Loading
AL FATIHAH …. HIDAYAH/petunjuk,… kEIMANan…. AMALAN… agar bisa meniti JALAN yg LURUS …sesuai .. KEHENDAK Allah …………………..jalan Ni’mat .. bukan jalan diMURKAi.. bukan jalan SESAT ………………………. Ibadah kepada Allah pun tidak akan diterima kecuali apabila dilandasi dengan keimanan, keikhlasan, dan mengikuti tuntunan. Oleh sebab itu di dalam surat Al Fatihah kita memohon kepada Allah hidayah (yakni ayat –red), yang di dalamnya tercakup hidayah ilmu dan hidayah berupa amalan. Agar kita bisa mendapatkan ilmu yang benar, dan agar kita bisa mengamalkan ilmu yang telah kita peroleh. Inilah jalan ‘orang-orang yang diberikan kenikmatan’, . ————————– Adapun jalan ‘orang yang dimurkai’ , adalah jalan orang yang berilmu namun tidak mengamalkan ilmunya, sebagaimana orang-orang Yahudi yang dimurkai Allah. Adapun jalan ‘orang-orang sesat’, , adalah jalan orang yang beramal tanpa bekal ilmu, sebagaimana orang-orang Nashara. Kaum yang dimurkai menyimpang karena niat yang rusak, sedangkan kaum yang sesat menyimpang karena pemahaman yang rusak. Oleh sebab itu para ulama menyatakan bahwa ‘kelurusan niat dan benarnya pemahaman’ adalah salah satu nikmat terbesar yang dikaruniakan Allah kepada seorang hamba. Itulah yang setiap hari kita minta dalam doa kita , yang artinya, “Tunjukilah kami jalan yang lurus”. ———————————– Tidak mungkin ibadah kita ikhlas jika kita tidak mengerti apa itu ikhlas dan apa saja yang merusaknya, sebagaimana tidak mungkin kita beribadah mengikuti tuntunan (As Sunnah) jika kita tidak mengerti seperti apa tuntunan itu dan apa saja yang tidak dituntunkan. Sementara ilmu tentang itu semuanya hanya akan bisa kita gali dari Al Qur’an dan As Sunnah. Dan itu semua akan terwujud dengan taufik dan pertolongan Allah semata, bukan karena kepintaran, kecerdasan, pengalaman, atau kepandaian kita. | EP Artikel-Edy Gojira

AL FATIHAH …. HIDAYAH/petunjuk,… kEIMANan…. AMALAN… agar bisa meniti JALAN yg LURUS …sesuai .. KEHENDAK Allah …………………..jalan Ni’mat .. bukan jalan diMURKAi.. bukan jalan SESAT ………………………. Ibadah kepada Allah pun tidak akan diterima kecuali apabila dilandasi dengan keimanan, keikhlasan, dan mengikuti tuntunan. Oleh sebab itu di dalam surat Al Fatihah kita memohon kepada Allah hidayah (yakni ayat –red), yang di dalamnya tercakup hidayah ilmu dan hidayah berupa amalan. Agar kita bisa mendapatkan ilmu yang benar, dan agar kita bisa mengamalkan ilmu yang telah kita peroleh. Inilah jalan ‘orang-orang yang diberikan kenikmatan’, . ————————– Adapun jalan ‘orang yang dimurkai’ , adalah jalan orang yang berilmu namun tidak mengamalkan ilmunya, sebagaimana orang-orang Yahudi yang dimurkai Allah. Adapun jalan ‘orang-orang sesat’, , adalah jalan orang yang beramal tanpa bekal ilmu, sebagaimana orang-orang Nashara. Kaum yang dimurkai menyimpang karena niat yang rusak, sedangkan kaum yang sesat menyimpang karena pemahaman yang rusak. Oleh sebab itu para ulama menyatakan bahwa ‘kelurusan niat dan benarnya pemahaman’ adalah salah satu nikmat terbesar yang dikaruniakan Allah kepada seorang hamba. Itulah yang setiap hari kita minta dalam doa kita , yang artinya, “Tunjukilah kami jalan yang lurus”. ———————————– Tidak mungkin ibadah kita ikhlas jika kita tidak mengerti apa itu ikhlas dan apa saja yang merusaknya, sebagaimana tidak mungkin kita beribadah mengikuti tuntunan (As Sunnah) jika kita tidak mengerti seperti apa tuntunan itu dan apa saja yang tidak dituntunkan. Sementara ilmu tentang itu semuanya hanya akan bisa kita gali dari Al Qur’an dan As Sunnah. Dan itu semua akan terwujud dengan taufik dan pertolongan Allah semata, bukan karena kepintaran, kecerdasan, pengalaman, atau kepandaian kita.

