Loading
di SURGA ….. melihat Allah .. karena CINTA pada Allah———————— di SURGA ….. bertemu/bersama dg ….ORANG yg diCINTAinya ———————- Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) menCINTAi ALLAH, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran[3]:31). ——————————— Rasulullah saw bersabda, “Seseorang (di hari kiamat….. di jannah/surga) akan BERSAMA ORANG yang diCINTAinya, dan engkau akan bersama yang ENGKAU CINTAii.” … (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya, lihat Fath al-Bari [X/557 no: 6171] dan at-Tirmidzi dalam Sunan-nya [2385]). ————————————– Orang Mukmin Akan Melihat Allah Di Akhirat {DI surga Allah } | EP Artikel-Edy Gojira

di SURGA ….. melihat Allah .. karena CINTA pada Allah———————— di SURGA ….. bertemu/bersama dg ….ORANG yg diCINTAinya ———————- Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) menCINTAi ALLAH, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran[3]:31). ——————————— Rasulullah saw bersabda, “Seseorang (di hari kiamat….. di jannah/surga) akan BERSAMA ORANG yang diCINTAinya, dan engkau akan bersama yang ENGKAU CINTAii.” … (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya, lihat Fath al-Bari [X/557 no: 6171] dan at-Tirmidzi dalam Sunan-nya [2385]). ————————————– Orang Mukmin Akan Melihat Allah Di Akhirat {DI surga Allah }

di SURGA ….. melihat Allah .. karena CINTA pada Allah————————
di SURGA ….. bertemu/bersama dg ….ORANG yg diCINTAinya
———————-
Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) menCINTAi ALLAH, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran[3]:31).
————————–——-
Rasulullah saw bersabda, “Seseorang (di hari kiamat….. di jannah/surga) akan BERSAMA ORANG yang diCINTAinya, dan engkau akan bersama yang ENGKAU CINTAii.” … (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya, lihat Fath al-Bari [X/557 no: 6171] dan at-Tirmidzi dalam Sunan-nya [2385]).
————————–————
Orang Mukmin Akan Melihat Allah Di Akhirat {DI surga Allah }

Kaum mukminin mengimani akan melihat Allah dengan mata kepala sendiri di akhirat, termasuk salah satu wujud iman kepada Allah, kitab-kitabNya dan rasul-rasulNya. Mereka akan melihatnya secara jelas, bagaikan melihat matahari yang bersih, sedikitpun tiada terliputi awan. Juga bagaikan melihat bulan pada malam purnama, tanpa berdesak-desakan.

Demikian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskannya dalam Al Aqidah Al Wasithiyah [1]. Dan ini merupakan kesepakatan Salafush Shalih Radhiyallahu ‘anhum.

Imam Ibnu Abi Al Izz Al Hanafi, pensyarah kitab Aqidah Thahawiyah, menegaskan bahwa jelasnya kaum mukminin melihat Rabb-nya pada hari akhirat nanti, telah dinyatakan oleh para sahabat, tabi’in, serta para imam kaum muslimin yang telah dikenal keimaman mereka dalam agama. Begitu pula para ahli hadits dan semua kelompok Ahli Kalam yang mengaku sebagai Ahli Sunnah Wal Jama’ah. [2]

Mengapa demikian? Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan, salah seorang ulama senior di Saudi Arabia, menjelaskan [3] : “Sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberitakan hal tersebut dalam KitabNya ; Al Qur’an Al Karim. Begitu pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah memberitakannya dalam Sunnahnya. Barangsiapa yang tidak mengimani kejadian ini, berarti ia mendustakan Allah, kitab-kitabNya dan rasul-rasulNya. Sebab orang yang beriman kepada Allah, kitab-kitabNya dan rasul-rasulNya, akan beriman pula kepada segala yang diberitakannya”.

Dalil-dalilnya, seperti yang dikemukakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Al Aqidah Al Wasithiyah [4]

DALIL DARI AL QUR’AN AL KARIM
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وُجُوهُُ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabb-nya mereka melihat.. [Al Qiyamah : 22-23].

Imam Ibnu Katsir rahimahullah [5] menerangkan maksudnya, yaitu mereka melihat Allah dengan mata kepala mereka sendiri, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya [6] yang akan diketengahkan di bawah nanti –Insya Allah-.

