JUAL-BELI DENGAN ALLAH SWT …. apa yg dibeli Allah? kita JUAL apa kepada Allah ??? ——————————————– Jual Beli Paling Menguntungkan Adalah Iman dan Jihad fi Sabilillah – —————————————– Allah Ibaratkan dalam menjalani hidup, kita itu seperti pedagang. Modal utamanya adalah hidup. Keuntungannya adalah surga. Pastinya, setiap pedagang mengangankan untung. Begitu juga yang berdagang dengan hidupnya, ia mengharapkan keuntungan. Keuntungan terbesar adalah saat seseorang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga. فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ “Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung.” (QS. Ali Imran: 185) ————- Hanya saja, keberuntungan hidup di atas harus diraih dengan susah payah dan pengorbanan. Memaksa diri untuk mendahulukan ridha Allah atas keinginan syahwat. Terkadang mengorbankan yang paling dicintainya dari dunia ini untuk mendapat kemuliaan di sisi-Nya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, حُجِبَتْ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ وَحُجِبَتْ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ “Neraka diliputi oleh syahwat sedangkan surga diliputi oleh sesuatu yang tidak disuka.” (Muttafaq ‘Alaih) —————————- Lafaz hadits di atas merupakan bagian dari Jawami’ Kalim (kalimat ringkas yang penuh makna) Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam mencela syahwat walau jiwa ini cenderung kepadanya, juga dalam menganjurkan berbuat ketaatan walau jiwa ini tidak menyukainya dan merasa berat menjalankannya. Di mana seseorang yang berkeinginan masuk surga itu harus mampu menundukkan diri/jiwanya untuk menjalankan beban syariat dari Allah dalam bentuk mengerjakan perintah atau meninggalkan larangan-larangan dengan perkataan maupun perbuatan. Dan maksud surga diliputi dengan makarih (sesuatu yang tak disuka) karena beratnya beban yang harus ditanggung dan pelaksanaannya yang sulit, bersabar atas musibah dan menerima keputusan Allah dengan lapang dada. ————— Di antara bentuk jual beli yang Allah tawarkan ke orang beriman dalam Al-Qur’an adalah iman dan jihad. Jika mereka menjualnya kepada Allah, maka Allah akan membelinya dengan surga. إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. Al-Taubah: 111)

jual beli allah 1
JUAL-BELI DENGAN ALLAH SWT …. apa yg dibeli Allah? kita JUAL apa kepada Allah ???
————————–——————
Jual Beli Paling Menguntungkan Adalah Iman dan Jihad fi Sabilillah –
————————–—————
Allah Ibaratkan dalam menjalani hidup, kita itu seperti pedagang. Modal utamanya adalah hidup. Keuntungannya adalah surga. Pastinya, setiap pedagang mengangankan untung. Begitu juga yang berdagang dengan hidupnya, ia mengharapkan keuntungan. Keuntungan terbesar adalah saat seseorang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga.فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ

“Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung.” (QS. Ali Imran: 185)
————-
Hanya saja, keberuntungan hidup di atas harus diraih dengan susah payah dan pengorbanan. Memaksa diri untuk mendahulukan ridha Allah atas keinginan syahwat. Terkadang mengorbankan yang paling dicintainya dari dunia ini untuk mendapat kemuliaan di sisi-Nya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

حُجِبَتْ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ وَحُجِبَتْ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ

“Neraka diliputi oleh syahwat sedangkan surga diliputi oleh sesuatu yang tidak disuka.” (Muttafaq ‘Alaih)
—————————-
Lafaz hadits di atas merupakan bagian dari Jawami’ Kalim (kalimat ringkas yang penuh makna) Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam mencela syahwat walau jiwa ini cenderung kepadanya, juga dalam menganjurkan berbuat ketaatan walau jiwa ini tidak menyukainya dan merasa berat menjalankannya. Di mana seseorang yang berkeinginan masuk surga itu harus mampu menundukkan diri/jiwanya untuk menjalankan beban syariat dari Allah dalam bentuk mengerjakan perintah atau meninggalkan larangan-larangan dengan perkataan maupun perbuatan. Dan maksud surga diliputi dengan makarih (sesuatu yang tak disuka) karena beratnya beban yang harus ditanggung dan pelaksanaannya yang sulit, bersabar atas musibah dan menerima keputusan Allah dengan lapang dada.
—————
Di antara bentuk jual beli yang Allah tawarkan ke orang beriman dalam Al-Qur’an adalah iman dan jihad. Jika mereka menjualnya kepada Allah, maka Allah akan membelinya dengan surga.

