Loading
berKACA … pada diri kita sendiri …. kita termasuk JAHILIYAH kuno atau .. jAHILIYAH MODERN ??? —————————————- atau … golongan MUKMIN ?? atau HANYA mengaku MUKMIN ??? —————————————————- Makna Jahiliyah Pada dasarnya kata jahiliyah kerap kali dihubungkan dengan jahil, yang berarti bodoh atau kebodohan. Tentu jahiliyah yang dimaksud dalam Al-Qur�an dan hadits tak berhenti pada definisi ini. Sebagaimana kata �shalat� yang asalnya bermakna �doa�, kemudian memiliki definisi dalam konsep Islam sebagai berikut: �serangkaian ibadah kepada Allah berupa ucapan dan perbuatan yang tata caranya sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW�. Demikian pula banyak kata lain seperti zakat, iman, kufur, dan lain-lain. —————————————- Lalu, apa dan bagaimana sebenarnya karakteristik jahiliyah itu? Berikut beberapa pengertian jahiliyah yang dimaksud dalam terminologi Islam : ??? | EP Artikel-Edy Gojira

berKACA … pada diri kita sendiri …. kita termasuk JAHILIYAH kuno atau .. jAHILIYAH MODERN ??? —————————————- atau … golongan MUKMIN ?? atau HANYA mengaku MUKMIN ??? —————————————————- Makna Jahiliyah Pada dasarnya kata jahiliyah kerap kali dihubungkan dengan jahil, yang berarti bodoh atau kebodohan. Tentu jahiliyah yang dimaksud dalam Al-Qur�an dan hadits tak berhenti pada definisi ini. Sebagaimana kata �shalat� yang asalnya bermakna �doa�, kemudian memiliki definisi dalam konsep Islam sebagai berikut: �serangkaian ibadah kepada Allah berupa ucapan dan perbuatan yang tata caranya sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW�. Demikian pula banyak kata lain seperti zakat, iman, kufur, dan lain-lain. —————————————- Lalu, apa dan bagaimana sebenarnya karakteristik jahiliyah itu? Berikut beberapa pengertian jahiliyah yang dimaksud dalam terminologi Islam : ???

berKACA … pada diri kita sendiri …. kita termasuk JAHILIYAH kuno atau .. jAHILIYAH MODERN ???
————————–————– atau … golongan MUKMIN ?? atau HANYA mengaku MUKMIN ???
————————–————————–
Makna Jahiliyah
Pada dasarnya kata jahiliyah kerap kali dihubungkan dengan jahil, yang berarti bodoh atau kebodohan. Tentu jahiliyah yang dimaksud dalam Al-Qur�an dan hadits tak berhenti pada definisi ini. Sebagaimana kata �shalat� yang asalnya bermakna �doa�, kemudian memiliki definisi dalam konsep Islam sebagai berikut: �serangkaian ibadah kepada Allah berupa ucapan dan perbuatan yang tata caranya sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW�. Demikian pula banyak kata lain seperti zakat, iman, kufur, dan lain-lain.
—————————————-
Lalu, apa dan bagaimana sebenarnya karakteristik jahiliyah itu? Berikut beberapa pengertian jahiliyah yang dimaksud dalam terminologi Islam :
——————————————-
1. Tidak Mengetahui Hakikat Ilahiyah

Inilah konsep jahiliyah paling kentara. Dimana kebodohan yang dimaksud ialah ketidaktahuan tentang kepada siapa dan bagaimana kita beribadah. Masyarakat Quraisy era awal kenabian bukanlah yang tak tahu siapa Ilah (sembahan) mereka, tetapi mereka salah dalam tataran teknis beribadah kepada Allah SWT. Artinya, sebenarnya benih tauhid peninggalan Nabi Ibrahim AS sebenarnya masih ada. Perbuatan taklid buta seorang pemimpin Bani Khuza�ah bernama Amr bin Luhay kemudian membawa bangsa Arab menyembah berhala-berhala bernama Hubal, Manat, Uzza, dan lain-lain (Al-Mubarakfuri, 1414 H). Syeikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri menambahkan bahwa penyimpangan mereka dalam hal ini tak hanya dari sisi ibadah ritual. Mereka juga sangat percaya kepada ath-thiyarah, yaitu meramal sesuatu dengan perantara burung atau biri-biri. Ini dilakukan saat akan menentukan satu di antara dua atau lebih pilihan. Padahal Allah SWT yang memiliki kuasa menunjukkan mana yang lebih baik untuk kita. Miskonsepsi tentang Ilahiyah ini pula yang pernah menjangkiti kaum Nabi Musa AS (Baca QS Al-A�raf: 138).

