Loading
KEBENARAN = sesuai dengan PERINTAH dan LARANGAN Allah …. di AL QUR’AN dan HADITS ……………………………………………………….. Banyaknya Orang…… BUKAN Menjadi Ukuran Sebuah Kebenaran ….hanya mengikuti kebanyakan orang .. SESAT …. dan DUSTA/ keBOHONGan… al-An’am/6: 116 ………………..KEBENARAN ayat-ayat dari ALLAH = kebenaran MUTLAK ……………….. ……………………… Orang yang sedikit tetapi sesuai dengan tuntunan Al Qur’an dan As Sunnah, maka mereka benar. Orang yang banyak tetapi mereka menyelisihi Al Qur’an dan As Sunnah, maka mereka keliru. وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الأرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلا يَخْرُصُونَ “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” [QS.al-An’am/6: 116] ————————– manusia cenderung mengikuti kebanyakan orang. Jika masyarakatnya senang dengan kesyirikan dan kebid’ahan, maka ia mengikutinya. Dan jika masyarakatnya baik merekapun menjadi baik pula. Hal ini persis sebagaimana yang disebutkan dalam hadist ; لَا تَكُونُوا إِمَّعَةً تَقُولُونَ: إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا، وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْنَا، وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا، وَإِنْ أَسَاءُوا فَلَا تَظْلِمُوا Janganlah kalian menjadi orang yg suka mengekor orang lain. Jika manusia menjadi baik, maka kami juga akan berbuat baik. Dan jika mereka berbuat zhalim, maka kami juga akan berbuat zhalim.’ Akan tetapi mantapkanlah hati kalian, jika manusia berbuat baik kalian juga berbuat baik, namun jika mereka berlaku buruk, janganlah kalian berbuat zhalim. Berkata Abu Isa: Ini merupakan hadits hasan gharib tak kami ketahui kecuali melalui jalur ini. [ HR. At turmudzi 1930 ]. | EP Artikel-Edy Gojira

KEBENARAN = sesuai dengan PERINTAH dan LARANGAN Allah .... di AL QUR'AN dan HADITS ................................................................. Banyaknya Orang...... BUKAN Menjadi Ukuran Sebuah Kebenaran ....hanya mengikuti kebanyakan orang .. SESAT .... dan DUSTA/ keBOHONGan... al-An'am/6: 116 ....................KEBENARAN ayat-ayat dari ALLAH = kebenaran MUTLAK .................... ........................... Orang yang sedikit tetapi sesuai dengan tuntunan Al Qur'an dan As Sunnah, maka mereka benar. Orang yang banyak tetapi mereka menyelisihi Al Qur'an dan As Sunnah, maka mereka keliru. وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الأرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلا يَخْرُصُونَ “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” [QS.al-An'am/6: 116] -------------------------- manusia cenderung mengikuti kebanyakan orang. Jika masyarakatnya senang dengan kesyirikan dan kebid'ahan, maka ia mengikutinya. Dan jika masyarakatnya baik merekapun menjadi baik pula. Hal ini persis sebagaimana yang disebutkan dalam hadist ; لَا تَكُونُوا إِمَّعَةً تَقُولُونَ: إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا، وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْنَا، وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا، وَإِنْ أَسَاءُوا فَلَا تَظْلِمُوا Janganlah kalian menjadi orang yg suka mengekor orang lain. Jika manusia menjadi baik, maka kami juga akan berbuat baik. Dan jika mereka berbuat zhalim, maka kami juga akan berbuat zhalim.' Akan tetapi mantapkanlah hati kalian, jika manusia berbuat baik kalian juga berbuat baik, namun jika mereka berlaku buruk, janganlah kalian berbuat zhalim. Berkata Abu Isa: Ini merupakan hadits hasan gharib tak kami ketahui kecuali melalui jalur ini. [ HR. At turmudzi 1930 ].

KEBENARAN = sesuai dengan PERINTAH dan LARANGAN Allah .... di AL QUR'AN dan HADITS
.................................................................
Banyaknya Orang...... BUKAN Menjadi Ukuran Sebuah Kebenaran ....hanya mengikuti kebanyakan orang .. SESAT .... dan DUSTA/ keBOHONGan... al-An'am/6: 116
....................KEBENARAN ayat-ayat dari ALLAH = kebenaran MUTLAK
.................... ...........................
Orang yang sedikit tetapi sesuai dengan tuntunan Al Qur'an dan As Sunnah, maka mereka benar. Orang yang banyak tetapi mereka menyelisihi Al Qur'an dan As Sunnah, maka mereka keliru.