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. Al-Taubah: 111)

Al-‘Imad ibnu Katsir berkata: “Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia memberi ganti dari jiwa dan harta benda para hamba-Nya yang beriman dengan surga karena mereka telah rela mengorbankannya di jalan-Nya. ini merupakan karunia, kemuliaan dan kebaikan-Nya.” Oleh karenanya al-Hasan al-Bashri dan Qatadah mengatakan: “Allah telah membeli mereka, demi Allah, Dia menghargai mereka sangat mahal.”

Al-Hasan berkata lagi, “Dengarkan jual-beli yang menguntungkan yang telah Allah ajak setiap mukmin melakukan jual-beli ini.” Dalam perkataan beliau yang lain, “Sesungguhnya Allah telah memberikan dunia kepadamu maka belilah surga dengan sebagiannya.” (Dinukil dari tafsir al-Baghawi)

Apa yang harus diberikan oleh seorang mukmin agar dapat surga? Mereka menyerahkan jiwa dan harta mereka untuk Allah dengan berjihad di jalan-Nya melawan musuh-musuh-Nya untuk meninggikan kalimat-Nya dan memenangkan agama-Nya. “Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh.” (QS. Al-Taubah: 111)

. . . untuk mendapatkan kenikmatan surga dan dihindarkan dari siksa neraka seseorang harus beriman kepada Allah dan Rasul-Nya lalu berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. . .

Maksud Jualan di Atas?

Jual beli di atas ditafsirkan dengan iman kepada Allah dan Rasul-Nya dan menyerahkan harta dan jiwa di jalan Allah. Ini sesuai firman Allah di ayat yang lain,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS. Al-Shaff: 10-12)

Ini merupakan pesan dan arahan Dzat Mahapenyayang kepada hamba-hamba-nya yang beriman, supaya mereka melakukan jual beli menguntungkan yang bisa menyelamatkan dari azab yang neraka yang pedih dan mendapatkan kenikmatan yang abadi. Jual beli tersebut adalah “Kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Iman yang sempurna adalah pembenaran terhadap perintah-perintah Allah dalam hati yang diikuti dengan ketundukan anggota badan mengerjakan amal-amal shalih. Dan di antara amal shalih yang paling agung adalah berjihad di jalan-Nya. Oleh karenanya Allah berfirman sesudahnya, “dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu.” Yaitu dengan menginfakkan sebagian harta dan mengorbankan jiwa untuk menghadapi musuh-musuh Islam dengan tujuan untuk menolong agama Allah dan meninggikan kalimat-Nya.

Pada ringkasnya untuk mendapatkan kenikmatan surga dan dihindarkan dari siksa neraka seseorang harus beriman kepada Allah dan Rasul-Nya lalu berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Lalu kenapa masih ada orang yang bercita-cita masuk surga tapi masih pelit dengan hartanya dan enggan berjihad di jalan Allah?