2. Terjebak pada Perbuatan Menyalahi Perintah Allah dan Hal yang Diharamkan

Pengertian tentang ini bisa kita simpulkan dari QS Yusuf: 33. Singkatnya, kaum jahiliyah masa itu banyak menyelisihi apa yang Allah perintahkan sambil asyik berbuat yang telah diharamkan-Nya. Contoh sederhananya ialah membunuh anak perempuan. Ini sudah menjadi tradisi di masa itu. Bahkan Umar bin Khathab pernah pula melakukannya sebelum masuk Islam. Hingga kemudian ini paham ini diberantas dengan konsep memuliakan perempuan yang Islam bawa.

3. Berhias dan Bertingkah Laku Menyalahi Perintah Allah.

Ketika Allah SWT memerintahkan kesederhanaan serta tingkah laku yang mulia, masyarakat jahiliyah justru saling menyombongkan antar sesama kaum berada. Tak segan pula mereka menindas rakyat kecil jika mereka tidak menyukainya. Firman Allah dalam QS Al-Ahzab: 33 menyiratkan jahiliyah dalam pengertian seperti ini.

4. Berhukum dengan Selain Hukum Allah

Tentu hukum yang dimaksud di sini tak hanya dalam tataran pemerintahan saja. Ketidakpatuhan terhadap nilai-nilai kejujuran, keadilan, kemanusiaan, dan lain-lain yang sudah menjadi standar universal juga masuk kategori ini. Kebanyakan apa yang mereka putuskan hanya berdasarkan asas �siapa yang kuat, dia yang menang�. Mereka tak hiraukan lagi hukum yang telah diwariskan Nabi Ibrahim AS Kita bisa menyimpulkan hal ini dari QS Al-Maidah: 50.

Namun demikian, Syeikh Al-Mubarakfuri tak memungkiri banyak pula masyarakat jahiliyah kala itu yang masih memiliki beberapa sikap hidup positif. Di antara akhlaq tersebut ialah kedermawanan, memenuhi janji, pantang mundur, keberanian, dan lain-lain. Sehingga, memang sepertinya fokus utama makna jahiliyah lebih cocok dititikberatkan pada poin pertama. Artinya, meskipun masih ada sebagian yang mempraktekkan akhlaq terpuji, pandangan tentang konsep ibadah kepada Allah SWT yang salah kemudian membawa mereka kepada banyak kesalahan lain.
————————–—————
Jahiliyah Modern?
————————–———
Melihat pengertian jahiliyah di atas, banyak orang kemudian menyebut saat ini pun kita masih berada dalam zaman jahiliyah. Lebih tepatnya yaitu �jahiliyah modern�. Bolehlah kita tak setuju tentang istilah ini. Namun, yang terpentingnya ialah bagaimana kita seharusnya menyikapi keadaan saat ini.

Muhammad Quthb dalam bukunya, Jahiliyatul Qarnil ‘Isyrin (Jahiliyah Abad 20), menyimpulkan bahwa jahiliyah modern merupakan ringkasan dari segala bentuk kejahiliyahan masa silam dengan tambahan aksesori di sana-sini sesuai dengan perkembangan zaman. Sikap jahiliyah modern tidak timbul secara mendadak melainkan telah melalui kurun waktu panjang

Sebagaimana bisa kita saksikan, memang kita tak bisa mengelak bahwa dunia ini belum bisa lepas dari cengkeraman jahiliyah secara total. Masih terlalu banyak sisi kehidupan yang belum tercelup dengan keagungan Islam. Di balik makin gencarnya syi�ar Islam, musuh-musuh Islam pun getol menghembuskan paham jahiliyah modern ini. Dengan kemasan elegan dan modern banyak kaum Muslimin yang tergiur mencicipinya. Tentu setelah mencicipi, yang terjadi bukan berhenti setelahnya, tetapi justru ketagihan.