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الأرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلا يَخْرُصُونَ

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” [QS.al-An'am/6: 116]
--------------------------
manusia cenderung mengikuti kebanyakan orang. Jika masyarakatnya senang dengan kesyirikan dan kebid'ahan, maka ia mengikutinya. Dan jika masyarakatnya baik merekapun menjadi baik pula. Hal ini persis sebagaimana yang disebutkan dalam hadist

; لَا تَكُونُوا إِمَّعَةً تَقُولُونَ: إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا، وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْنَا، وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا، وَإِنْ أَسَاءُوا فَلَا تَظْلِمُوا

Janganlah kalian menjadi orang yg suka mengekor orang lain. Jika manusia menjadi baik, maka kami juga akan berbuat baik. Dan jika mereka berbuat zhalim, maka kami juga akan berbuat zhalim.' Akan tetapi mantapkanlah hati kalian, jika manusia berbuat baik kalian juga berbuat baik, namun jika mereka berlaku buruk, janganlah kalian berbuat zhalim. Berkata Abu Isa: Ini merupakan hadits hasan gharib tak kami ketahui kecuali melalui jalur ini. [ HR. At turmudzi 1930 ].
........................................
Lebih parah lagi jika kebenaran diukur dengan kebanyakan manusia. Jika banyak manusia melakukannya, maka itulah kebenaran, tetapi jika sedikit yang melakukannya, maka hal itu dianggap kesesatan. Padahal kebenaran dan kesesatan harus diukur dengan al qur'an dan sunnah Rasulullah sallallahu alaihiwasallam. Sementara al qur'an telah menjelaskan bahwa kebanyakan manusia adalah sesat sebagaimana ayat di atas.
..............................................................
Makna Ayat Secara Umum

Imam Abu Ja’far ath-Thobari rahimahullah berkata:

“Allah azza wa jalla menjelaskan kepada Nabi Muhammad shallallahualaihi wasallam: Wahai Muhammad, janganlah kamu taat kepada orang yang berpaling dari agama Allah, karena mereka mengajak kamu mengikuti sesembahan mereka. Jangan kamu taati mereka ketika mengajak kamu agar makan sesembelihan yang disajikan untuk tuhan-tuhan mereka, dan yang disembelih dengan menyebut nama tuhan mereka, dan jangan kamu taati perbuatan mereka yang tersesat. Jika kamu taat kepada umumnya manusia di permukaan bumi ini, pasti mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah yang benar dan menghalangi kamu dari yang benar juga, karena pada saat itu mereka kufur dan tersesat. Dan jika kamu menaati mereka kamu akan seperti mereka, karena mereka tidak mengajak kamu kepada petunjuk, bahkan mereka telah jatuh kepada kesesatan karena mereka hanya mengikuti dugaan dan kira-kira belaka. Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah melarang kamu yang demikian itu karena Allah lebih tahu tentang mereka daripada kamu. Wahai Muhammad, ikutilah yang Aku perintahkan kepadamu dan tinggalkan apa yang Aku larang kepadamu dan jangan kamu menaati mereka, dan jangan kamu tinggalkan larangan mereka, karena Aku lebih tahu siapa yang mendapat petunjuk dan siapa yang tersesat.” [Tafsir ath-Thobari: 12/65]

Komentar Ulama Sunnah Tentang Mayoritas Umat

Al-Fudhail binIyadh rahimahullah berkata:

“Kamu jangan merasa rendah diri karena menempuh jalan yang benar walaupun sedikit orang yang menempuhnya, dan kamu jangan tertipu dengan yang bathil walaupun banyak orang yang mengamalkannya.” [Minhajul Taksis wat Taqdis fi Kasfi Syubuhat, Dawud bin Jarjis: 1/84]

Imam Baidhowi rahimahullah berkata:

“Yang dimaksud dengan umumnya manusia adalah orang-orang kafir atau orang-orang bodoh tentang agama atau pengikut hawa nafsu.” [Tafsir al-Baidhowi: 2/199]

Syaikh Abdurrohman as-Sa’di rahimahullah berkata:

“Ayat ini menjelaskan bahwa kebenaran itu bukan karena banyak pendukungnya, dan kebathilan itu bukan karena orang yang mengerjakannya sedikit. Kenyataannya yang mengikuti kebenaran hanya sedikit, sedangkan yang mengikuti kemungkaran banyak sekali. Kewajiban bagi umat Islam adalah mengetahui yang benar dan bathil, lihatlah jalan yang ditempuh.” [Tafsir al-Karimur Rohman: 1/270]