4 thoughts on “JUAL-BELI DENGAN ALLAH SWT …. apa yg dibeli Allah? kita JUAL apa kepada Allah ??? ——————————————– Jual Beli Paling Menguntungkan Adalah Iman dan Jihad fi Sabilillah – —————————————– Allah Ibaratkan dalam menjalani hidup, kita itu seperti pedagang. Modal utamanya adalah hidup. Keuntungannya adalah surga. Pastinya, setiap pedagang mengangankan untung. Begitu juga yang berdagang dengan hidupnya, ia mengharapkan keuntungan. Keuntungan terbesar adalah saat seseorang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga. فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ “Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung.” (QS. Ali Imran: 185) ————- Hanya saja, keberuntungan hidup di atas harus diraih dengan susah payah dan pengorbanan. Memaksa diri untuk mendahulukan ridha Allah atas keinginan syahwat. Terkadang mengorbankan yang paling dicintainya dari dunia ini untuk mendapat kemuliaan di sisi-Nya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, حُجِبَتْ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ وَحُجِبَتْ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ “Neraka diliputi oleh syahwat sedangkan surga diliputi oleh sesuatu yang tidak disuka.” (Muttafaq ‘Alaih) —————————- Lafaz hadits di atas merupakan bagian dari Jawami’ Kalim (kalimat ringkas yang penuh makna) Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam mencela syahwat walau jiwa ini cenderung kepadanya, juga dalam menganjurkan berbuat ketaatan walau jiwa ini tidak menyukainya dan merasa berat menjalankannya. Di mana seseorang yang berkeinginan masuk surga itu harus mampu menundukkan diri/jiwanya untuk menjalankan beban syariat dari Allah dalam bentuk mengerjakan perintah atau meninggalkan larangan-larangan dengan perkataan maupun perbuatan. Dan maksud surga diliputi dengan makarih (sesuatu yang tak disuka) karena beratnya beban yang harus ditanggung dan pelaksanaannya yang sulit, bersabar atas musibah dan menerima keputusan Allah dengan lapang dada. ————— Di antara bentuk jual beli yang Allah tawarkan ke orang beriman dalam Al-Qur’an adalah iman dan jihad. Jika mereka menjualnya kepada Allah, maka Allah akan membelinya dengan surga. إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. Al-Taubah: 111)

  1. Di antara bentuk jual beli yang Allah tawarkan ke orang beriman dalam Al-Qur’an adalah iman dan jihad. Jika mereka menjualnya kepada Allah, maka Allah akan membelinya dengan surga.

    إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

    “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. Al-Taubah: 111)

    Al-‘Imad ibnu Katsir berkata: “Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia memberi ganti dari jiwa dan harta benda para hamba-Nya yang beriman dengan surga karena mereka telah rela mengorbankannya di jalan-Nya. ini merupakan karunia, kemuliaan dan kebaikan-Nya.” Oleh karenanya al-Hasan al-Bashri dan Qatadah mengatakan: “Allah telah membeli mereka, demi Allah, Dia menghargai mereka sangat mahal.”

    Al-Hasan berkata lagi, “Dengarkan jual-beli yang menguntungkan yang telah Allah ajak setiap mukmin melakukan jual-beli ini.” Dalam perkataan beliau yang lain, “Sesungguhnya Allah telah memberikan dunia kepadamu maka belilah surga dengan sebagiannya.” (Dinukil dari tafsir al-Baghawi)

    Apa yang harus diberikan oleh seorang mukmin agar dapat surga? Mereka menyerahkan jiwa dan harta mereka untuk Allah dengan berjihad di jalan-Nya melawan musuh-musuh-Nya untuk meninggikan kalimat-Nya dan memenangkan agama-Nya. “Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh.” (QS. Al-Taubah: 111)

  2. JIHAD di JALAN Allah … JIHAD FI SABILILLAH

    < << “BerJIHADlah terhadap kaum MUSYRIKIN dengan HARTA benda kamu, dan diri-DIRI kamu {NYAWA} dan lidah-LIDAH kamu.” (HR. Abu Daud, dari Anas).>>>

    jihad dari kata jahd = “LETIH/sukar”
    JIHAD dari kata juhd = “KEMAMPUAN”
    ………………………………………………….
    < <<<<<<< mati … MUNAFIK ??? >>>>>>>>>

    Dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
    مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ, وَلَمْ يُحَدِّثْ نَفْسَهُ بِهِ, مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ

    “Barangsiapa meninggal dunia sementara dia belum pernah berperang atau meniatkan diri untuk berperang, maka dia mati di atas satu cabang dari keMUNAFIKan.”

    Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    شَرُّ مَا فِي رَجُلٍ شُحٌّ هَالِعٌ وَجُبْنٌ خَالِعٌ

    “Seburuk-buruk sesuatu yang terdapat pada seseorang adalah kikir lagi suka berkeluh kesah dan pengecut lagi lemah.” (HR Abu Dawud)

    ﴾ At Taubah:68 ﴿
    Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah melaknati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal.
    وَعَدَ ٱللَّـهُ ٱلْمُنٰفِقِينَ وَٱلْمُنٰفِقٰتِ وَٱلْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خٰلِدِينَ فِيهَا ۚ هِىَ حَسْبُهُمْ ۚ وَلَعَنَهُمُ ٱللَّـهُ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّقِيمٌ ﴿التوبة:٦٨﴾
    ﴾ Al Fath:6 ﴿
    dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahannam. Dan (neraka Jahannam) itulah sejahat-jahat tempat kembali.
    وَيُعَذِّبَ ٱلْمُنٰفِقِينَ وَٱلْمُنٰفِقٰتِ وَٱلْمُشْرِكِينَ وَٱلْمُشْرِكٰتِ ٱلظَّآنِّينَ بِٱللَّـهِ ظَنَّ ٱلسَّوْءِ ۚ عَلَيْهِمْ دَآئِرَةُ ٱلسَّوْءِ ۖ وَغَضِبَ ٱللَّـهُ عَلَيْهِمْ وَلَعَنَهُمْ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَهَنَّمَ ۖ وَسَآءَتْ مَصِيرًا ﴿الفتح:٦﴾
    ……………………………………………….
    diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Bukhary:

    أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِي بَعْضِ أَيَّامِهِ الَّتِي لَقِيَ فِيهَا الْعَدُوَّ يَنْتَظِرُ حَتَّى إِذَا مَالَتْ الشَّمْسُ قَامَ فِيهِمْ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ لَا تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ وَاسْأَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ ظِلَالِ السُّيُوفِ ثُمَّ قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ وَمُجْرِيَ السَّحَابِ وَهَازِمَ الْأَحْزَابِ اهْزِمْهُمْ وَانْصُرْنَا عَلَيْهِمْ

    “Sesungguhnya Rasulullah pada sebagian harinya ketika berhadapan dengan musuh menunggu terbenamnya matahari. Kemudian beliau tampil di hadapan para sahabat dan bersabda: ”Wahai manusia, janganlah kalian berangan-angan ingin segera berjumpa dengan musush. Mohonlah kepada Allah keselamatan. Dan bila kalian berhadapan dengan musuh, maka bersabarlah. Dan ketahulaih bahwa SURGA berada DI BAWAH bayang-bayang PEDANG.” Kemudian Nabi berdiri dan berdoa: ”Allahumma munzilal-kitab wa mujriyas-sahab wa hazimal-ahzab, ahzimhum wanshurnaa ’alaihim” (Ya Allah, yang menurunkan Kitab, menggerakkan awan dan menghancurkan pasukan bersekutu, hancurkanlah mereka dan tolonglah kami mengalahkan mereka.” (HR Muslim 3276)

    دَعَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْأَحْزَابِ عَلَى الْمُشْرِكِينَ فَقَالَ اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ سَرِيعَ الْحِسَابِ اللَّهُمَّ اهْزِمْ الْأَحْزَابَ اللَّهُمَّ اهْزِمْهُمْ وَزَلْزِلْهُمْ

    Nabi berdoa pada saat perang Ahzab menghadapi (kepungan) Musyrikin: “Allahumma munzilal-Kitab, sari’al hisab. Allahummahzim Al-Ahzab, Allahummahzimhum wa zalzilhum.” (Ya Allah, yang menurunkan Kitab, cepat perhitungannya. Ya Allah hancurkanlah PASUKAN BERSEKUTU. Ya Allah, hancurkanlah mereka dan porak=porandakanlah mereka).” (HR Bukhary 2716)
    ………………………………………………………
    A. Pendahuluan
    Kata jihad terulang dalam al-Qur’an sebanyak 41 kali dengan berbagai bentuknya. Kata jihad terambil dari kata jahd yang berarti “letih/sukar”. Jihad memang sulit dan menyebabkan kelelahan. Ada juga yang berpendapat bahwa jihad berasal dari akar kata ”juhd” yang berarti “kemampuan”. Ini karena jihad menuntut kemampuan dan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dengan segenap kemampuan.
    Memang demikian, bahwa jihad merupakan cara yang ditetapkan Allah untuk menguji manusia. Tampak pula kaitan yang sangat erat dengan kesabaran sebagai isyarat bahwa jihad adalah sesuatu yang sangat sulit, memerlukan kesabaran serta ketabahan.
    Makna-makna kebahasaan serta maksud di atas mengenai jihad, dapat dikonfirmasikan dengan beberapa ayat al-Qur’an yang berbicara tentang jihad. Berikut ini firman Allah yang menunjukkan tentang jihad.