Aksi Kita

Mengetahui masih berlangsungnya periode jahiliyah lanjutan ini, hendaknya kita tak tinggal diam. Kita harus mencontoh spirit dan tindakan yang Rasulullah SAW lakukan kala itu. Tentu beberapa penyesuaian juga perlu kita lakukan dalam aksi yang akan kita lakukan. Namun, pondasi prinsip perbaikan yang kita lakukan harus tetap berpijak pada Nabi Muhammad SAW. Contohnya, jika Rasulullah saat itu memulai dakwah dengan pemurnian tauhid, maka kita pun patut contoh beliau. Paham atheis, sepilis (sekularisme, pluralisme, dan liberalisme), materialis, dan paham lain yang mencederai Islam harus jadi konsentrasi kita. Ketika pemikiran kita sudah baik, maka tindakan Insya Allah akan baik pula. Demikian yang Dr. Wan Nor Muh. Dawud pernah ungkapkan. Rasulullah SAW juga pernah mensinyalir hal ini dalam beberapa sabdanya. Artinya, di sini posisi keyakinan dan pemikiran harus terus sejalan dengan apa yang Islam telah ajarkan.

Kemudian, upaya pembinaan generasi muda juga telah Rasulullah SAW contohkan. Tak heran jika kemudian muncul sosok seperti Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin �Abbas, Mush�ab bin Umair, Khalid bin Walid, dan banyak sahabat Nabi SAW yang mencapai kematangan spiritual di usia muda. Kematangan mereka merupakan kematangan paripurna di berbagai sisi kehidupan. Mereka pun menjadi motor penggerak utama yang siap membantu dakwah Rasulullah. Oleh karenanya, semboyan �Pemuda saat ini adalah pemimpin masa mendatang� harus kita pegang kuat-kuat jika menginginkan risalah Islam tetap langgeng.