Imam Ibnu Abi Al Izz rahimahullah mengatakan: “Ayat di atas termasuk salah satu dalil yang paling nyata”. Selanjutnya, setelah beliau mengemukakan akibat rusaknya tahrif (ta’wil), beliau mengatakan: “Dihubungkannya kata-kata nazhar (nazhirah, memandang) dengan wajah (wujuh) yang merupakan letak pandangan. Ditambah dengan idiom “ilaa” yang secara tegas menunjukkan pandangan mata, disamping tidak adanya qarinah yang menunjukkan makna lain, maka jelas dengan ayat itu, Allah memaksudkannya sebagai pandangan mata yang ada di wajah manusia, memandang Allah Azza wa Jalla“ [7]

Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

عَلَى اْلأَرَآئِكِ يَنظُرُونَ

Mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. [Al Muthaffifin : 35].

Ibnu Katsir rahimahullah kembali menjelaskan arti memandang, yakni mereka melihat Allah Azza wa Jalla. [8]

Selanjutnya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. [Yunus:26].

Syaikh Shalih Al Fauzan menjelaskan: ziyadah (tambahan dari pahala yang terbaik) dalam ayat di atas, maksudnya ialah melihat Wajah Allah, sebagaimana tafsir yang dikemukakan oleh Rasulullah n tentangnya, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Muslim (haditsnya akan di ketengahkan di bawah, Insya Allah, Pen). Para Ulama Salaf juga menegaskan tafsir yang demikian itu [9].

Berikutnya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لَهُم مَّايَشَآءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ

Mereka di dalamnya (surga) memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami adalah tambahannya. [Qaf : 35]

Syaikh Shalih Al Fauzan juga menjelaskan makna tambahan pada ayat di atas, artinya ialah melihat Wajah Allah Azza wa Jalla [10]. Begitu juga Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan: Ayat ini, seperti firman Allah

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. [Yunus:26].

Yaitu seperti dalam riwayat Muslim dari Shuhaib bin Sinan Ar Rumi, bahwa maksud ayat tersebut adalah melihat Wajah Allah Yang Mulia [11].

Demikianlah beberapa dalil dari Al Qur’an yang dikemukakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Al Aqidah Al Wasithiyah tentang melihatnya kaum mu’minin pada wajah Allah.

Sementara itu, berkaitan dengan mafhum dari firman Allah:

كَلآَّإِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ

Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka. [Al Muthaffifin:15].

Imam Syafi’i rahimahullah, seperti dinukil oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya [12] menegaskan : “Dalam ayat ini terdapat dalil, bahwa kaum mu’minin akan melihat Rabb-nya pada hari (akhirat) itu”.

Di tempat lain (yaitu pada tafsir surat Al Qiyamah ayat 22-23), Ibnu Katsir menukil perkataan Imam Syafi’i lainnya berkenaan dengan surat Al Muthaffifin ayat 15. Yaitu: “Orang kafir tidak tertutup pandangannya dari melihat Allah, kecuali karena sudah difahami bahwa orang-orang abrar (kaum mu’minin) akan melihat Allah Azza wa Jalla.”

DALIL-DALIL DARI HADITS NABI SHALALLLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM
Sebenarnya, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Katsir [13] dan lain lain, hadits yang menyatakan bahwa kaum mu’minin akan melihat Allah di akhirat secara nyata dan dengan mata kepala mereka, adalah merupakan hadits mutawatir. Bahkan Ibnu Katsir menyatakan, bahwa kenyataan ini tidak mungkin dapat ditolak. Hanya saja, disini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mencukupkan pemaparan satu hadits saja. Yaitu hadits yang muttafaq ‘alaih.

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لاَ تَضَامُّوْنَ فِي رُؤْيَتِهِ، فَإِنِ اْستَطَعْتُمْ أَنْ لاَ تُغْلَبُوْا عَلَى صَلاَةٍ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وَصَلاَةٍ قَبْلَ غُرُوْبِهَا فَافْعَلُوْا

Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini (dalam permulaan hadits, diceritakan; waktu itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang melihat bulan yang tengah purnama). Kalian tidak berdesak-desakan ketika melihatNya (ada yang membaca la tudhamuna tanpa tasydid dan di dhammah ta’nya, artinya: kalian tidak akan ditimpa kesulitan dalam melihatNya). Oleh karena itu, jika kalian mampu, untuk tidak mengabaikan shalat sebelum terbit matahari (Subuh) dan shalat sebelum terbenam matahari (Ashar), maka kerjakanlah. [14]

Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan menerangkan makna hadits di atas, (yaitu) kalian akan melihat Allah semata-mata dengan pandangan mata kepala kalian. Dan hadits-hadits tentang ini adalah mutawatir [15].