    B. Q.S. At-Taubah Ayat 41
    اِنْفِرُوْاخِفَافًا وَثِقَالاً وَجَاهِدُوْا بِاَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْ فِى سَبِيْلِ اللهِ ط ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ (التوبة: 41)
    “Berangkatlah baik dalam keadaan ringan ataupun berat, dan berjihadlah dengan harta kamu dan diri kamu di jalan Allah, yang demikian itu adalah lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.” (Qs. at-Taubah: 41).

    C. Kata Kunci
    Dan Berjihadlah Perintah : وَجَاهِدُوْا
    Ringan ataupun berat kadar (ukuran) : وَثِقَالاً خِفَافًا
    Kata khifafan adalah bentuk jamak dari (خَفِيْفٌ) yang berarti ringan, sedangkan tsiqolan adalah bentuk jamak dari (ثَقِيْلٌ) yang berarti berat.
    Keduanya bisa terdapat pada tubuh dan sifat-sifatnya, seperti sehat, sakit, kurus, gemuk, semangat, malas, muda dan tua. Bisa pula terdapat pada sebab dan keadaan, seperti sedikit dan banyaknya harta ada dan tidaknya kendaraan, serta ada atau tidak adanya kesibukan.

    D. Makna Global
    Jika perintah untuk melaksanakan perang umum telah diumumkan, maka perintah itu wajib ditaati, semua orang dalam masyarakat muslim harus terlibat dalam mendukung jihad, kecuali dalam keadaan benar-benar tidak mampu/tidak memungkinkan, seperti dalam pada firman Allah Q.S. Al-Fath ayat 17:
    لَيْسَ عَلَى اْلأَعْمَى حَرَجٌ وَلاَ عَلَى اْلأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلاَ عَلَى الْمَرِيْضِ حَرَجٌ (الفتح: 17)
    “Tiada dosa atas orang-orang yang buta dan atas orang-orang yang pincang dan atas orang yang sakit (apabila tidak ikut berperang).”(Qs. al-Fath: 17).

    Kita sudah mengetahui arti jihad, yaitu bisa berarti bekerja keras, bersungguh-sungguh maupun berjuang. Berperang mengadu tenaga dengan segala kemampuan dengan musuh, ini juga merupakan salah satu dari jihad. Maka dengan ayat ini diperintahkan tiap-tiap mukmin berjuang, bekerja keras, termasuk berperang, dengan harta benda dan dengan jiwa. Berjihad menegakkan jalan Allah. Mana yang kaya-raya, keluarkanlah harta, sebagaimana yang dilakukan oleh Usman bin Affan dengan barang-barang dagangannya yang diangkut oleh 100 ekor unta, mana yang kurang harta, tetapi badan kuat, berikanlah jiwa raga. Seperti hadits:
    رَوٰى اَبُوْدَاوُدَعَنْ اَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: جَاهِدُوالْمُشْرِكِيْنَ بِأَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْ وَاَلْسِنَتِكُمْ (رواه ابوداود عن اتس)

    “Berjihadlah terhadap kaum musyrikin dengan harta benda kamu, dan diri-diri kamu dan lidah-lidah kamu.” (HR. Abu Daud, dari Anas).