AL FATIHAH …. HIDAYAH/petunjuk,… kEIMANan…. AMALAN… agar bisa meniti JALAN yg LURUS …sesuai .. KEHENDAK Allah
…………………..jalan Ni’mat .. bukan jalan diMURKAi.. bukan jalan SESAT
……………………....
Ibadah kepada Allah pun tidak akan diterima kecuali apabila dilandasi dengan keimanan, keikhlasan, dan mengikuti tuntunan. Oleh sebab itu di dalam surat Al Fatihah kita memohon kepada Allah hidayah (yakni ayat <Ihdinash shiraathal mustaqiim> –red), yang di dalamnya tercakup hidayah ilmu dan hidayah berupa amalan. Agar kita bisa mendapatkan ilmu yang benar, dan agar kita bisa mengamalkan ilmu yang telah kita peroleh. Inilah jalan ‘orang-orang yang diberikan kenikmatan’, <shiraathalladziina an’amta ‘alaihim>.
————————–
Adapun jalan ‘orang yang dimurkai’ <al maghdhuubi ‘alaihim>, adalah jalan orang yang berilmu namun tidak mengamalkan ilmunya, sebagaimana orang-orang Yahudi yang dimurkai Allah. Adapun jalan ‘orang-orang sesat’, <adh dhaalliin>, adalah jalan orang yang beramal tanpa bekal ilmu, sebagaimana orang-orang Nashara. Kaum yang dimurkai menyimpang karena niat yang rusak, sedangkan kaum yang sesat menyimpang karena pemahaman yang rusak. Oleh sebab itu para ulama menyatakan bahwa ‘kelurusan niat dan benarnya pemahaman’ adalah salah satu nikmat terbesar yang dikaruniakan Allah kepada seorang hamba. Itulah yang setiap hari kita minta dalam doa kita <Ihdinash shiraathal mustaqiim>, yang artinya, “Tunjukilah kami jalan yang lurus”.
———————————–
Tidak mungkin ibadah kita ikhlas jika kita tidak mengerti apa itu ikhlas dan apa saja yang merusaknya, sebagaimana tidak mungkin kita beribadah mengikuti tuntunan (As Sunnah) jika kita tidak mengerti seperti apa tuntunan itu dan apa saja yang tidak dituntunkan. Sementara ilmu tentang itu semuanya hanya akan bisa kita gali dari Al Qur’an dan As Sunnah. Dan itu semua akan terwujud dengan taufik dan pertolongan Allah semata, bukan karena kepintaran, kecerdasan, pengalaman, atau kepandaian kita.

……………………..….
Dari Abu sa’id Ibnu Mu’alla radhiallahu ‘anhu dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, ‘Sungguh aku akan ajarkan kepadamu sebuah surah yang paling agung dalam al-Qur’an, (yaitu surah) Alhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin… (surah al-Fatihah), inilah tujuh ayat yang (dibaca) berulang-ulang dan al-Qur’an yang agung yang diberikan (oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala) kepadaku.’”[HSR al-Bukhari (no. 4204).]

Hadits yang agung ini menunjukkan tingginya kedudukan surah al-Fatihah dan besarnya keutamaan orang yang membacanya, karena surah ini berisi inti kandungan seluruh al-Qur’an. Salah seorang ulama salaf berkata, “(Surah) al-Fatihah adalah rahasia (inti kandungan) al-Qur’an, dan rahasia (inti kandungan) al-Fatihah adalah ayat ‘Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada-Mulah kami memohon pertolongan.’”[oleh Ibnu Katsir dalam tafsir beliau (1/48).]
……………………....
membaca Al fatihah:
……………………..…….
Kesatu: Allah Ta’ala memerintahkan ta’awudz (membaca a’udzu billahi min asy-syaithani ar-rajim) sebelum membaca al-Qur’an.

