Loading
MENGAPA Allah menciptakan Bangsa,Suku, bahasa, warna kulit …… . utk APA? ————– BAIK BURUK {kemuliaan} manusia dalam PANDANGAN Allah diukur dengan keTAKWAannya kepada Allah …. BUKAN bangsa, … BUKAN keturunan …… BUKAN suku .. dst ————- Allah melihat HATI dan AMAL kita .. saja. ================ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk, rupa dan harta benda kalian, tetapi Allah memperhatikan hati dan amal-amal kalian”. [HR. Muslim. lih. Ghayatul Maram no. 415] | EP Artikel-Edy Gojira

MENGAPA Allah menciptakan Bangsa,Suku, bahasa, warna kulit ...... . utk APA? -------------- BAIK BURUK {kemuliaan} manusia dalam PANDANGAN Allah diukur dengan keTAKWAannya kepada Allah .... BUKAN bangsa, ... BUKAN keturunan ...... BUKAN suku .. dst ------------- Allah melihat HATI dan AMAL kita .. saja. ================ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk, rupa dan harta benda kalian, tetapi Allah memperhatikan hati dan amal-amal kalian”. [HR. Muslim. lih. Ghayatul Maram no. 415]

MENGAPA Allah menciptakan Bangsa,Suku, bahasa, warna kulit ...... . utk APA?
-------------- BAIK BURUK {kemuliaan} manusia dalam PANDANGAN Allah diukur dengan keTAKWAannya kepada Allah .... BUKAN bangsa, ... BUKAN keturunan ...... BUKAN suku .. dst
------------- Allah melihat HATI dan AMAL kita .. saja. ================
Rasulullah Shallallahualaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk, rupa dan harta benda kalian, tetapi Allah memperhatikan hati dan amal-amal kalian”. [HR. Muslim. lih. Ghayatul Maram no. 415]
----------------------------
Heterogenitas Kebangsaan dalam Perspektif al-Qur’an
QS. Ar-Rum ayat 22

وَمِنْ آَيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.
------------------
tujuan utama diciptakannya manusia seperti yang disebutkan di atas, Tuhan juga memberikan informasi tentang diciptakannya manusia dengan berjenis dan ber suku serta berbangsa bangsa. Artinya kenapa Tuhan menciptakan manusia itu berbeda dalam berbagai hal, seperti warna kulit, ras, suku, bangsa dan lainnya, kok tidak sama semua. Tentu Tuhan mempunyai tujuan lain selain dalam upaya untuk mengabdikan diri mereka kepada Tuhan, yakni agar dalam menjalani kehidupan di dunia ini, manusia dapat saling mengenal dan memahami berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia itu sendiri.

Dalam persoalan ini Tuhan memandang sama terhadap seluruh manusia yang diciptakan oleh Tuhan, meskipun jenis, suku, bangsa, ras, dan lainnya jelas diciptakan Tuhan secara berbeda. Jadi dalam pandangan Tuhan tidak ada bedanya antara manusia yang dilahirkan dan hidup sebagai bangsa Indonesia dan bersuku Jawa, misalnya dengan manusia yang dilahirkan dan hidup sebagai bangsa Amerika, Cina, Jepang, Belanda, atau lainnya. Tuhan tidak memandang bentuk tubuh, warna kulit dan bangsa. Oleh karena itu sangat keliru kalau ada suatu suku atau angsa yang merasa lebih baik dan unggul atau terhormat daripada suku atau bangsa lainnya. Tetapi justru yang dipandang oleh Tuhan ialah karena amal perbuatannya sebagai manifestasi dari keimanan dan ketaqwannya
--------------------------
QS. Al-Hujurat ayat 13

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
--------------------------
QS.Al-Hujurat ayat 11

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.
-------------------------
QS. Yusuf ayat 11

قَالُوا يَا أَبَانَا مَا لَكَ لَا تَأْمَنَّا عَلَى يُوسُفَ وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُونَ

Mereka berkata: “Wahai ayah kami, apa sebabnya kamu tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingini kebaikan baginya.”
-------------------------------
Asbab An-Nuzul

Dari empat ayat di atas, kami hanya menemukan dua ayat saja yang memilki asbab an-nuzul, yaitu pertama, surat Al-Hujurat ayat 11 ayat ini turun berkenaan dengan utusan dari Bani Tamim. Mereka menghina para sahabat karena miskin dan keadaannya memprihatinkan.[1]

Kedua, diriwayatkan dari Ibnu Abi Hatim bahwa ayat ini turun terkait dengan orang-orang yang mencela Bilal ketika dia naik ke atas Ka’bah untuk melantunkan azan saat pembebasan Mekah. Rasulullah kemudian memanggil dan melarang mereka membanggakan nasab.[2]

Tafsir mufradat

QS. Ar-Rum ayat 22

أَلْسِنَتِكُمْ – Al–Sinatikum : berlain-lainan bahasa kalian.