    Kata jihad dalam ayat tersebut mengandung pengertian peperangan, yaitu memerangi orang-orang ingkar dengan menggunakan senjata agar mereka takluk pada kekuasaan Allah/Islam.
    Dari ayat itu jelaslah bahwa di dalam al-Qur’an, jihad tidak hanya digunakan untuk satu pengertian saja, namun digunakan untuk beberapa pengertian yang mengandung makna sebagai tabligh, dakwah, pemaksaan, kesungguhan ataupun peperangan.
    Jadi, apabila dilihat apakah ayat tersebut masih relevan dengan makna jihad untuk konteks sekarang jelas sekali masih sangat relevan dikarenakan, bahwa ayat tersebut menjelaskan makna jihad bukan hanya dalam bentuk perang saja, akan tetapi jihad amatlah luas, seluas ajaran agama Islam yang mengatur seluruh sistem kehidupan manusia, dari masalah-masalah pribadi sampai masyarakat dan negara. Karenanya, seluruh sistem kehidupan yang diatur ajaran Islam secara otomatis mengandung unsur jihad. Perintah shalat, misalnya tidak terlepas dari unsur jihad. Jika seseorang mendirikan shalat, sebelumnya maka ia harus berjihad, yakni bersungguh-sungguh menundukkan hawa nafsunya agar mau melaksanakan shalat sebagaimana yang diperintahkan Islam.
    Memang al-Qur’an menyebutkan bahwa yang pertama dan utama pada saat melakukan jihad adalah dengan harta, dengan kekuatan fisiknya maupun kesiapan mentalnya. Akan tetapi, pada dasarnya inti dari jihad adalah keimanan dan ketabahan. Hal ini dijelaskan dalam QS. Al-Anfal ayat 65, yang berbunyi:
    يَآاَيُّهَا النَّبِيُّى حَرِّضِ الْمُؤْمِنِيْنَ عَلَى الْفِتَالِ إِنْ يَّكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُوْنَ صَابِرُوْنَ يَغْلِبُوْا مِائَتَيْنِ وَإِيَّكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ يَغْلِبُوْااَلْفًا مِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوابِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لاَيَفْقَهُوْنَ (الانفال: 65)

    “Hai Nabi, kabarkanlah semangat kaum Mukmin untuk berperang. Jika ada di antara kamu dua puluh orang yang sabar, maka mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Kalau ada diantara kamu seratus orang (yang sabar), maka mereka dapat mengalahkan seribu orang kafir, ini karena mereka (orang-orang kafir) tidak mengerti.” (Qs. al-Anfal: 65).

    E. Munasabah
    Setelah ayat yang lalu memerintahkan untuk keluar berperang bersama Rasul SAW, yaitu ayat 39 surat at-Taubah yang berbunyi:
    اِلاَّ تَنْفِرُوْايُعَذِّبْكُمْ عَذَابًااَلِيْمًا وَيَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلاَتَضُرُّوْهُ شَيْئًا وَاللهُ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ (التوبة: 39)
    “Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu.” (Qs. at-Taubah: 39).

    Maka hal tersebut menjadi jelaslah bahwa perintah berjihad pada hakikatnya adalah kemaslahatan, dan karena itu ayat ini sekali lagi memerintahkan berangkatlah kamu semua menuju medan jihad dengan bergegas dan penuh semangat baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, kaya atau miskin, kuat atau lemah, masing-masing sesuai kemampuannya. Yang demikian itu ialah lebih baik bagi kamu ditinjau dari berbagai aspek duniawi dan ukhrawi. Jika kamu mengetahui betapa banyaknya sisi kebajikan yang disiapkan Allah bagi yang berjihad dan taat kepada-Nya, tentulah kamu akan melaksanakan perintah ini.

    F. Asbabun Nuzul
    Asbabun nuzul surat at-Taubah ayat 41 yaitu:
    1. Di antara kaum muslimin ada terdapat orang-orang yang sakit atau terlalu lanjut usia, sehingga badan mereka merasa lemah untuk hadir dalam jihad. Karena kondisi yang demikian, maka mereka merasa berdosa karena tidak dapat hadir berjihad. Sehubungan dengan itu maka Allah SWT menurunkan ayat ke-41 sebagai ketegasan bahwa dalam kondisi seperti apapun mereka wajib mendatangi jihad, baik dengan perasaan ringan maupun berat, dengan harta maupun dengan jiwa raga. Jadi, bagi mereka yang lemah fisik, bisa dengan harta kekayaannya. (HR. Ibnu Jarir dari Hadhrami)
    2. Ketika kaum muslimin diperintahkan pergi berjihad menyerang kota Tabuk, mereka merasa ogah-ogahan sebab mereka lebih senang menikmati hasil buah-buahan yang ketika itu sedang berbuah. Disamping itu, kondisi musim sangat panas, sehingga lebih senang bersantai-santai di bawah pohon ambil menikmati pemandangan dan buah-buahan. Sehubungan dengan itu, maka Allah SWT menurunkan ayat ke-41 sebagai teguran terhadap mereka. Jadi, dengan alasan apa pun mereka tetap berkewajiban mendatangi jihad. (HR. Ibnu Jarir dari Mujahid)

    G. Kesimpulan
    Dari pemaparan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa ayat tersebut menjelaskan mengenai wajibnya berangkat ke medan jihad walau dalam keadaan ringan maupun berat. Apabila kaya raya, keluarkanlah hartanya, tetapi jika harta tidak ada namun memilik badan yang kuat dan sehat, maka berikanlah jiwa raganya untuk pergi berjihad di jalan Allah.