Menurut Ja’far ash-Shadiq, perintah ta’awudz tersebut hanya dikhususkan ketika membaca al-Qur’an, sedang hal itu tak diwajibkan untuk ibadah dan amal kebaikan lainnya.

Hikmahnya antara lain, sebab terkadang lisan seorang hamba bergelimang dosa dengan dusta, ghibah, atau mengadu domba. Olehnya, Allah menyuruh orang itu ber-ta’awudz agar lisannya menjadi bersih kembali sebelum membaca ayat yang turun dari Zat Yang Mahasuci lagi Bersih.

Kedua: Adanya ayat basmalah di ayat pertama. Yaitu lafadz bismillahirrahirrahmanirrahim. Ayat basmalah yang mengawali surah al-Fatihah memberi indikasi yang terang agar seluruh amal perbuatan seorang Muslim juga wajib didahului dengan bacaan basmalah. Hal ini selaras dengan hadits Nabi.

“Setiap urusan kehidupan yang tidak diawali dengan ucapan bimillahirrahmanirrahim maka dia akan terputus.” (Riwayat Abu Daud).

Ketiga: Pengucapan lafadz “bismillah” (dengan nama Allah) dan tidak mengatakan “billahi” (dengan (zat) Allah). Meski ada yang menganggap penyebutan keduanya bermakna sama., namun yang benar adalah masing-masing memiliki arti yang beda. Bahwa lafadz “bismillah” dipakai untuk mengharap berkah dari Allah (tabarruk) sedang “billahi” digunakan ketika seseorang bersumpah atas nama Allah (qasam).

Keempat: Penamaan yang berbeda antara lafadz “Allah” dan “al-Ilah”. Nama “Allah” khusus dipakai untuk nama agung Allah Tuhan semesta alam. Tak ada sekutu bagi-Nya dan tak ada sesembahan selain diri-Nya (la ma’buda bi haqqin illa ilaihi). Sedang nama “al-Ilah” digunakan untuk menyebut Tuhan secara umum. Berhala yang disembah oleh orang musyrik, misalnya, juga dinamai dengan sebutan “al-Ilah”.

Kelima : Kandungan makna ayat “bismillahirrahirrahmanirrahim”. Di antaranya adalah memohon berkah dengan nama Allah dan pernyataan ketinggian Zat Allah. Ayat ini sekaligus berfungsi sebagai penangkal jitu untuk seluruh makar jahat setan kepada manusia. Sebab setan akan kabur acap lafadz basmalah ini dibaca. Lebih jauh, menurut Ali ash-Shabuni, ayat ini mengandung makna penegasan kepada orang-orang musyrik yang selama ini mengagungkan nama-nama selain Allah dalam setiap urusan mereka.

Keenam: Adanya huruf alif lam (al-makrifah) pada kata “al-hamdu”. Suatu pujian yang sempurna kepada Allah. Oleh Ali ash-Shabuni, pujian tersebut dengan sendirinya meredupkan bahkan melenyapkan seluruh yang lain di luar Sang Khaliq (istighraq al-jinsi). Huruf alif lam (al-makrifah) tersebut juga mengisyaratkan sanjungan kepada Allah yang bersifat kontinuitas, bukan suatu pujian yang dibuat-buat apalagi dipaksakan.

Ketujuh: Penyebutan “ar-Rahman ar-Rahim” yang datang setelah lafadz “Rabb al-Alamin”. Sebab boleh dikata nama “Tuhan semesta alam” menyiratkan makna kesombongan, kekuasaan, dan keperkasaan. Kesan seperti itu terkadang melahirkan kebimbangan bahwa Tuhan itu tidak menyayangi hamba-Nya. Ujungnya, sangkaan sepintas itu memunculkan putus asa dan ketakutan seorang hamba. Untuk itu, lafadz tersebut menguatkan bahwa Rabb yang dimaksud adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang bagi seluruh makhluk-Nya.