أَلْوَانِكُمْ -Al-Waanikum : berlain-lain pula warna kulit.[3]

QS. Al-Hujurat ayat 11

السخرية –as-Sukhriyah : mengolok-olok, menyebut-nyebut aib dan kekurangan kekurangan orang lain dengan cara yang menimbulkan tawa. Orang mengatakan, sakhira bihi dan sakhira minhu (mengolok-olokkan). Dan dhahika bihi dan dhahika minhu (menertawakan dia). Dan hazi’a bihi dan hazi’a minhu (mengejek). Adapun isim masdarnya as-Sukhriyah dan as-Sikhriyah (huruf sin didhamahkan atau dikasrahkan). Sukhriyah bisa juga terjadi dengan meniru perkataan atau perbuatan atau dengan menggunakan isyarat atau menertawakan perkataan orang yang diolokan apabila ia keliru perkataannya terhadap perbuatannya atau rupanya yang buruk.

القوم –al-Qaum : telah umum diartikan orang-orang lelaki, bukan orang-orang perempuan. Sebagaimanpada ayat ini juga, sebagaimana dikatakan oleh Zuhair:

وما ادري وسوف اخال ادري # اقوم ال حصن ام نساء

Aku tidak tahu, tetapi nanti aku pasti tahu juga. Apakah laki-laki keluarga Hishn itu atau perempuan.”

ولاتلمزوا انفسكم –wala talmizu anfusakum : janganlah kamu mencela dirimu sendiri. Maksudnya jangan sebagian kamu mencela sebagian yang lain dengan perkataan atau isyarat tangan, mata atau semisalnya. Karena orang-orang mukmin adalah seperti satu jiwa. Maka apabila seorang mukmin mencela orang mukmin yang lainnya, maka seolah-olah mencela dirinya sendiri.

التنابز –at-Tanabuz : saling mengejek dan panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang tidak disukai seseorang.

الاسم –al-Ismu : nama dan kemasyhuran. Seperti orang mengatakan tara ismuhu bainan nasi bil karami wal lu’mi, namanya terkenal di kalangan orang banyak baik karena kedermawanannya atau kejelekannya.[4]

QS. Al-Hujurat ayat 13

من ذكر وانثى –min dzakarin wa untsa : dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Maksudnya dari Adam dan Hawa.

الشعوب –asy-Syu’ub : jamak dari Sya’ab, yaitu suku besar yang bernasab kepada suatu nenek moyang, seperti suku Rabi’ah dan Muhdar. Sedang kabilah adalah lebih kecil lagi, seperti kabilah Bakar yang merupakan bagian dari Rabi’ah, dan kabilah Tamim yang merupakan bagian dari Muhdar.[5]

QS. Yusuf ayat 11

An–Nashi: Orang yang sayang dan sangat menginginkan kepada kebaikan.[6]

Tafsir Ayat

Penjelasan tentang QS. Ar-Rum yang dikutip dari Tafsir Al-Azhar bahwa manusia diperintahkan untuk melihat kekuasaan Allah terlebih dahulu baik yang ada di langit dan begitu pula yang ada di bumi.

Setelah menengadah melihat langit dan menekur meninjau bumi, orang kembali disuruh untuk melihat dirinya. ”Dan berlainan bahasa-bahasa kamu dan warna-warna kamu”, itu pun menjadi salah satu tanda kebesaran Tuhan.

Mengenai bahasa djelaskan dalam tafsir Al-Ahzar bahwa terdapat banyaknya ragam bahasa yang ada di dunia ini termasuk di kepulauan nusantara sendiri. Di samping itu banyak pula perbedaan warna kulit dari mulai putih, hitam, sawo matang bahkan ada yang kemerah-merahan seperti bangsa indian. Bentuk wajah pun tak ada yang serupa dari sekitar empat milyard penduduk bumi.