Begitu pula Imam Ibnu Hajar Al Asqalani serta Imam Nawawi, dalam mensyarah hadits-hadits yang dipaparkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim menegaskan secara jelas, bahwa kaum mu’minin di akhirat kelak akan melihat Allah semata-mata dengan pandangan mata [16]. Bahkan dalam menafsirkan hadits:

أَمَا إِنَّكُمْ سَتُعْرَضُوْنَ عَلَى رَبِّكُمْ فَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ

Ketahuilah, sesungguhnya kalian akan di hadapkan kepada Rabb kalian, maka kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini. [HR Muslim].

Imam Nawawi mengatakan, artinya kalian akan melihat Allah secara nyata, tidak ada keraguan dalam melihatNya, dan tidak pula ada kesulitan padanya. Seperti halnya kalian melihat bulan (purnama) ini secara nyata, tidak ada kesulitan dalam melihatnya. Yang diserupakan disini adalah cara melihatnya, bukan Allah diserupakan dengan bulan [17].

Di samping hadits muttafaq ‘alaih yang berasal dari hadits Jarir bin Abdillah serta hadits riwayat Muslim di atas, masih banyak hadits lainnya, antara lain:
Sabda Rasulullah n yang juga berasal dari Jarir bin Abdillah:

إنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ عِيَانًا

Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian dengan semata-mata. [HR Bukhari] [18].

Diantaranya lagi hadits dari Shuhaib bin Sinan, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda:

إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ، قَالَ : يَقُوْلُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : تُرِيْدُوْنَ شَيْئًا أَزِيْدُكُمْ؟ فَيَقُولُوْنَ : أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوْهَنَا؟ أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ؟ قَالَ : فَيُكْشَفُ الْحِجَابُ فَمَا أُعْطُوْا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ .

Apabila penghuni surga telah masuk surga, Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,”Apakah kalian menginginkan sesuatu yang dapat Aku tambahkan?” Mereka menjawab,”Bukankah Engkau telah menjadikan wajah-wajah kami putih berseri? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka?” Nabi bersabda,”Maka disingkapkanlah tabir penutup, sehingga tidaklah mereka dianugerahi sesuatu yang lebih mereka senangi dibandingkan anugerah melihat Rabb mereka Azza wa Jalla.”

Dalam riwayat lain dari riwayat Abu Bakar bin Abi Syaibah, ada tambahan riwayat : Kemudian Rasulullah membacakan ayat :

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya [19].

Jadi hadits tersebut jelas menunjukkan, bahwa maksud ziyadah (tambahan) pada ayat di atas ialah melihat Allah Azza wa Jalla, seperti telah dipaparkan di muka.

Juga hadits Abu Hurairah berikut:

أَن النَّاسَ قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: هَلْ تُضَارُّوْنَ فِى الْقَمَرِ لَيِلَةَ الْبَدْرِ ؟ قَالُوْا: لاَ يَا رَسُوْلَ اللهِ. قَالَ : فَهَلْ تُضَارُّوْنَ فِى الشَّمْسِ لَيْسَ دُوْنَهَا سَحَابٌ؟ قَالُوْا: لاَ يَا رَسُوْلَ اللهِ. قَالَ : فَإِنَّكُمْ تَرَوْنَهُ كَذَلِكَ…الحديث.