Selanjutnya, misi memulihkan kepercayaan manusia kepada Islam sebagai solusi juga penting. Rasulullah SAW sadar bahwa walaupun Islam di Madinah waktu itu sudah lebih baik daripada saat masa jahiliyah di Mekah. Namun, beliau tak lupa bahwa beliau diutus sebagai rahmatan lil �alamin. Artinya kedatangan beliau dengan risalahnya harus pula dirasakan dampaknya oleh selain umat Islam. Akibatnya, kehidupan damai beserta kaum lain agama pun tercipta kala itu. Beliau sebagai pimpinan tak semena-mena dan kaum non Muslim pun segan hormat terhadap beliau dan Islam. Wajar pula jika kemudian banyak bangsa lain memilih �ditaklukkan� kaum Muslimin daripada di bawah pemerintahan kaum lain yang zhalim. Ini memberi pelajaran kepada kita semua bahwa kita pun selayaknya memiliki tujuan ke arah sana. Ketika semua manusia belum bisa menerima Islam sebagai diin, maka kita harus bisa yakinkan bahwa sebenarnya mereka membutuhkan Islam. Akhirnya, ketika perasaan itu telah tumbuh subur pintu keluar dari jahiliyah model apa pun semakin dekat.
————————–—————
Salah satu hikmah diturunkanya nabi dan rosul adalah meluruska kembali apa yang menjadi sebuah kesalahan dari suatu masyarakat,dalam hal ini adalah masalah Aqidah(keimanan pada Allah Swt).
Suatu keadaan dimana masyarakat tersebut kembali mengingkari apa yang menjadi keyakinannya(syariat) dan menjadikan tandingan tandingan Allah swt sebagai sekutunya, sedangkan sifat para tokoh dan pelaku lainya dari waktu ke waktu tetap ada cuma permasalahannya wujud fisik nya tidaklah sama.
Dan tulisan ini sedikit mengajak untuk menelaah apakah zaman kita sekarang ini masuk dalam kategori zaman jahiliyah atau bukan,yang bersumber dari beberapa tulisan orang orang yang peduli terhadap islam dan berusaha mengembalikan kejayaan umat islam sebagai ” Khoiruummat ” /umat yang terbaik,yang diberikan oleh Allah.
Mengenai bahasan Jahiliyah ini,ada satu firman allah SWT:
“Apakah mereka menghendaki hukum jahiliyah? Dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum ALlah, bagi orang-orang yang yakin”. (Al-Maidah:50)
Ada yang menarik dari ayat singkat di atas, berkenaan dengan ma’na jahiliyyah. Ternyata Al-Qur’an tidak mendefinisikan kata “jahiliyah” sebagai “kebodohan”, “keterbelakangan” yang merupakan lawan-kata dari “berilmu pengetahuan”, “civilized” atau “kemajuan material”,melainkan mendefinisikannya sebagai suatu keadaan yang menolak hidayah Ilahi dan menolak hukum ALlah”. Jadi sikap “jahiliyah” merupakan lawan dari sikap bersedia menerima hidayah
Ilahi; kebalikan dari keikhlasan menerima hukum dan aturan yang datang dari ALlah.
Dengan kata lain, kejahiliyahan identik dengan hawa nafsu. Manusia yang hidup mengikuti dorongan hawa nafsu semata dan tidak mau mematuhi apa yang ditentukan ALlah, mereka itulah manusia yang berada dalam kejahiliyahan. Tak perduli bila dan dimana ia berada, satu-satunya yang membuat seseorang menjadi manusia jahiliyah adalah penolakan mereka terhadap hidayah Ilahi. Dengan demikian, bukan hanya orang-orang Arab pra-Islam saja yang berada
dalam suasana kejahiliyahan, melainkan juga setiap masyarakat yang hidupnya menyimpang dari tuntunan hidayah dan menuruti hawa nafsu saja. Sama halnya dengan keimanan, kejahiliyahan memiliki sejarah yang sangat tua di muka bumi ini. Keduanya berpangkal pada tabiat manusia yakni cenderung kepada kesesatan atau hidayah (91:8). Baik hidayah maupun jahiliyah, memperlihatkan bentuk dan coraknya masing-masing,seperti dalam bidang ekonomi, sosial, politik,budaya,

ilmu pengetahuan …Dari jaman doeloe hingga kini, pertentangan antara keduanya selalu terjadi. Di abad ini, yang sering disebut sebagai abad modern, maka kejahiliyahan pun muncul dengan segala ke-modern-annya.