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata:

“Orang yang berakal sehat jangan tertipu dengan kebanyakan manusia, karena kebenaran tidak ditentukan karena banyak orang yang berbuat, akan tetapi kebenaran adalah syariat Allah azza wa jalla yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahualaihi wa sallam.” [Majmu' Fatawa wa Maqolat Ibnu Baz: 1/231]

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya:

Sebagian menusia jika dilarang dari perbuatannya yang menyimpang dari ajaran syariat Islam atau menyimpang dari adab Islam berargumen umumnya manusia mengerjakannya. Jika demikian, bagaimana kita menjawabnya? Mayoritas bukanlah dasar kebenaran, karena Allah azza wa jalla berfirman;

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الأرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلا يَخْرُصُونَ

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).”

[QS.al-An'am/6: 116]

وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ

Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya. [QS. Yusuf : 103]

Sedangkan tolak ukur kebenaran jika Allah azza wa jalla berfirman dan Rasulullah shallallahualaihi wa sallam bersabda, atau ulama salafush sholih yang berfatwa.” [Majmu' Fatawa wa Rosa'il, Ibnu Utsaimin: 3/103]

Selanjutnya beliau rahimahullah berkata: “Hendaknya kita tidak tertipu dengan mayoritas, karena mayoritas kadang kala tersesat seperti ayat diatas (QS.al-An’am/6:116). Dari sisi lain, jika manusia tertipu dengan mayoritas sehingga dia menduga bahwa dialah yang menang, inilah penyebab manusia menjadi hina. Kamu jangan berkata: Semua manusia berbuat demikian, mengapa kami sendiri yang tidak? Kamu jangan tertipu dengan mayoritas, jangan tertipu dengan umumnya orang yang hancur akidah dan akhlaknya sehingga kamu hancur bersama mereka, dan janganlah kamu tertipu dengan orang yang sukses, sehingga kamu termasuk orang yang sombong, sehingga kamu tinggalkan golongan yang sedikit, sebab boleh jadi yang sedikit itu lebih baik dari pada yang mayoritas.” [al-Qoulul Mufid ala Kitabut Tauhid: 1/7]
........................
Kebenaran Tidak Memandang Jumlah

Sebelum membahas makna Al Jama’ah dan As Sawadul A’zham, perlu diketahui bahwa terlalu banyak dalil dari Qur’an dan Sunnah yang memberikan faedah kepada kita bahwa kebenaran tidak memandang jumlah.

Kebenaran adalah kebenaran walaupun bersendirian...

Kesalahan adalah kesalahan walaupun didukung banyak orang....

Bahkan Allah menyatakan bahwa keadaan umum manusia adalah berada dalam kesesatan, kejahilan dan jauh dari iman yang benar:

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah” (QS. Al An’am: 116)

Allah Ta’ala berfirman:

“Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS. Yusuf: 40)

Allah Ta’ala berfirman:

Alif laam miim raa. Ini adalah ayat-ayat Al Kitab (Al Qur’an). Dan Kitab yang diturunkan kepadamu daripada Tuhanmu itu adalah benar; akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman (kepadanya).” (QS. Ar Ra’du: 1)

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan kebanyakan manusia tidak akan beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya” (QS. Yusuf: 103)

Bahkan ada Nabi Allah yang tidak memiliki pengikut, ada yang hanya satu orang, ada pula yang hanya sekelompok orang. Andai yang sedikit itu pasti sesat, apakah mereka tidak memiliki pengikut atau menjadi minoritas karena mengajarkan kesesatan?

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

Diperlihatkan kepadaku umat manusia seluruhnya. Maka akupun melihat ada Nabi yang memiliki pengikut sekelompok kecil manusia. Dan ada Nabi yang memiliki pengikut dua orang. Ada Nabi yang tidak memiliki pengikut” (HR. Bukhari 5705, 5752, Muslim, 220)

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda bahwa Islam itu awalnya asing, dan akan kembali menjadi asing kelak. Dan beliau memuji orang-orang yang masih mengamalkan ajaran Islam ketika itu.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Islam pada awalnya asing dan akan kembali asing kelak sebagaimana awalnya. Maka pohon tuba di surga bagi orang-orang yang asing” (HR. Muslim no.145)

Nah, apakah Islam itu asing ketika mayoritas manusia mengamalkan ajaran Islam...??? Bahkan yang minoritas ketika itu adalah yang dipuji oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam.