Sesungguhnya orang-orang (para sahabat) bertanya,”Wahai, Rasulullah. Apakah kami akan melihat Rabb kami pada hari kiamat nanti?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam balik bertanya,”Apakah kalian akan mengalami bahaya (karena berdesak-desakan) ketika melihat bulan pada malam purnama?” Mereka menjawab,”Tidak, wahai Rasulullah.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi,”Apakah kalian juga akan mengalami bahaya (karena berdesak-desakan) ketika melihat matahari yang tanpa diliputi oleh awan?” Mereka menjawab,”Tidak, wahai Rasulullah.” Maka Beliau bersabda,”Sesungguhnya, begitu pula ketika kalian nanti melihat Rabb kalian”…sampai akhir hadits. [20]

Demikianlah sebagian kecil hadits shahih diantara sekian banyak hadits shahih lainnya, yang semuanya menyatakan bahwa kaum mu’minin kelak akan melihat Allah dengan mata kepala sendiri di akhirat. Sebelumnya, beberapa ayat Al Qur’anpun telah dipaparkan untuk membuktikan hal itu. Sungguh suatu nikmat luar biasa yang dianugerahkan Allah kepada kaum mu’minin, sebagai tambahan nikmat kepada mereka.

Sebenarnya, masih banyak hadits-hadits lainnya, baik yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim di beberapa tempat dalam kitab shahih masing-masing, maupun yang diriwayatkan oleh imam-imam lain, seperti Imam Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan lain-lain. Namun di sini cukuplah kiranya pemaparan beberapa dalil di atas.

Intinya, para ulama menyatakan bahwa hadits-hadits tentang melihatnya kaum mu’minin kepada Allah pada hari kiamat mencapai derajat mutawatir. Oleh karena itu, wajib bagi setiap insan yang beriman kepada Allah, kitab-kitabNya serta rasul-rasulNya, untuk mengimani masalah ini. Barangsiapa tidak mengimaninya, sama artinya dengan mendustakan Allah, kitab-kitabNya serta rasul-rasulNya, sebagaimana dinyatakan oleh Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan pada permulaan tulisan ini.

Melihat wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan dambaan setiap insan yang benar-benar beriman dan cinta kepadaNya. Ternyata kelak akan menjadi kenyataan. Bukankah itu merupakan nikmat luar biasa?.Nas’alullah Al Jannah wan nazhar ila wajhihi Al Karim.

Maraji’
1. Syarh Al Aqidah Al Wasithiyah, Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan.
2. Syarh Al Aqidah Ath Thahawiyah, Imam Ibnu Abi Al Izz.
3. Tafsir Ibnu Katsir
4. Fathul Bari Syarah Shahih Al Bukhari.
5. Shahih Muslim Syarah Nawawi, (Tahqiq: Khalil Ma’mun Syiha).
6. Shahih Sunan At Tirmidzi.
7. Shahih Sunan Ibnu Majah.

berbagai sumber

About Edy Gojira 722 Articles
sampaikanlah .... kebenaran ayat-ayat Allah

1 Comment on di SURGA ….. melihat Allah .. karena CINTA pada Allah———————— di SURGA ….. bertemu/bersama dg ….ORANG yg diCINTAinya ———————- Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) menCINTAi ALLAH, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran[3]:31). ——————————— Rasulullah saw bersabda, “Seseorang (di hari kiamat….. di jannah/surga) akan BERSAMA ORANG yang diCINTAinya, dan engkau akan bersama yang ENGKAU CINTAii.” … (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya, lihat Fath al-Bari [X/557 no: 6171] dan at-Tirmidzi dalam Sunan-nya [2385]). ————————————– Orang Mukmin Akan Melihat Allah Di Akhirat {DI surga Allah }

  1. SURGA = mendapatkan apa yg mereka … KEHENDAKI.. Al Furqaan:16
    –SURGA = mendapatkan yg diINGINkan HATI …. Az Zukhruf:71
    — di SURGA = BERSAMA dg orang yg diCINTAinya
    …………………………………………………………………………………
    “Tidak ada seorang yang membujang pun di surga”[As-Shahihah no 1736 dan 2006, syaikh Al-Albani]
    ……………………………………………………………………………..
    engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari no. 6171 dan Muslim no. 2639
    ……………………………………………..
    Dalam riwayat Tirmidzi disebutkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
    الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ وَأَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

    “Seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai. Dan engkau akan bersama orang yang engkau cintai.” (HR. Tirmidzi no. 2385. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
    …………………………………………………….
    Dalam riwayat lain, Anas mengatakan, “Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).”Anas pun mengatakan, “Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.” (HR. Bukhari no. 3688)

Leave a Reply