Ujung ayat ini membayangkan tentang pentingnya orang yang mempunyai ilmu pengetahuan di samping ayat sebelumnya yang menyuruh manusia untuk berpikir.[7]

Kemudian penjelasan QS. Al-Hujurat ayat 13, “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seseorang laki-laki dan seorang perempuan”. (pangkal ayat 13). Kita boleh menafsirkan hal ini dengan dua tafsir. Pertama ialah bahwa seluruh manusia itu dijadikan pada mulanya dari seorang laki-laki, yaitu Nabi Adam dan seorang perempuan yaitu Siti Hawa. Dan boleh kita tafsirkan secara sederhana saja. Yaitu bahwasanya segala manusia ini sejak dahulu sampai sekarang ialah terjadi daripada percampuran seorang laki-laki dan seorang perempuan melalui persetubuhan.

. “Dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa, bersuku-suku, supaya kenal mengenallah kamu”. Yaitu bahwasanya anak yang mulanya setumpuk mani yang berkumpul berpadu satu dalam satu keadaan belum nampak jelas warnanya tadi, menjadilah kemudian berwarna menurut keadaan iklim buminya, hawa udaranya, letak tanahnya, peredaran musimnya, sehingga berbagailah timbul warna wajah dan diri manusia dan berbagai pula bahasa yang mereka pakai. Di dalam ayat ditegaskan bahwasanya terjadi berbagai bangsa, berbagai suku sampai kepada perinciannya yang lebih kecil, bukanlah agar mereka bertambah lama bertambah jauh, melainkan supaya mereka kenal mengenal. Kenal mengenal dari mana asal usul, dari mana pangkal nenek moyang, dari mana asal keturunan dahulu. Kesimpulannya ialah bahwasanya manusia pada hakikatnya adalah dari asal keturunan yang satu. Tidaklah ada perbedaan di antara yang satu dengan yang lain dan tidaklah ada perlunya membangkit-bangkit perbedaan, melainkan menginsafi adanya persamaan keturunan.

“Sesungguhnya yang semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah yang setaqwa-taqwa kamu”. Ujung ayat ini adalah memberi penjelasan bagi manusia bahwasanya kemuliaan sejati yang dianggap bernilai oleh Allah lain tidak adalah kemuliaan hati, kemuliaan budi, kemuliaan perangai, ketaatan kepada Ilahi.

Penutup ayat adalah: “Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui, lagi Maha Mengenal”. (ujung ayat 13)

Ujung ayat ini, kalau kita perhatikan dengan seksama adalah menjadi peringatan lebih dalam lagi bagi manusia yang silau matanya karena terpesona oleh urusan kebangsaan dan kesukuan, sehingga mereka lupa bahwa keduanya itu gunanya bukan untuk membanggakan suatu bangsa kepada bangsa yang lain, suatu suku kepada suku yang lain.[8]

Adapun penjelasa QS. Al-Hujurat ayat 11, “Wahai orang-orang yang beriman”, (pangkal ayat 11). Ayat ini pun akan jadi peringatan dan nasehat sopan santun dalam pergaulan hidup kepada kaum yang beriman. “Janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum yang lain”. Mengolok-olok, mengejek, menghina, merendahkan dan seumpamanya, janganlah semuanya itu terjadi dalam kalangan orang yang beriman: “Boleh jadi mereka yang diolok-olokan itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokan).” Inilah peringatan yang halus dan tepat sekali dari Tuhan. Mengolok-olok, mengejek, dan menghina tidak lah layak dilakukan kalau orang merasa dirinya orang yang beriman. Sebab orang yang beriman akan selalu menilik kekurangan yang ada pada dirinya itu. Hanya orang yang tidak beriman jualah yang lebih banyak melihat kekurangan orang lain dan tidak ingat akan kekurangan yang ada pada dirinya. “Dan jangan pula wanita-wanita mengolok-olokan kepada wanita yang lain, karena boleh jadi yang diperolok-olokan itu lebih baik dari mereka (yang memperolok-olokkan).” Daripada larangan ini nampaklah dengan jelas bahwasanya orang-orang yang kerjanya hanya mencari kesalahan dan kekhilafan orang lain, niscaya lupa akan kesalahan dan kealpaan yang ada pada dirinya sendiri.

“Dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri”. Sebenarnya pada asalnya kita dilarang keras mencela orang lain, dan ditekankanlah dalam ayat ini dilarang mencela diri sendiri. Sebabnya ialah karena mencela orang lain itu sama juga dengan mencela diri sendiri.

“Dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar yang buruk”. Asal usul larangan ini ialah kebiasaan orang di zaman jahiliyah memberikan gelar dua tiga kepada seseorang menurut perangainya. Misalnya ada seorang bernama si Zaid! Beliau ini suka sekali memelihara kuda kendaraan indah, yang dalam bahasa Arab disebut al-Khail. Maka si Zaid itu pun disebutlah Zaid al-Khail! Atau si Zaid Kuda! Oleh Nabi SAW nama ini diperindah, lalu dia disebut Zaid al-Khair, yang berarti si Zaid Yang Baik! Pertukaran itu hanya dari huruf laam kepada huruf raa saja, tetapi artinya sudah berubah daripada kuda kepada baik!

“Seburuk-buruk panggilan ialah penggilan nama yang fasiq sesudah Iman”. Maka kalau orang telah beriman, suasana telah bertukar dari jahiliyah kepada Islam sebaiknyalah ditukar panggilan nama kepada yang baik dan sesuai dengan dasar iman seseorang. Karena penukaran nama itu ada juga pengaruhnya bagi jiwa. Sebagai contoh nama Komalasari menjadi Siti Fathimah, Joyoprayitno menjadi Abdul hadi, sehingga terjadilah nama yang iman sesudah fasiq. Bukan sebaliknya, yaitu nama yang fasiq setelah iman. “Dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka itulah orang-orang yang aniaya”. Pergantian nama baru buruk ketika fasiq, kepada yang bagus setelah beriman, adalah pertanda yang baik dari kepatuhan sejak semula.

Dan penjelasan QS. Yusuf ayat 11, bahwa ayat ini merupakan penggalanan dari sekian runtutan kisah mengenai Nabi Yusuf AS dan saudara-saudaranya. Dalam tafsir ini, ayat ini dikaitkan dengan ayat sebelum dan sesudahnya.

“(Ingatlah) tatkala mereka — (Yaitu saudara-saudara Yusuf) berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudaranya lebih di cintai oleh bapak kita daripada kita, padahal kita banyak”. (pangkal ayat 8), pada ayat ini Nabi Ya’kub memberikan perhatian yang lebih kepada Yusuf dan adiknya, Bunyamin. Hal disebabkan karena Ibu dari keduanya telah meninggal setelah melahirkan Bunyamin. Karena merasa kurang diperhatikan oleh ayahnya, maka saudara-saudaranya menuduh ayahnya sesat dalam menempuh hidup. berkatalah mereka selanjutnya: “Sesungguhnya bapak kita ini adalah dalam kesesatan yang nyata”. (ujung ayat 8).

Kemudian mereka musyawarahkan ketidakadilan ayahnya itu bersama-sama dan berbagai ragamlah pikiran yang dinyatakan. Di antaranya keluarlah saru usul yang keras. “Bunuhlah Yusuf atau buangkan dia ke dalam bumi”. (pangkal ayat 9). Pertama dibunuh, disingkirkan sama sekali dari dunia ini. Atau, kalau itu dipandang terlalu keras, maka singkirkan saja dia jauh-jauh ke satu bahagian bumi yang tidak akan diketahui oleh ayah.

Yang megusul supaya dibunuh itu menyambung katanya, bahwa kalau jadi Yusuf dibunuh atau disingkirkan: “Supaya untuk kamu saja wajah ayah kamu”. –artinya, kalau Yusuf sudah tidak ada lagi tentu ayah kita kan kembali menghadapkan mukanya kepada kita. Dan kalau Yusuf sudah dapat kamu singkirkan—kata yang menyusul itu selanjutnya—“Dan jadilah kamu semuanya sesudah itu, kaum yang shalih”. (ujung ayat 9)

Tetapi di antara mereka itu ada pula yang rupanya yang mempunyai pikiran tak usah dibunuh. Hal ini dijelaskan oleh lanjutan ayat: “Dan berkatalah seorang yang berkata di antara mereka: “Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi buanglah dia ke dalam dasar sumur’”. (pangkal ayat 10).