Kedelapan : Penyebutan “iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”. Penyebutan dhamir khithab (kata ganti kedua) menunjukkan dialog kedekatan hamba dengan Rabbnya. Allah tak memiliki jarak untuk mengabulkan doa dan memberi pertolongan kepada hamba-hamba-Nya. Abu Hayyan al-Andalusi, pengarang kitab Tafsir al-Bahru al-Muhith menambahkan, seolah-olah orang tersebut menghadirkan Allah secara nyata di hadapannya ketika sedang bermunajat kepada-Nya.

Kesembilan : Penggunaan kata jamak dalam lafadz “na’budu” (kami menyembah) dan “nasta’in” (kami memohon pertolongan). Sebuah pemilihan kata yang sangat halus kala seorang hamba datang mengetuk perkenan Allah, Zat Yang Maha Pencipta. Seolah ia berkata, wahai Tuhanku, aku tak lain adalah hamba-Mu yang papa lagi hina. Tak pantas bagiku menghadap seorang diri di hadapan cahaya kemuliaan-Mu. Untuk itu aku memilih berbaris bersama orang-orang yang juga memohon kepada-Mu dan ikut berdoa bersama mereka. Terimalah doaku dan doa kami semua.

Kesepuluh: Penyandaran kata nikmat kepada Allah dalam lafadz “an’amta” (yang Engkau beri nikmat). Sebaliknya, kata marah (ghadhab) dan sesat atau penyesatan (dhalal) tidak disandarkan kepada-Nya. Ini terlihat ketika Allah menyebut kata “an’amta alaihim” (yang Engka beri nikmat atas mereka) tapi tidak mengucap “ghadhabta alaihim”(yang Engkau marahi atas mereka) atau “adhlalta alaihim” (yang Engkau sesatkan atas mereka).
Tafsir Ayat al-Ahkam Min al-Qur’an (Cetakan Dar ash-Shabuni, Kairo: 2007, cetakan pertama). Berikut penjelasannya:

 

Views All Time
Views All Time
679
Views Today
Views Today
1
About Edy Gojira 722 Articles
sampaikanlah .... kebenaran ayat-ayat Allah

5 Comments on AL FATIHAH …. HIDAYAH/petunjuk,… kEIMANan…. AMALAN… agar bisa meniti JALAN yg LURUS …sesuai .. KEHENDAK Allah …………………..jalan Ni’mat .. bukan jalan diMURKAi.. bukan jalan SESAT ………………………. Ibadah kepada Allah pun tidak akan diterima kecuali apabila dilandasi dengan keimanan, keikhlasan, dan mengikuti tuntunan. Oleh sebab itu di dalam surat Al Fatihah kita memohon kepada Allah hidayah (yakni ayat –red), yang di dalamnya tercakup hidayah ilmu dan hidayah berupa amalan. Agar kita bisa mendapatkan ilmu yang benar, dan agar kita bisa mengamalkan ilmu yang telah kita peroleh. Inilah jalan ‘orang-orang yang diberikan kenikmatan’, . ————————– Adapun jalan ‘orang yang dimurkai’ , adalah jalan orang yang berilmu namun tidak mengamalkan ilmunya, sebagaimana orang-orang Yahudi yang dimurkai Allah. Adapun jalan ‘orang-orang sesat’, , adalah jalan orang yang beramal tanpa bekal ilmu, sebagaimana orang-orang Nashara. Kaum yang dimurkai menyimpang karena niat yang rusak, sedangkan kaum yang sesat menyimpang karena pemahaman yang rusak. Oleh sebab itu para ulama menyatakan bahwa ‘kelurusan niat dan benarnya pemahaman’ adalah salah satu nikmat terbesar yang dikaruniakan Allah kepada seorang hamba. Itulah yang setiap hari kita minta dalam doa kita , yang artinya, “Tunjukilah kami jalan yang lurus”. ———————————– Tidak mungkin ibadah kita ikhlas jika kita tidak mengerti apa itu ikhlas dan apa saja yang merusaknya, sebagaimana tidak mungkin kita beribadah mengikuti tuntunan (As Sunnah) jika kita tidak mengerti seperti apa tuntunan itu dan apa saja yang tidak dituntunkan. Sementara ilmu tentang itu semuanya hanya akan bisa kita gali dari Al Qur’an dan As Sunnah. Dan itu semua akan terwujud dengan taufik dan pertolongan Allah semata, bukan karena kepintaran, kecerdasan, pengalaman, atau kepandaian kita.

