nya mulai dari shalat, zakat, haji hingga kenegaraan. Lahirlah kaidah: Al-Islâmu dîn minhu ad-dawlah (Islam adalah agama, termasuk di dalamnya negara). Banyak ayat dan hadis yang menjelaskan hal ini. Semuanya bertebaran dalam kitab-kitab yang ditulis oleh para ulama shalih.
Berkaitan dengan masalah ini, Imam al-Ghazali berkata. “Karena itu, dikatakanlah bahwa agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. Dikatakan pula bahwa agama adalah pondasi (asas) dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak punya pondasi niscaya akan roboh dan segala sesuatu yang tidak memiliki penjaga niscaya akan musnah.” (Al-Ghazali, Al-Iqtishâd fî al-I’tiqâd, hlm. 199).
Senada dengan itu, Ibnu Taymiyah menegaskan, “Jika kekuasaan terpisah dari agama atau jika agama terpisah dari kekuasaan, niscaya keadaan manusia akan rusak.” (Ibnu Taimiyah, Majmû’ al-Fatawa, XXVIII/394).

Nyatalah bahwa Islam menyatu dengan negara. Itulah yang dicontohkan oleh Baginda Nabi Muhammad saw. sejak berhijrah ke Madinah.
Negara dalam pandangan syariah Islam haruslah menerapkan Islam, termasuk dalam menjamin keberadaan agama-agama lain. Sejak zaman Rasulullah saw. hingga akhir Kekhilafahan Islam, agama-agama lain diberi kebebasan hidup. Hal ini sebagai wujud pelaksanaan ayat: tidak ada paksaan dalam agama (QS al-Baqarah [2]: 256). Agama Kristen, Yahudi, Hindu, Budha, dll diberi kebebasan hidup oleh negara. Mereka menjadi warga negara sebagai kafir dzimmi yang tidak boleh disakiti. Namun, pada saat yang sama, negara pun menjaga kesucian agama dari penodaan dan penistaan. Karenanya, negara bersikap tegas terhadap para penoda dan perusak agama. Hal ini tergambar jelas ketika para Sahabat memerangi Musailamah al-Kadzdzab yang mengaku sebagai nabi.

Ringkasnya, pada negara yang menerapkan sekularisme, kebebasan beragama bersifat semu. Buktinya, membuat menara masjid di Swiss dilarang; berjilbab di Belanda dan Prancis dilarang. Bahkan di Indonesia pun pelarangan berjilbab masih terjadi. Selain itu, kesucian agama pun tidak terpelihara. Penodaan dan penistaan terhadap Islam terus berlangsung. Berbeda dengan itu, ketika Islam diterapkan oleh negara maka kesucian agama terjaga dan kebebasan untuk beragama pun terpelihara.

berbagai sumber

Views All Time
Views All Time
234
Views Today
Views Today
1
About Edy Gojira 722 Articles
sampaikanlah .... kebenaran ayat-ayat Allah

5 Comments on Sekularisme Membahayakan Islam…… dapat menggiring penganutnya pada kekufuran. ————————————————————————————- Tak ada Pemisahan Agama dan Negara dalam Islam —————————————– Sekularisme merupakan akidah yang memisahkan agama dengan kehidupan masyarakat dan negara. Pluralisme dan liberalisme lahir dari akidah sekularisme ini. Secara imani, sekularisme berbahaya dan bertentangan dengan Islam. Bahkan sekularisme dapat menggiring penganutnya pada kekufuran. —————————— sekularisme memisahkan agama dari kehidupan, sedangkan Islam mewajibkan setiap kehidupan diatur oleh ajaran Islam. Boleh jadi seorang sekular secara ritual masih menjalankan ibadah, namun ia menolak hukum Islam dalam persoalan sosial, politik dan ekonomi. Padahal Allah SWT berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya setan itu musuh nyata kalian (QS al-Baqarah [2]: 108). Imam Ibnu Katsir memaknai ayat itu dengan menyatakan, “Allah Zat Yang Mahatinggi berfirman dengan memerintahkan kepada para hamba-Nya yang beriman kepada-Nya lagi membenarkan Rasul-Nya agar mengambil semua buhul Islam dan syariahnya, mengamalkan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya seoptimal mungkin.” (Ibn Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm, I/565). ———————————–