Kemudian dilanjutkannya usulnya dan alasan dari usulnya itu: “Supaya dia dipungut oleh sebahagian orang yang lalu”. Artinya, moga-moga akan ada kelak kafilah yang lalu di dekat itu akan mengambil air, niscaya Yusuf dapat dipungutnya, lalu dibawanya jauh dari negeri kita ini, entah ke Mesir, entah ke jurusan lain: “Jika kamu mengerjakannya”. (ujung ayat 10).

Kemudian mereka pun berkumpullah pulang, lalu mereka pergi menemui ayah mereka: “Mereka berkata: wahai bapak kami. Mengapa engkau tidak percaya kepada kami dari hal Yusuf, padahal kami sungguh ikhlas menjaganya”. (ayat 11). Inilah alasan mereka membujuk ayah mereka. Mengapa dia hanya dalam pelukan ayah saja, tidak dibebaskan bergaul dengan kami. Padahal dia adalah adik kami.

“Kirimkanlah dia bersama kami besok, makan-makan dan bermain-main”. (pangkal ayat 12). –percayakanlah dia kepada kami, supaya dia jangan terkungkung di rumah saja. Biar dia melihat-lihat alam yang indah-indah, bersama kami saudara-saudaranya, makan-makan, bermain-main, bersendagurau: “Sesungguhnya kami akan menjaga dia”. (ujung ayat 12)

“Dia menjawab: sesungguhnya sedihlah hatiku akan kamu bawa dia”. (pangkal ayat 13). –sedih hatiku akan bercerai dengan dia, sepi aku rasana. “Dan aku takut dia akan diterkam serigala”. –sebab di tempat-tempat kamu bermain itu serigala banyak, binatang buaspun macam-macam. Jika serigala menyambar dia, tak ada di antara kalian kalian yang akan sanggup menangkis: “Sedang kamu lalai daripadanya”. (ujung ayat 13). –artinya apabila kalian telah asyik bermain kelak, adik kalian akan kalian lupakan.

“Mereka berkata: jika dia diterkam serigala, sedang kami ini banyak, sesungguhnyalah kami orang-orang yang rugi”. (ayat 14)[9]

Analisis dan Kontekstualisasi

Dalam ayat yang telah diuraikan terdapat suatu runtutan yang sangat berpadu antara ayat yang satu dengan lainnya. Bila diamati dengan teliti, ayat-ayat yang dijelaskan di atas memiliki makna yang unik, yaitu dari runtutan global menuju spesifikasi.

Analisis terhadap ayat yang pertama adalah QS. Ar_Rum ayat 22 yang menjelaskan suatu kegolobalan dimana manusia tersusun atas rumpunan bahasa dan ras. Dalam ayat ini penjelasan masih bersifat global. Manusia masih diklasifikasikan dengan perbedaan warna kulit (ras) dan bahasa. Kontekstualisasi yang termuat bahwa di dunia terdapat heterogenitas ras seperti ras melayu, mongoloid, negroid, kaukasoid dan lain-lain. Begitu pula dalam bahasa, ada beberapa rumpun bahasa seperti rumpun bahasa Indo-Arya, rumpun bahasa Melayu, dan lainnya.

Dalam ayat yang kedua yakni surat Al-Hujurat ayat 13, spesifikasi berjalan mengerucut menuju pengelompokan bangsa-bangsa dan bahkan suku-suku. Pengelompokan manusia sudah mengecil, tidak lagi dalam bentuk ras dan rumpun bahasa. Disini tampak bahwa ayat ini menjadi suatu penjelasan lebih lanjut dari ayat yang ada sebelumnya. Kontekstualissi bisa diarahkan menuju bangsa tersendiri yang memiliki heterogenitas suku yang bermacam-macam, apalagi kalau pandangan diarahkan menuju heterogenitas yang ada di dunia, jumlahnya pasti akan sangat banyak.

Dalam surat Al-Hujurat ayat 11, penjelasan diarahkan menuju kepada unsur intrinsik negara itu sendiri. Dimana dalam suatu negara tentu termuat suatu komunitas-komunitas yang sama-sama membangun negara. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT telah menjelaskan bahwa terkadang antara komunitas yang satu dengan lainnya teramat sering mengolok-olokan. Hal ini sangat relevan dengan keadaan sekarang di mana keadaan yang multi-politik brcampur dalam suatu Negara. Selain itu keadaan multi-kultural juga menjadi suatu masalah yang teramat sering memunculkan konflik. Maka dari itu penanaman karakter yang baik diharapkan akan menjadi modal bagi berlangsungnya keamanan disini.