  1. Terjemahan Bacaan Surat Al Fatihah

    “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.

    “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”.

    “Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.

    “Yang menguasai di Hari Pembalasan”.

    “Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan”.

    “Tunjukilah kami jalan yang lurus”,

    “(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”.

  2. – Surat /Al Faatihah/ (Pembukaan) yang diturunkan di Mekah dan terdiri
    dari 7 ayat adalah surat yang pertama-tama diturunkan dengan lengkap
    diantara surat-surat yang ada dalam Al Quran dan termasuk golongan surat
    Makkiyyah. Surat ini disebut /Al Faatihah/ (Pembukaan), karena dengan
    surat inilah dibuka dan dimulainya Al Quran. Dinamakan /Ummul Quran/
    (induk Al Quran) atau /Ummul Kitaab/ (induk Al Kitaab) karena dia
    merupakan induk dari semua isi Al Quran, dan karena itu diwajibkan
    membacanya pada tiap-tiap sembahyang.
    Dinamakan pula /As Sab’ul matsaany/ (tujuh yang berulang-ulang) karena
    ayatnya tujuh dan dibaca berulang-ulang dalam sembahyang.
    Surat ini mengandung beberapa unsur pokok yang mencerminkan seluruh isi
    Al Quran, yaitu :
    */1. Keimanan:/*
    Beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa terdapat dalam ayat 2, dimana
    dinyatakan dengan tegas bahwa segala puji dan ucapan syukur atas suatu
    nikmat itu bagi Allah, karena Allah adalah Pencipta dan sumber segala
    nikmat yang terdapat dalam alam ini. Diantara nikmat itu ialah : nikmat
    menciptakan, nikmat mendidik dan menumbuhkan, sebab kata /Rab/ dalam
    kalimat /Rabbul-‘aalamiin/ tidak hanya berarti /Tuhan/ atau /Penguasa/,
    tetapi juga mengandung arti tarbiyah yaitu mendidik dan menumbuhkan. Hal
    ini menunjukkan bahwa segala nikmat yang dilihat oleh seseorang dalam
    dirinya sendiri dan dalam segala alam ini bersumber dari Allah, karena
    Tuhan-lah Yang Maha Berkuasa di alam ini. Pendidikan, penjagaan dan
    Penumbuahn oleh Allah di alam ini haruslah diperhatikan dan dipikirkan
    oleh manusia sedalam-dalamnya, sehingga menjadi sumber pelbagai macam
    ilmu pengetahuan yang dapat menambah keyakinan manusia kepada keagungan
    dan kemuliaan Allah, serta berguna bagi masyarakat. Oleh karena keimanan
    (ketauhidan) itu merupakan masalah yang pokok, maka didalam surat Al
    Faatihah tidak cukup dinyatakan dengan isyarat saja, tetapi ditegaskan
    dan dilengkapi oleh ayat 5, yaitu : /Iyyaaka na’budu wa iyyaka
    nasta’iin/ (hanya Engkau-lah yang kami sembah, dan hanya kepada
    Engkau-lah kami mohon pertolongan). Janji memberi pahala terhadap
    perbuatan yang baik dan ancaman terhadap perbuatan yang buruk.