Al Fudhail bin Iyadh rahimahullah (wafat 187 H) berkata:

“Janganlah engkau mengangap buruk jalan-jalan kebenaran karena sedikit orang yang menjalaninya. Dan jangan pula terpedaya oleh banyaknya orang-orang yang binasa” (Dinukil dari Al Adabusy Syar’iyyah 1/163)

Imam An Nawawi rahimahullah (wafat 676 H) berkata:

Seorang manusia hendaknya tidak terpedaya dengan banyaknya orang yang melakukan hal-hal terlarang, yaitu orang-orang yang tidak menjaga adab-adab ini” (Dinukil dari Al Adabusy Syar’iyyah 1/163)
..............................

Marilah kita lihat bagaimana keadaan KEBANYAKAN manusia. Perhatikan Firman-firman Allah di bawah ini ;

S U R A T A L - B A Q A R A H
2:243. Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati; maka Allah berfirman kepada mereka: "Matilah kamu", kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.
S U R A T A L - I M R O N
3:110. Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.
S U R A T A N - N I S A '
4:114. Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.
S U R A T A L - M A A I D A H
5:49. dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.
5:59. Katakanlah: "Hai Ahli kitab, apakah kamu memandang kami salah, hanya lantaran kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya, sedang kebanyakan di antara kamu benar-benar orang-orang yang fasik?"
5:71. Dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi suatu bencana pun (terhadap mereka dengan membunuh nabi-nabi itu), maka (karena itu) mereka menjadi buta dan pekak, kemudian Allah menerima tobat mereka, kemudian kebanyakan dari mereka buta dan tuli (lagi). Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.
5:77. Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus."
5:80. Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan.
5:81. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.
S U R A T A L - A N ' A A M
6:119. Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.
S U R A T A L - A ' R A F
7:17. kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).
7:102. Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik.
7:179. Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.
S U R A T Y U N U S
10:36. Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.
10:55. Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi. Ingatlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (nya).
S U R A T H U U D
11:17. Apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang-orang yang mempunyai bukti yang nyata (Al Qur'an) dari Tuhannya, dan diikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah dan sebelum Al Qur'an itu telah ada kitab Musa yang menjadi pedoman dan rahmat? Mereka itu beriman kepada Al Qur'an. Dan barang siapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al Qur'an, maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya karena itu janganlah kamu ragu-ragu terhadap Al Qur'an itu. Sesungguhnya (Al Qur'an) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.
S U R A T A R - R A ' D U
13:1. Alif laam miim raa. Ini adalah ayat-ayat Al Kitab (Al Qur'an). Dan Kitab yang diturunkan kepadamu daripada Tuhanmu itu adalah benar; akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman (kepadanya).
S U R A T I B R A H I M
14:36. Ya Tuhan-ku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barang siapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barang siapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
S U R A T A L - N A H L
16:83. Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir.
S U R A T A L - I S R A '
17:89. Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam Al Qur'an ini tiap-tiap macam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkari (nya).
S U R A T A L - M U ' M I N U N
23. 70. Atau (apakah patut) mereka berkata: "Padanya (Muhammad) ada penyakit gila." Sebenarnya dia telah membawa kebenaran kepada mereka, dan kebanyakan mereka benci kepada kebenaran.
S U R A T A L - F U R Q A A N
25:44. atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).
25:50. Dan sesungguhnya Kami telah mempergilirkan hujan itu di antara manusia supaya mereka mengambil pelajaran (daripadanya); maka kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari (nikmat).
S U R A T A L - ' A N K A B U T
29:63. Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah". Katakanlah: "Segala puji bagi Allah", tetapi kebanyakan mereka tidak memahami (nya).
S U R A T L U Q M A N
31:25. Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" entu mereka akan menjawab: "Allah". Katakanlah: Segala puji bagi Allah"; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.
S U R A T S A B A '
34:28. Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.
34:36. Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya), akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui".
34:41. Malaikat-malaikat itu menjawab: "Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka: ahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu".
S U R A T Y A S I N
36:7. Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman.
S U R A T A L - M U ' M I N
40:59. Sesungguhnya hari kiamat pasti akan datang, tidak ada keraguan tentangnya, akan tetapi kebanyakan manusia tiada beriman.
40:61. Allah-lah yang menjadikan malam untuk kamu supaya kamu beristirahat padanya; dan menjadikan siang terang benderang. Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.
S U R A T F U S H I L A T
41:4. yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (daripadanya); maka mereka tidak (mau) mendengarkan.
S U R A T A Z - Z U K H R U F
43:78. Sesungguhnya Kami benar-benar telah membawa kebenaran kepada kamu tetapi kebanyakan di antara kamu benci pada kebenaran itu.
Wallahu a'lam