Bisa di analisis pada ayat Ar-Rum ayat 22, bahwa penekanan akan ilmu pengetahuan menjadi suatu acuan yang amat ditekankan. Bagaimanapun pengetahuan akan pencarian solusi dari banyaknya konflik akan selalu dibutuhkan sepanjang manusia hidup.

Adapun dalam Surat Yusuf ayat 11, aspek kekeluargaan menjadi suatu hal yang paling ditekankan. Disini dijelaskan bahwa kejujuran yang baik akan melahirkan kepercayaan yang baik pula.

Secara menyeluruh keempat ayat tersebut memiliki makna yang saling terkait antara satu dan lainnya. Ayat yang pertama terkesan menggambarkan sesuatu yang masih global. Adapun ayat yang kedua menuju spesifikasi. Dalam ayat ketiga dan keempat, aspek kebangsaan sudah menekan pada permasalahan internal dalam bangsa itu sendiri.
----------------------
Kesimpulan
----------------------------
Dari pemaparan ayat-ayat di atas, dapat disimpulkan bahwa:

Pada QS. Ar-Rum ayat 22 menjelaskan bahwa manusia tersusun atas rumpunan bahasa dan ras, hal ini masih bersifat global.

Pada QS. Al-Hujurat ayat 13, adanya pengelompokan bangsa-bangsa dan bahkan suku-suku. Pengelompokan manusia lebih mengecil, tidak lagi dalam bentuk ras dan rumpun bahasa. Tidaklah ada perbedaan di antara yang satu dengan yang lain dan tidaklah ada perlunya membangkit-bangkit perbedaan, melainkan menginsafi adanya persamaan keturunan. Dan kemuliaan manusia tidak diukur dengan keturunannya atau kekayaannya, melainkan diukur dengan ketakwaannya kepada Allah.

Pada QS. Al-Hujurat ayat 11, Allah melarang kaum muslimin dan mukminat dari: mengolok-olokan orang lain, mencela diri sendiri, memanggil-manggil orang lain dengan gelar-gelar yang buruk. Adapun Orang-orang yang tidak mau bertaubat dari kesalahan-kesalahannya dicap oleh Allah sebagai orang-orang yang dzalim.

Pada QS. Yusuf ayat 11, aspek kekeluargaan menjadi suatu hal yang paling ditekankan. Disini dijelaskan bahwa kejujuran yang baik akan melahirkan kepercayaan yang baik pula.

Views All Time
Views All Time
384
Views Today
Views Today
2
About Edy Gojira 721 Articles
sampaikanlah .... kebenaran ayat-ayat Allah

1 Comment on MENGAPA Allah menciptakan Bangsa,Suku, bahasa, warna kulit ...... . utk APA? -------------- BAIK BURUK {kemuliaan} manusia dalam PANDANGAN Allah diukur dengan keTAKWAannya kepada Allah .... BUKAN bangsa, ... BUKAN keturunan ...... BUKAN suku .. dst ------------- Allah melihat HATI dan AMAL kita .. saja. ================ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk, rupa dan harta benda kalian, tetapi Allah memperhatikan hati dan amal-amal kalian”. [HR. Muslim. lih. Ghayatul Maram no. 415]

  1. BAIK BURUK {kemuliaan} manusia dalam PANDANGAN Allah diukur dengan keTAKWAannya kepada Allah .... BUKAN bangsa, ... BUKAN keturunan ...... BUKAN suku .. dst
    ------------- Allah melihat HATI dan AMAL kita .. saja.
    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

    “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk, rupa dan harta benda kalian, tetapi Allah memperhatikan hati dan amal-amal kalian”. [HR. Muslim. lih. Ghayatul Maram no. 415]
    ----------------------------
    Heterogenitas Kebangsaan dalam Perspektif al-Qur’an
    QS. Ar-Rum ayat 22

    وَمِنْ آَيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ

    Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.
    ------------------
    QS. Al-Hujurat ayat 13

    يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

    Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
    --------------------------
    QS.Al-Hujurat ayat 11

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

    Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

Leave a Reply