    Yang dimaksud dengan /Yang Menguasai Hari Pembalasan/ ialah pada hari
    itu Allah-lah yang berkuasa, segala sesuatu tunduk kepada kebesaran-Nya
    sambil mengharap nikmat dan takut kepada siksaan-Nya. Hal ini mengandung
    arti janji untuk memberi pahala terhadap perbuatan yang baik dan ancaman
    terhadap perbuatan yang buruk. /Ibadat/ yang terdapat pada ayat 5
    semata-mata ditujukan kepada Allah, selanjutnya lihat no.

    */2. Hukum-hukum:/*
    Jalan kebahagiaan dan bagaimana seharusnya menempuh jalan itu untuk
    memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Maksud “Hidayah” disini ialah
    hidayah yang menjadi sebab dapatnya keselamatan, kebahagiaan dunia dan
    akhirat, baik yang mengenai kepercayaan maupun akhlak, hukum-hukum dan
    pelajaran.

    */3. Kisah-kisah:/*
    Kisah para Nabi dan kisah orang-orang dahulu yang menentang Allah.
    Sebahagian besar dari ayat-ayat Al Quran memuat kisah-kisah para Nabi
    dan kisah orang-orang dahulu yang menentang. Yang dimaksud dengan orang
    yang diberi nikmat dalam ayat ini, ialah para Nabi, para shiddieqiin
    (orang-orang yang sungguh-sungguh beriman), syuhadaa’ (orang-orang yang
    mati syahid), shaalihiin (orang-orang yang saleh). /Orang-orang yang
    dimurkai dan orang-orang yang sesat,/ ialah golongan yang menyimpang
    dari ajaran Islam

  3. Semoga Alloh SWT
    mengizinkan kita memahami ayat-ayat suci di bawah ini :

    *
    *
    *بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ (1)*

    *Latin : Bismillah Hirrahman Nirrahim*
    *Artinya : Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha
    Penyayang.*
    Maksud dari ayat pertama ini adalah : saya memulai membaca al-Fatihah
    ini dengan menyebut nama Allah. Setiap pekerjaan yang baik, hendaknya
    dimulai dengan menyebut asma Allah, mulai dari pekerjaan ringan seperti
    makan, minum, bepergian, belajar, dan sebagainya. Allah adalah nama zat
    yang Maha Suci, yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya, yang tidak
    membutuhkan makhluk-Nya, tapi makhluk yang membutuhkan-Nya. Ar-Rahmaan
    (Maha Pemurah): salah satu nama Allah yang memberi pengertian bahwa
    Allah melimpahkan karunia-Nya kepada makhluk-Nya, sedang ar-Rahiim (Maha
    Penyayang) memberi pengertian bahwa Allah senantiasa bersifat rahmah
    yang menyebabkan Dia selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya.

    * (2) ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ*
    Latin : alhamdu lillaahi rabbil aalamiina
    artinya : Segala puji {2} bagi Allah, Tuhan semesta alam. {3}
    Maksud ayat kedua surat Al Fatihah adalah : {2} Alhamdu (segala puji).
    Memuji orang adalah karena perbuatannya yang baik yang dikerjakannya
    dengan kemauan sendiri. Maka memuji Allah berarti: menyanjung-Nya karena
    perbuatan-Nya yang baik. Lain halnya dengan syukur yang berarti:
    mengakui keutamaan seseorang terhadap ni’mat yang diberikannya. Kita
    menghadapkan segala puji bagi Allah ialah karena Allah sumber dari
    segala kebaikan yang patut dipuji.
    {3} Rabb (Tuhan) berarti: Tuhan yang ditaati Yang Memiliki, Mendidik dan
    Memelihara. Lafadz “rabb” tidak dapat dipakai selain untuk Tuhan,
    kecuali kalau ada sambungannya, seperti rabbul bait (tuan rumah).
    ‘Alamiin (semesta alam): semua yang diciptakan Tuhan yang terdiri dari
    berbagai jenis dan macam, seperti: alam manusia,alam hewan, alam
    tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati dan sebagainya. Allah pencipta semua
    alam-alam itu.