Views All Time
Views All Time
983
Views Today
Views Today
1
About Edy Gojira 722 Articles
sampaikanlah .... kebenaran ayat-ayat Allah

3 Comments on KEBENARAN = sesuai dengan PERINTAH dan LARANGAN Allah .... di AL QUR'AN dan HADITS ................................................................. Banyaknya Orang...... BUKAN Menjadi Ukuran Sebuah Kebenaran ....hanya mengikuti kebanyakan orang .. SESAT .... dan DUSTA/ keBOHONGan... al-An'am/6: 116 ....................KEBENARAN ayat-ayat dari ALLAH = kebenaran MUTLAK .................... ........................... Orang yang sedikit tetapi sesuai dengan tuntunan Al Qur'an dan As Sunnah, maka mereka benar. Orang yang banyak tetapi mereka menyelisihi Al Qur'an dan As Sunnah, maka mereka keliru. وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الأرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلا يَخْرُصُونَ “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” [QS.al-An'am/6: 116] -------------------------- manusia cenderung mengikuti kebanyakan orang. Jika masyarakatnya senang dengan kesyirikan dan kebid'ahan, maka ia mengikutinya. Dan jika masyarakatnya baik merekapun menjadi baik pula. Hal ini persis sebagaimana yang disebutkan dalam hadist ; لَا تَكُونُوا إِمَّعَةً تَقُولُونَ: إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا، وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْنَا، وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا، وَإِنْ أَسَاءُوا فَلَا تَظْلِمُوا Janganlah kalian menjadi orang yg suka mengekor orang lain. Jika manusia menjadi baik, maka kami juga akan berbuat baik. Dan jika mereka berbuat zhalim, maka kami juga akan berbuat zhalim.' Akan tetapi mantapkanlah hati kalian, jika manusia berbuat baik kalian juga berbuat baik, namun jika mereka berlaku buruk, janganlah kalian berbuat zhalim. Berkata Abu Isa: Ini merupakan hadits hasan gharib tak kami ketahui kecuali melalui jalur ini. [ HR. At turmudzi 1930 ].

  1. Banyaknya Orang...... BUKAN Menjadi Ukuran Sebuah Kebenaran ....hanya mengikuti kebanyakan orang .. SESAT .... dan DUSTA/ keBOHONGan... al-An'am/6: 116
    ....................KEBENARAN ayat-ayat dari ALLAH = kebenaran MUTLAK

  2. beberapa bentuk amalan dan ibadah yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, dengan kata lain ibadah tersebut adalah bid’ah.
    —————————-
    1. TAHLILAN

    Tahlilan adalah peringatan hari kematian dari salah seorang kerabat keluarga, tahlilan dapat juga disebut upacara selamatan untuk orang yang telah meninggal. Dalam kegiatan tahlilan ini dibacakan doa-doa dan kalimat tahlil secara bersama-sama dan berulang-ulang. Namun yang menjadikan suatu persoalan adalah bahwa acara tahlilan dilakukan dengan mengundang orang-orang satu kampung dan menyediakan hidangan yang berlebihan selayaknya sebuah pesta. Ini juga terjadi pada hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100,bahkan hari ke-1000 setelah kematian. Bukankah ini suatu keanehan bahwa di dalam acara peringatan kematian di lakukan pesta dengan penyajian beragam makanan.
    —————–
    Imam syafi’I berkata dalam kitabnya, Al-Umm, Juz I hlm 279
    ————–
    “….dan aku membenci Al-Ma’tam, yaitu proses berkumpul/bergabung (ditempat keluarga mayit) walaupun tanpa tangisan, karena hal tersebut hanya akan menimbulkan bertambahnya kesedihan dan membutuhkan biaya, padahal beban kesedihan masih melekat (dikeluarga mayit).
    ————————-
    Khalifah umar bin abdul aziz melarang tahlilan seperti dalam Riwayat Ibnu Abi Syaibah:

    Telah berkata kepada kami Yan ‘Aqid bin isa dari tsabit dari Qais, beliau berkata” saya telah menyaksikan umar bin abdul aziz melarang keluarga mayit mengadakan perkumpulan kemudian berkata: “kalian akan mendapat bencana dan akan merugi”
    —————————–
    Jika kita telusuri, upacara kematian tersebut di adopsi dari budaya hindu dan budha. Mereka umta hindu dan budha menganggap bahwa setelah meninggal maka mayit tersebut akan datang kerumah pada malam hari mengunjungi keluarganya. Untuk itu kedatangan ruh tersebut harus disambut dengan pembacaan doa-doa dan menyiapkan sesajen untuk ruh mayit agar ruh itu bebas dari siksa kematian dan dapat mengunjungi keluarga yang di cintainya.
    ———————————-
    Setelah Islam masuk maka acara tersebut secara perlahan-lahan diganti dengan kegiatan yang bernafaskan Islam, misalnya sesajen diganti dengan makanan-makanan yang dibagikan, mantera-mantera diganti Fdengan doa-doa dan bacaan Al-Qur’an. Namun secara aqidah kegiatan tersebut tetap menjadi bid’ah karena mengikuti cara yang dilakukan oleh umat agama lain dan tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah.

    mari kita buktikan dengan dalil bahwa amalan tahlilan adalah ditolak

    Hadist Shahih Riwayat Abu Dawud :

    “ apabila mati anak Adam, maka putuslah amalannya kecuali 3 perkara : pertama: se dekah yang berkekalan (sedekah wafatnya), kedua: ilmu yang bermanfaat bagi orang lain, krtiga: anak yang shaleh yang mendoakan orang tuanya”.

    penjelasan hadist :

    A.Hasan mengatakan bahwa :

    – Kalau seseorang telah mati, tidak akan bertambah amalnya, kecuali 3 perkara tadi.

    – Ilmu dan anak, adalah daripada usahanya sendiri pada waktu ia masih hidup dan itu yang akan menambah amalnya.

    – Manusia itu Cuma akan mendapat ganjaran dari apa yang telah dikerjakan sendiri diatas dunia.

    Coba kita lihat acara tahlilan, mereka menganggap dengan mengundang orang untuk mendoakan sang mayat maka akan mengurangi azab dan dapat menambah amalan bagi si mayat tersebut. Disitulah kekeliruan pemahaman yang banyak terjadi sekarang ini. Semoga mereka yang masih meyakini pemahaman seperti itu diberikan petunjuk oleh Allah.

    sesat tahlilan

    2. YASINAN
    ————————
    Maraknya upacara Yasinan pada zaman sekarang seperti pada hari setelah kematian, pada malam jumat, pada ziarah kubur dan sebagainya seakan-akan bahwa Al-Qur’an itu hanya berisi surat Yasin saja. Padahal sangat dianjurkan untuk mengkhatamkan seluruh ayat Al-Qur’an setiap 1 bulannya.
    ————————–
    Ada beberapa syarat diterimanya amalan ibadah
    ———————
    1. Ikhlas karena Allah dan semata-mata untuk Allah dengan konsekwensi terhadap syahadat yang terbebas dari syirik.
    ——————–
    2. konsekwensi dari syahadat Muhammad Rasulullah, dengan mengikuti apa yang dianjurkan dan meninggalkan bid’ah (yang diada-adakan).
    ————————————–

    Mari kita bandingkan apakah yasinan tersebut sudah mengikuti syarat tersebut
    ————————
    • Yasinan mengkhususkan dengan surat Yasin, padahal tidak ada dalil yang shahih yang mengkhususkan surat tersebut.
    • Yasinan mengkhususkan pada hari tertentu saja (tiap malam jumat) namun dalil mengenai hal itu adalah lemah.
    • Mengkhususkan pada waktu atau acara tertentu (sebelum dan sesudah kematian ). Padahal Al-Qur’an dan Hadist tidak mengajarkan hal itu.
    • Dilakukan dengan cara berjamaah, membaca secara seperti paduan suara dan tidak jelas makhraj dan tajwidnya. Padahal Rasulullah mengajarkan membaca Al-Qur’an dengan tartil, pelan, benar dan teratur, dibaca oleh satu orang yang lain mendengarkan.
    ——————————
    mari kita lihat dalil-dalil yang menjelaskan yasinan tersebut.

    “ barangsiapa yang membaca surat Yasin dalam suatu malam, maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya. Dan siapa yang membaca surat ad-Dukhan pada malam Jumat, maka ketika dia bangun pagi harinya maka diampuni dosanya”
    ——————————–
    Keterangan : hadist ini palsu : Ibnu Jauzi mengatakan, semua jalannya adalah bathil, tidak ada asalnya. Imam Daruquthni berkata, Muhammad bin Zakaria yang ada dalam sanad hadit adalah tukang pemalsu hadist.
    ——————————
    Hadist lainnya

    “Siapa yang membaca surat Yasin satu kali, maka seolah-olah ia membaca Al-Qur’an sepuluh kali”.