  1. Pertama: sekularisme memisahkan agama dari kehidupan, sedangkan Islam mewajibkan setiap kehidupan diatur oleh ajaran Islam. Boleh jadi seorang sekular secara ritual masih menjalankan ibadah, namun ia menolak hukum Islam dalam persoalan sosial, politik dan ekonomi. Padahal Allah SWT berfirman:
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
    Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya setan itu musuh nyata kalian (QS al-Baqarah [2]: 108).
    Imam Ibnu Katsir memaknai ayat itu dengan menyatakan, “Allah Zat Yang Mahatinggi berfirman dengan memerintahkan kepada para hamba-Nya yang beriman kepada-Nya lagi membenarkan Rasul-Nya agar mengambil semua buhul Islam dan syariahnya, mengamalkan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya seoptimal mungkin.” (Ibn Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm, I/565).
    Di ruang pengadilan pun, paham sekularisme hanya menjadikan Islam sebagai pelengkap dan lelucon. Misalnya, ahli suatu perkara disumpah ’Demi Allah’ dengan diletakkan di atas kepalanya mushaf al-Quran. Namun, apa yang dia sampaikan tidak berdasarkan ajaran Islam, dengan alasan, ini bukanlah negara Islam.

    Kedua: hukum dalam sekularisme dibuat oleh manusia, sedangkan hukum dalam Islam digali dari al-Quran, as-Sunnah, Ijmak Sahabat, dan Qiyas Syar’i. Hukum sekular tidak digali dari Islam. Allah Zat Yang Mahatinggi melarang umat-Nya menerapkan hukum manusia dan mengancam mereka dengan siksa-Nya. Hal ini tegas sekali termaktub dalam firman-Nya:
    وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ
    Hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, janganlah mengikuti hawa nafsu mereka, dan berhati-hatilah terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah) maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berkehendak menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik (QS al-Maidah [5]: 49).

    Ketiga: hukum dalam sekularisme dibuat oleh segelintir orang. Itu pun tidak dapat lepas dari kepentingan para pembuatnya. Hukum merupakan kompromi antarkepentingan. Muaranya, siapa kuat, dialah yang menang. Jadilah manusia sebagai serigala terhadap manusia lainnya (homo homini lupus). Keadilan pun hanya tinggal harapan. Sebaliknya, hukum Islam menjamin tercapainya keadilan karena berasal dari Zat Yang Mahaadil. Menerapkan sekularisme berarti meninggalkan hukum terbaik, yakni hukum Allah SWT, sebagaimana al-Quran menegaskan:
    أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
    Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? Hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS al-Maidah [5]: 50).
    Sebagai contoh, pemimpin redaksi majalah Playboy Indonesia divonis bebas, padahal telah nyata-nyata memproduksi dan menyebarkan pornografi. Contoh lain, pengujian materil UU penodaan agama kaum liberal masih saja diladeni. padahal jelas-jelas tuntutannya adalah pembelaan terhadap penodaan dan penistaan Islam, yang tentu bertentangan dengan ajaran Islam. Mestinya, tuntutan seperti itu tidak diterima sehingga tidak layak disidangkan. Jangan kecewa jika kelak keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) bersifat kompromistis. Sebab, landasan hukum yang dipakainya memang sekularisme. Satu lagi, sekulerisme sering tidak konsisten, tergantung kepentingan. Mereka yang menuntut agar UU no.1/PNPS/1965 tentang penodaan agama dicabut menyatakan agama tidak boleh mencampuri urusan pribadi/privat. Pandangan ini tidak konsisten. Sebab, pada saat berbicara nikah siri dan poligami yang merupakan urusan privat justru mereka meminta tangan negara untuk turut campur melarang keduanya. Sebaliknya, Islam konsisten. Islam mengatur baik masalah pribadi maupun permasalahan publik.

  2. Adapun menurut istilah syariat, definisi yang terbaik adalah yang disebutkan Ibnul Qayyim rahimahullah: “(Thaghut) adalah setiap sesuatu yang melampui batasannya, baik yang disembah (selain Allah Subhanahu wa Ta’ala), atau diikuti atau ditaati (jika dia ridha diperlakukan demikian).”
    Definisi lain, thaghut adalah segala sesuatu yang diibadahi selain Allah (dalam keadaan dia rela). Menurut Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah di dalam kajiannya mengenai Tauhid bahwa Thaghut itu mencakup banyak hal. Namun pimpinannya ada lima, yaitu:
    1. Iblis atau syetan
    2. Penguasa yang zalim
    3. Orang yang memutuskan perkara dengan aturan selain apa yang telah Allah سبحانه و تعالى turunkan
    4. Orang yang mengaku mengetahui perkara yang ghaib selain Allah سبحانه و تعالى
    5. Orang yang diibadati selain Allah dan dia rela dengan peribadatan itu.
    Orang tidak dikatakan beriman kepada Allah sehingga dia kufur (ingkar) kepada thaghut, sebab kufur kepada thaghut adalah separuh dari kalimat Tauhid لآ إله إلا الله. Dan ingkar kepada thaghut harus mencakup segala jenis thaghut, bukan sebagian saja. Bila seorang muslim beriman kepada Allah سبحانه و تعالى seraya mengingkari segala bentuk thaghut yang ada, niscaya sempurnalah imannya. Ia disebut seorang muwahhid (ahli Tauhid) sejati.

    مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُوَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُمِنْ دُونِ اللَّهِ حَرُمَ مَالُهُوَدَمُهُ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ
    Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda: “Barangsiapa mengucapkan Laa ilaha illa Allah dan ingkar terhadap penghambaan kepada selain Allah, maka terpeliharalah hartanya, darahnya dan hisabnya (perhitungan amalnya) terserah Allah.” (HR. Muslim 1/119)

  3. Al Qur’an MELARANG kaum MUKMIN …. menjadikan orang KAFIR sebagai AULIYA {SEBAGAI penolong, PENDUKUNG, teman dekat,kePERCAYAan, PEMIMPIN}
    …………………………………………………………..
    PENOLONG “kamu” {kamu = orang ISLAM/ muslim} adalah ALLAH, RASUL-Nya, dan orang-orang BERIMAN …. saja. {orang ISLAM dan orang BERIMAN = berbeda}

    ﴾ Al Maidah:55 ﴿
    Sesungguhnya penolong KAMU hanyalah ALLAH, RASUL-Nya, dan orang-orang yang BERIMAN, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).

    < << PENOLONG orang-orang Islam … “BUKAN” … orang-orang KAFIR, MUSYRIK, MUNAFIK, FASIK, AL wahn, atau BUIH….. atau 72 golongan >>>

    ref:
    ﴾ At Taubah:68 ﴿
    Allah mengancam orang-orang MUNAFIK laki-laki dan perempuan dan orang-orang KAFIR dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah melaknati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal.

    ﴾ An Nisaa:48 ﴿
    Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa SYIRIK, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang memperSEKUTUkan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.
    ﴾ An Nisaa:116 ﴿
    Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.

    ref FASIK …. dan kenapa FASIK!!! … fasik = percaya akan adanya Allah, percaya akan kebenaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW tetapi dalam tindak perbuatannya mereka mengingkari terhadap Allah dan hukumNya, selalu berbuat kerUsakan dan kemaksiatan.

    ﴾ At Taubah:96 ﴿
    Mereka akan bersumpah kepadamu, agar kamu ridha kepada mereka. Tetapi jika sekiranya kamu ridha kepada mereka, sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang FASIK itu.
    ﴾ Yunus:33 ﴿
    Demikianlah telah tetap hukuman Tuhanmu terhadap orang-orang yang FASIK, karena sesungguhnya mereka tidak beriman.

    ref :
    Dari Tsauban ra mantan budak Rasulullah saw, dia berkata : Rasulullah saw bersabda, “Hampir-hampir umat-umat kafir saling menyeru untuk menyerang kalian dari segenap penjuru, sebagaimana orang-orang (yang lapar) sedang mengerumuni hidangan makanan.”. Dia (Tsauban ra) berkata, kami (para sahabat) bertanya , “Wahai Rasulullah, apakah pada waktu itu kami sedikit ?.” Jawab Nabi saw, ” Tidak, bahkan pada waktu itu kalian berjumlah banyak, akan tetapi kalian seperti BUIH. Dan sungguh Allah akan mencabut dari hati musuh-musuh kalian rasa takut pada kalian. Dan sungguh Allah akan mencampakkan AL-WAHN ke dalam hati-hati kalian.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah , apakah itu al-wahn ?” Nabi saw menjawab, ” Cinta dunia dan takutkan mati .”

    (Hadits ini derajatnya shahih , dikeluarkan oleh : Imam Ahmad (Al-Musnad 5/278), Abu Daud (Sunan 4/111 hadits 4297), Al- AlBaani (Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah, 2/647-648)

    Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sungguh akan terjadi pada ummatku, apa yang telah terjadi pada ummat bani Israil sedikit demi sedikit, sehingga jika ada di antara mereka (Bani Israil) yang menyetubuhi ibunya secara terang-terangan, maka niscaya akan ada pada ummatku yang mengerjakan itu. Dan sesungguhnya bani Israil berpecah menjadi tujuh puluh dua millah, semuanya di Neraka kecuali satu millah saja dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga millah, yang semuanya di Neraka kecuali satu millah.’ (para Shahabat) bertanya, ‘Siapa mereka wahai Rasulullah?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Apa yang aku dan para Shahabatku berada di atasnya.’”

  4. >> LOYALITAS kepada orang KAFIR, MUSYRIK = menyebabkan BATAL SYAHADATnya.. murtad = golongan mereka = termasuk golongan KAFIR, golongan MUSYRIK ….. Al-Ma’idah: 51…. Al-Mumtahanah: 1
    ……………………………….
    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.” (Al-Ma’idah: 51).

Leave a Reply