    Melihat konteks kekinian {bukan dalam kondisi PERANG} mengenai jihad bisa diterapkan tidak hanya dalam menghadapi peperangan saja, walaupun memang diakui bahwa salah satu bentuk jihad adalah perjuangan fisik/perang, akan tetapi ada jihad yang lebih besar dari pada perang yaitu jihad melawan hawa nafsu.
    Demikian terlihat bahwa jihad beraneka ragam, bukan hanya perang dan jihad melawan hawa nafsu saja yang penting. Akan tetapi kebodohan, kemiskinan dan penyakit merupakan jihad yang tidak kurang pentingnya daripada mengangkat senjata. Ilmuan berjihad memanfaatkan ilmunya, karyawan bekerja dengan karya yang baik, demikian seterusnya.

  3. 5 orang Golongan yang di Inginkan KeBAIKan oleh Allah
    ……………………….
    1. Dibukanya pintu amal sebelum kematian menjelang

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
    إذا أراد الله بعبد خيرا استعمله قيل : ما يستعمله ؟ قال : يفتح له عملا صالحا بين يدي موته حتى يرضي عليه من حوله
    “Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada seorang hamba, Allah akan jadikan ia beramal.” Dikatakan, “Apakah dijadikan beramal itu?” Beliau bersabda, “Allah bukakan untuknya amalan shalih sebelum meninggalnya, sehingga orang-orang yang berada di sekitarnya ridla kepadanya.” (HR Ahmad dan Al Hakim dari Amru bin Al Hamq).[1]

    2. Dipercepat sanksinya di dunia

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
    إذا أراد الله بعبده الخير عجل له العقوبة في الدنيا و إذا أراد بعبده الشر أمسك عنه بذنبه حتى يوافي به يوم القيامة
    “Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada hambaNya, Allah akan segerakan sanksi untuknya di dunia. Dan apabila Allah menginginkan keburukan kepada hambaNya, Allah akan membiarkan dosanya (di dunia) sampai Allah membalasnya pada hari kiamat.” (HR At Tirmidzi dan Al Hakim dari Anas bin Malik).[2]

    Namun kita tidak diperkenankan untuk meminta kepada Allah agar dipercepat sanksi kita di dunia, karena kita belum tentu mampu menghadapinya.
    عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَادَ رَجُلاً مِنَ الْمُسْلِمِينَ قَدْ خَفَتَ فَصَارَ مِثْلَ الْفَرْخِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « هَلْ كُنْتَ تَدْعُو بِشَىْءٍ أَوْ تَسْأَلُهُ إِيَّاهُ ». قَالَ نَعَمْ كُنْتُ أَقُولُ اللَّهُمَّ مَا كُنْتَ مُعَاقِبِى بِهِ فِى الآخِرَةِ فَعَجِّلْهُ لِى فِى الدُّنْيَا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « سُبْحَانَ اللَّهِ لاَ تُطِيقُهُ – أَوْ لاَ تَسْتَطِيعُهُ – أَفَلاَ قُلْتَ اللَّهُمَّ آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ». قَالَ فَدَعَا اللَّهَ لَهُ فَشَفَاهُ.
    “Dari Anas, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjenguk seseorang dari kaum muslimin yang telah kurus bagaikan anak burung. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apakah kamu berdo’a dengan sesuatu atau kamu memintanya?” Ia berkata, “Ya, aku berdo’a, “Ya Allah siksa yang kelak Engkau berikan kepadaku di akhirat segerakanlah untukku di dunia.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Subhanallah, kamu tidak akan mampu itu. Mengapa kamu tidak berkata, “Ya Allah berikan kepada kami di dunia kebaikan dan di akhirat kebaikan dan peliharalah kami dari adzab Neraka.” Maka orang itupun berdo’a dengannya. Allah pun menyembuhkannya.” (HR Muslim).