    Keterangan : hadist ini Maudhu (palsu) diriwayatkan oleh imam Baihaqi dalam Syuabul Iman. Rasanya tidak perlu lagi membaca surat lain, karena dengan membaca surat Yasin seperti sudah khatam Al-Qur’an 10 kali.

    Begitulah yang terjadi pada masyarakat kita sekarang ini, beribadah tetapi sia-sia, karena menggunakan dalil yang lemah atau palsu sehingga tidak menimbulkan manfaat sedikitpun untuk dirinya.

    3. RUWAHAN

    Ruwahan berasal dari ajaran agama hindu yang percaya dengan roh-roh. Setelah Islam masuk maka nenek moyang melakukan upacara untuk menyambut roh pendahulunya karena memasuki bulan ramadhan roh tersebut akan mengunjungi anak cucunya.

    Upacara ruwahan ini dilakukan dengan mengundang orang banyak untuk mengikuti yasinan bersama, dan mendokan bersama kepada arwah yang telah meninggal tersebut.

    Ruwahan dalam pandangan hadist

    Hadist pertama

    “ ada enam perkara, orang yang aku (kata Nabi S.A.W) laknat dan Allah juga melaknatnya, padahal setiap permohonan Nabi itu diperkenankan :

    1. orang yang menambahi kitab Allah
    2. orang yang mendustakan ketentuan Allah
    3. orang yang mengalah kepada pemerintah yang sombong lagi kejam.
    4. orang yang menghalalkan larangan Allah
    5. orang yang menghalalkan dari keturunanku yang Allah haramkan.
    6. orang yang meninggalkan sunnahku”
    hadist kedua,.

    Jauhilah oleh kalian setiap perkara yang baru (dalam agama), karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.

    Dari hadist tersebut dapat disimpulkan

    • Orang yang melaksanakan ruwahan tidak diterima amal dan sedeqahnya karena menyalahi perintah Allah dan Rasul, apalagi jika agar disenangi orang banyak sehingga menjadikan nya riya.
    • Orang yang melaksanakan ruwahan mendapat laknat dari Allah
    • Orang yang mengajak dan diajak sama-sama memikul dosanya.
    • Orang yang melakukan ruwahan akan dimasukan kedalam neraka..

    4. TAWASSUL

    Tawasul menurut ulama adalah perantara antara hubungan manusia dengan Allah S.W.T

    Namun tawassul yang dilakukan pada zaman sekarang ini sudah mengalami pergeseran karena seringkali kita lihat bahwa banyak orang bertawassul dengan benda yang dianggap keramat, kuburan, dan sebagainya.

    Dalam surat Al-Hajj ayat 73

    ”Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah”

    Jadi meminta doa kepada orang yang telah mati ( walaupun itu adalah seorang Syekh atau ulama ) maka perbuatan itu adalah sia-sia, karena orang yang mati itupun tidak mampu untuk menolong dirinya sendiri. Begitu juga menggunakan makam orang-orang shaleh sebagai perantara dalam berdoa juga merupakan perbuatan yang sia-sia, bisa menjadi Syirik.

    Dalam surat Ar-Rad ayat 14

    “Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya[769]. Dan doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka”.

    Doa yang dibolehkan hanya ditujukan kepada Allah. Bahkan kita diwajibkan untuk selalu berdoa kepada Allah sebagai salah satu bentuk pelaksanaan ibadah kepada Allah. Apabila kita ingin bertawassul menjadikan perantara dalam berdoa maka ini pun hanya boleh dilakukan kepada orang yang masih hidup seperti orang tua, anak yatim, ulama dan orang-orang shaleh lainnya yang mempunyai keutamaan dalam hal agamanya. Tapi kita tidak dibolehkan menjadikan orang-orang kafir sebagai perantara dalam berdoa.

    Dalam sebuah hadits

    Ada seorang laki-laki masuk ke mesjid, sementara Nabi S.A.W sedang berkhutbah. Lalu laki-laki itu berkata, ya Rasulullah, harta kekayaaan telah hancur (akibat kemarau panjang), segala usaha telah terputus, maka mohonkanlah kepada Allah agar kita ditolong (diturunkan hujan)) kemudian Nabi SAW berdoa menadahkan tangannya dan tidak lama kemudian turunlah hujan selama satu minggu.