    * (3) ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ *
    *Latin : arrahmaanirrahiim*
    *Artinya : Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.*
    Untuk ayat ketiga dalam surat Al FAtihah ini maksudnya hampir sama
    dengan ayat pertama, Ar-Rahmaan (Maha Pemurah): salah satu nama Allah
    yang memberi pengertian bahwa Allah melimpahkan karunia-Nya kepada
    makhluk-Nya, sedang ar-Rahiim (Maha Penyayang) memberi pengertian bahwa
    Allah senantiasa bersifat rahmah yang menyebabkan Dia selalu melimpahkan
    rahmat-Nya kepada makhluk-Nya.

    *(4) **مَـٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ ***
    *latin : maaliki yawmiddiin*
    *Artinya : Yang menguasai {4} di Hari Pembalasan {5}*
    {4 }Maalik (Yang Menguasai) dengan memanjangkan “mim”, yang berarti:
    pemilik. Dapat pula dibaca dengan (dengan memendekkan mim), artinya: Raja.
    {5} Yaumiddin (hari pembalasan): hari yang di waktu itu masing-masing
    manusia menerima pembalasan amalannya yang baik maupun yang buruk.
    Yaumiddin disebut juga yaumulqiyaamah, yaumulhisaab, yaumuljazaa’ dan
    sebagainya.

    *(5) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ *
    *latin : iyyaaka na’budu wa-iyyaaka nasta’iin*
    *Artinya : Hanya Engkaulah yang kami sembah {6}, dan hanya kepada
    Engkaulah kami *meminta pertolongan. {7}
    {6} Na’budu diambil dari kata ‘ibaadat: kepatuhan dan ketundukkan yang
    ditimbulkan oleh perasaan terhadap kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang
    disembah, karena berkeyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang
    mutlak terhadapnya.
    {7} Nasta’iin (minta pertolongan), terambil dari kata isti’aanah:
    mengharapkan bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang
    tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga sendiri.

    *(6) ٱهْدِنَا ٱلصِّرَ‌ٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ *
    Latin : ihdinaash shiraathaal mustaqiim
    Artinya : Tunjukilah [8] kami jalan yang lurus,
    [8] Ihdina (tunjukilah kami), dari kata “hidayaat”: memberi petunjuk ke
    suatu jalan yang benar. Yang dimaksud dengan ayat ini bukan sekedar
    memberi hidayah saja, tetapi juga memberi taufik.

    *(7) صِرَ‌ٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ *

    Latin : shiraathalladziina an’amta ‘alayhim ghayril maghdhuubi ‘alayhim
    walaadhdhaalliin
    Artinya : (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada
    mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka
    yang sesat. {9}
    {9} Yang dimaksud dengan “mereka yang dimurkai” dan “mereka yang sesat”
    ialah semua golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.
    Semoga artikel islami yang berisi mengenai terjemahan surat Al Fatihah
    beserta maksudnya di atas bisa bermanfaat bagi kita semua.
    Semoga Allah senantiasa memberi kita ilmu-ilmu yang bermanfaat bagi
    dunia dan Akhira, dan melindungi kita dari ilmu-ilmu yang tidak
    bermenfaat dan menyesatkan. Aamiin.

    Penutup

    Surat Al Fatihaah ini melengkapi unsur-unsur pokok syari’at Islam,
    kemudian dijelaskan perinciannya oleh ayat-ayat Al Quran yang 113 surat
    berikutnya.

    Persesuaian surat ini dengan surat Al Baqarah dan surat-surat sesudahnya
    ialah surat Al Faatihah merupakan titik-titik pembahasan yang akan
    diperinci dalam surat Al Baqarah dan surat-surat yang sesudahnya.

    Dibahagian akhir surat Al Faatihah disebutkan permohonan hamba supaya
    diberi petunjuk oleh Tuhan kejalan yang lurus, sedang surat Al Baqarah
    dimulai dengan penunjukan /al Kitaab/ (Al Quran) yang sempurna
    sebagai pedoman menuju jalan yang dimaksudkan itu.

  4. I have been browsing online more than 2 hours today,
    yet I never found any interesting article like
    yours. It’s pretty worth enough for me. In my
    view, if all webmasters and bloggers made good content as you did, the internet will be a lot
    more useful than ever before.

Leave a Reply