– Menurut Muhammad Quthb dalam bukunya “Jahiliyatul Qarnil ‘Isyrin (Jahiliyah Abad 20), jahiliyah modern merupakan ringka san dari segala bentuk kejahiliyahan masa silam dengan tambahan asesori di sana-sini sesuai dengan perkembangan jaman. Sikap jahiliyahan modern yang tidak timbul secara mendadak melainkan telah melalui kurun waktu panjang. Secara spesifik beliau menjelaskan tentang Jahiliyah sebagaisuatu kehidupan tanpa hidayah allah,saat petunjuk allah dan rosulnya hanya dijadikan sebagai salah satu pertimbangan atau malah di campakan seluruhnya dari aspek kehidupan.Bahkan kejahiliyahan tidak hanya terdapat dalam bentuk teori saja,akan tetapi terdapat juga dalam suatu kelompok dinamis yang semacam itu(kelompok yg mengutamakan teori). Karenanya setiap usaha yg mencoba menghapuskan kejahiliyahan,lalu mengembalikannya pada hukum Allah, tidak bisa dan tidak akan ada artinya,jika hanya berteori semata.Bila demikian,maka tidak akan seimbang dengan kejahiliyahan yang dihadapi,jika tidak benar benar berusaha untuk merubahnya dan menghilangkan keberadaanya. karena kejahiliyahan terdapat dalam kelompok yang dinamis.
– Menurut IBNU taimiyah,Jahiliyah terbagi menjadi 3 :
1.Jahiliyah Khossoh : Dimana suatu bangsa sepakat menolak aturan allah dari seluruh undang-undangnya.
2.Jahiliyah Muthlaq : Kejahiliyahan yg terjadi dimana individu individu yang ada menolak untuk menjadikan islam sebagai aturan hidupnya.
3.Jahiliyah terbatas : Suatu keadaan dimana seorang muslim masih menyimpan benih kejahiliyahan di dalam dirinya,baik konsepsi(pemikiran) atau dalam perilaku.
Semua hal ini penyebabnya adalah “kebodohan”(Jahalah),yang terbagi lagi atas beberapa permasalahan:
1. Kebodohan dalam masalah tanggung jawab.
karena manusia tidak bersikap amanah pada allah,sebagai seorang hamba dan pemakmur bumi.
2. Kebodohan dalam masalah Aqidah.
penyebabnya adalah karena manusia tidak lagi berideologi pada apa yg allah berikan (islam),lebih memilih ideologi buatan manusia yang lebih condong pada kesesatan,baik Animisme maupun Dinamisme(adat istiadat).
3. Kebodohan dalam masalah Akhlaq.
penyebabnya adalah tidak terikatnya identitas diri serta perilaku seseorang dengan nilai-nilai islam.Hal inipun disebabkan oleh:
– Rekayasa musuh islam.
– Tradisi dalam masyarakat itu sendiri.
– Kejahiliyahan yang sudah mengakar kuat.
4. Kebodohan dalam pemikiran.
Biasanya ini disebabkan dan dipengaruhi oleh pola fikir dan pemahaman yang menyimpang,karena:
– Keterbatasan Informasi.
– Pemutar balikan Fakta yang berkaitan dengan islam oleh musuh-musuh islam,biasanya melalui media,baik cetak maupun elektronik.
5. Kebodohan dalam Loyalitas.
Kebodohan ini disebabkan oleh:
– Kurangnya memahami Aqidah islam,terlebih apa yg dapat membatalkan dan menyebabkan keluarnya aqidah islam dari dirinya.
– Menjadikan Alqur’an dan hadist hanya sebatas bacaan yg didengar dan di telaah saja,tanpa adanya amal dan perbuatan nyata.
– Tidak peduli terhadap permasalahan umat islam.
6. kebodohan dalam Da’wah.
Biasanya terjadi karena kurangnya memahami arti da’wah itu sendiri sertakurangnya memahami arti harokah islamiyah.sehingga da’wah yang dilakukan mandul dalam menghadapi kesesatan,kekufuran,dan upaya-upaya De-Islamisasi.
Malapetaka, lebih banyak terjadi akibat kejahiliyahan modern
ini, karena kejahiliyahan ini mempunyai banyak “wajah”, mempunyai
banyak kekuatan dan menciptakan kemudahan material bagi manusia.
Dengan kekuatan tersebut terkadang “kejahiliyahan” tak tampak
lagi sebagai sesuatu yang bathil … akibatnya jahiliyah modern
ini jauh lebih berbahaya dibanding jahiliyah masa silam.
Lalu bagaimana mengubah kejahiliyahan agar hilang,baik dalam suatu peradaban atau pun dalam pribadi manusia khususnya pribadi yg mengaku muslim.
Dari uraian -uraian diatas dapat di tarik kesimpulan,untuk merubahnya dengan jalan:
– Memahami Dienul islam secara benar,dengan jalan meluangkan wktu utk belajar ttg islam,
– Menumbuhkan tanggung jawab yg tinggi terhadap perintah allah dan rosul,dengan jalan mentarbiyah diri.
– Memperoleh dan menggali Informasi islam dengan benar.
– Dekat dengan Alqur”an dan mencontoh sikap serta perilaku rosululloh MUHAMMAD SAW dalam mempraktekan nya.
– Bagi para mujahid da’wah,harus mampu berbuat dari dalam diri sendiri serta menjadikan da’wah sebagai keseharian dalam hidup.