    5. ISTIGHOSAH.(MEMINTA PERTOLONGAN)

    1. Meminta pertolongan kepada orang yang sudah mati adalah syirik besar sekalipun itu adalah makam Nabi Saw
    2. meminta pertolongan kepada orang masih hidup dibenarkan oleh syariat, dengan meyakini bahwa Allah yang mengabulkan.
    3. meminta pertolongan kepada makhluk selain manusia yang masih hidup sangat bertentangan dengan syariat Islam dan bisa terjerumus kedalam syirik akbar.

    Al-Qur’an surat An-Naml ayat 80

    “Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling membelakang”.

    6. TABARRUK (MENCARI BERKAH)

    Tabarruk adalah mencari berkah. Namun kita tidak dibolehkan bertabarruk dengan perantara sesuatu yang tidak mampu berbuat apa-apa.

    Contoh tabarruk yang dilarang

    a. bertabaruk dengan kubur Rasulullah Saw apalagi kuburan selain rasul atau melakukan perjalanan hanya untuk mengunjungi pemakamannya.
    b. Berdoa dimakam Rasulullah dan menyangka doa disana akan langsung dikabulkan.
    c. Bertabarruk dengan orang-orang shaleh yang telah mati
    Bertabaruk dengan cara seperti diatas dapat menjadikan haram karena telah melakukan bid’ah dalam agama, dan bisa juga menjadi musyrik karena telah mempersekutukan Allah dalam beribadah.

    Bertabarruk yang dibolehkan misalnya berzikir dan membaca Al-Qur’an agar mendapatkan keberkahan

    7. ZIARAH KUBUR

    Ziarah kubur dianjurkan oleh syariat dengan tujuan agar mengambil pelajaran dan ingat akan kematian kita sendiri dengan tidak berkata yang membuat Allah murka.

    Ziarah kubur dimaksudkan agar para peziarah mengambil pelajaran dengan mengingat mati sehingga setelah itu ia meminta ampunan dan bertobat kepada Allah atas segala dosa yang telah diperbuat sebelumnya. Namun bila berziarah kubur selain dari pada tujuan tersebut maka tidaklah dianjurkan untuk melakukannya, karena merupakan bid’ah. Apalagi kalau berziarah kubur untuk meminta doa, meminta berkah, meminta ilmu kesaktian, meminta kesembuhan dan sebagainya itu adalah termasuk kedalam syirik akbar.

    8. MAULID NABI

    Maulid Nabi Saw adalah suatu perayaan peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad Saw. Pada zaman sekarang ini sangat marak acara peringatan tersebut dilakukan di berbagai daerah. Namun sangat jauh dari makna peringatan maulid nabi Saw tersebut. Peringatan maulid nabi dilakukan dengan menghidangkan berbagai macam hidangan sehingga seringkali menimbulkan mubazir. Dan acara maulid nabi diisi dengan tarian dan musik yang tidak ada hubungan dengan syariat sediktpun.

    Jika kita ingin memperingati maulid nabi sebagai bentuk kecintaan kita kepada Rasulullah dapat dilakukan dengan cara lain yang lebih bermanfaat dan bernilai ibadah. Misal

    Mengikuti Nabi Muhammad Saw, mengerjakan sunnahnya, mengikuti perkataannya, menjalan perintahnya, dan menjauhi larangannya ( ali imran ayat 31)

    Mendahulukan apa yang disyariatkan dan diperintahkan oleh Rasulullah Saw, dari pada hawa nafsunya dan keinginan sendiri. ( surat Al Hasyr ayat 9)

    Banyak mengingat Rasulullah Saw, orang yang cinta kepada sesuatu, dia akan selalu mengingatnya ( surat Al-Ahzab ayat 56)

    Sumber ringkasan : Membongkar Kesesatan Tahlilan, Yasinan, Ruwahan, Tawassul, Istighotsah, Ziarah, Maulid Nabi Saw, Basyaruddin bin Nurdin Shalih Syuhaimin, Mujahid Press Bandung, 2008.

    Demikianlah ringkasan dari bentuk ibadah yang banyak terjadi sekarang ini namun semua itu tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah Saw, bahkan Rasulullah Saw sendiri mengingatkan kepada kita bahwa semua yang tidak berasal dari beliau adalah bid’ah. Sedangkan bid’ah adalah sesat dan kesesatan ada dalam neraka.. semoga kita terlindung dari segala perbuatan bid’ah tersebut.

    Agama adalah dalil, jangan mengingkari setiap perkataan yang didasarkan pada dalil yang berasal dari Rasulullah

Leave a Reply