Maka dengan demikian diharapkan terbentuklah kesadaran umat yang berujung kepada perubahan baik secara individu maupun secara keseluruhan sebagai umat yang terbebas dari kejahiliyahan,manjadi umat yang terbaik “Khoiru ummat” (umat terbaik).
________/////__________ Wallahua’lam bishawab_______/////________

berbagai sumber

Views All Time
Views All Time
443
Views Today
Views Today
1
About Edy Gojira 722 Articles
sampaikanlah .... kebenaran ayat-ayat Allah

1 Comment on berKACA … pada diri kita sendiri …. kita termasuk JAHILIYAH kuno atau .. jAHILIYAH MODERN ??? —————————————- atau … golongan MUKMIN ?? atau HANYA mengaku MUKMIN ??? —————————————————- Makna Jahiliyah Pada dasarnya kata jahiliyah kerap kali dihubungkan dengan jahil, yang berarti bodoh atau kebodohan. Tentu jahiliyah yang dimaksud dalam Al-Qur�an dan hadits tak berhenti pada definisi ini. Sebagaimana kata �shalat� yang asalnya bermakna �doa�, kemudian memiliki definisi dalam konsep Islam sebagai berikut: �serangkaian ibadah kepada Allah berupa ucapan dan perbuatan yang tata caranya sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW�. Demikian pula banyak kata lain seperti zakat, iman, kufur, dan lain-lain. —————————————- Lalu, apa dan bagaimana sebenarnya karakteristik jahiliyah itu? Berikut beberapa pengertian jahiliyah yang dimaksud dalam terminologi Islam : ???

  1. “kebodohan”(Jahalah),yang terbagi lagi atas beberapa permasalahan:
    1. Kebodohan dalam masalah tanggung jawab.
    karena manusia tidak bersikap amanah pada allah,sebagai seorang hamba dan pemakmur bumi.
    2. Kebodohan dalam masalah Aqidah.
    penyebabnya adalah karena manusia tidak lagi berideologi pada apa yg allah berikan (islam),lebih memilih ideologi buatan manusia yang lebih condong pada kesesatan,baik Animisme maupun Dinamisme(adat istiadat).
    3. Kebodohan dalam masalah Akhlaq.
    penyebabnya adalah tidak terikatnya identitas diri serta perilaku seseorang dengan nilai-nilai islam.Hal inipun disebabkan oleh:
    – Rekayasa musuh islam.
    – Tradisi dalam masyarakat itu sendiri.
    – Kejahiliyahan yang sudah mengakar kuat.
    4. Kebodohan dalam pemikiran.
    Biasanya ini disebabkan dan dipengaruhi oleh pola fikir dan pemahaman yang menyimpang,karena:
    – Keterbatasan Informasi.
    – Pemutar balikan Fakta yang berkaitan dengan islam oleh musuh-musuh islam,biasanya melalui media,baik cetak maupun elektronik.
    5. Kebodohan dalam Loyalitas.
    Kebodohan ini disebabkan oleh:
    – Kurangnya memahami Aqidah islam,terlebih apa yg dapat membatalkan dan menyebabkan keluarnya aqidah islam dari dirinya.
    – Menjadikan Alqur’an dan hadist hanya sebatas bacaan yg didengar dan di telaah saja,tanpa adanya amal dan perbuatan nyata.
    – Tidak peduli terhadap permasalahan umat islam.
    6. kebodohan dalam Da’wah.
    Biasanya terjadi karena kurangnya memahami arti da’wah itu sendiri sertakurangnya memahami arti harokah islamiyah.sehingga da’wah yang dilakukan mandul dalam menghadapi kesesatan,kekufuran,dan upaya-upaya De-Islamisasi.
    Malapetaka, lebih banyak terjadi akibat kejahiliyahan modern
    ini, karena kejahiliyahan ini mempunyai banyak “wajah”, mempunyai
    banyak kekuatan dan menciptakan kemudahan material bagi manusia.
    Dengan kekuatan tersebut terkadang “kejahiliyahan” tak tampak
    lagi sebagai sesuatu yang bathil … akibatnya jahiliyah modern
    ini jauh lebih berbahaya dibanding jahiliyah masa silam.
    Lalu bagaimana mengubah kejahiliyahan agar hilang,baik dalam suatu peradaban atau pun dalam pribadi manusia khususnya pribadi yg mengaku muslim.

Leave a Reply