    3. Diberikan cobaan

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
    من يرد الله به خيرا يصب منه
    “Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan, Allah akan memberinya musibah.” (HR Ahmad dan Al Bukhari dari Abu Hurairah).

    Cobaan pasti akan menerpa kehidupan mukmin, karena itu janji Allah:
    وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ
    “Sungguh, Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.” (QS Al Baqarah: 155).

    Cobaan itu untuk menggugurkan dosa dan mengangkat derajat.
    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ أَوْ الْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَفِي مَالِهِ وَفِي وَلَدِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيئَةٍ
    Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Senantiasa ujian itu menerpa mukmin atau mukminah pada jasadnya, harta dan anaknya sampai ia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai dosa.” (HR Ahmad dengan sanad yang hasan).

    4. Difaqihkan dalam agama

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
    من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين
    “Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam agama.” HR Al Bukhari dan Muslim).

    Kefaqihan adalah pemahaman yang Allah berikan kepada seorang hamba. Pemahaman yang lurus terhadap Al Qur’an dan hadits berasal dari kebeningan hati dan aqidah yang shahih. Karena hati yang dipenuhi oleh hawa nafsu tidak akan dapat memahami Al Qur’an dan hadits dengan benar. Sebagaimana yang dikabarkan oleh nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kaum khawarij yang membaca Al Qur’an:

    يَخْرُجُ قَوْمٌ مِنْ أُمَّتِى يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَيْسَ قِرَاءَتُكُمْ إِلَى قِرَاءَتِهِمْ بِشَىْءٍ وَلاَ صَلاَتُكُمْ إِلَى صَلاَتِهِمْ بِشَىْءٍ وَلاَ صِيَامُكُمْ إِلَى صِيَامِهِمْ بِشَىْءٍ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ يَحْسِبُونَ أَنَّهُ لَهُمْ وَهُوَ عَلَيْهِمْ
    “Akan keluar suatu kaum dari umatku, mereka membaca Al Qur’an. Bacaan kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bacaan Al Qur’an mereka, shalat dan puasa kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan shalat dan puasa mereka. Mereka membaca Al Qur’an dan menyangka bahwa Al Qur’an mendukung mereka padahal Al Qur’an tidak mendukung mereka.” (HR Muslim).

    Itu semua akibat kedangkalan ilmu dan mengikuti hawa nafsu, sehingga mereka tidak diberikan pemahaman yang benar terhadap Al Qur’an dan hadits. Mereka mengira bahwa ayat Al Qur’am mendukung perbuatan mereka, padahal tidak demikian. Tentu yang memahaminya adalah orang-orang yang Allah faqihkan dalam agama dan selamatkan dari hawa nafsu.

    5. Diberikan kesabaran

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
    و ما أعطي أحد عطاء خيرا و أوسع من الصبر
    “Tidaklah seseorang diberikan dengan sesuatu yang lebih baik dan lebih luas dari kesabaran.” (HR Al Bukhari dan Muslim).

    Kesabaran dalam keimanan bagaikan kepala untuk badan. Badan tak akan hidup tanpa kepala, demikian pula iman tak akan hidup tanpa kesabaran. Untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya amat membutuhkan kesabaran. Karena Iblis dan balatentaranya tak pernah diam untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah.

    وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
    “Tidak ada yang diberikan (sifat-sifat yang terpuji ini) kecuali orang-orang yang sabar, dan tidak ada yang diberikannya kecuali orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS Fushilat: 35).

    Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang Engkau inginkan kebaikan padanya, beri kami kesabaran untuk menjalani perintahMu dan menjauhi laranganMu, beri kami kesabaran dalam menghadapi musibah yang menerpa, beri kami kefaqihan dalam agama dan bukakan untuk kami pintu amal shalih sebelum wafat kami. Aamiin.

  4. APA dikira SURGA itu MUDAH ???/ tinggal sholat dan puasa saja ??? ibadah yg MUDAH .. tanpa NYAWA/ JIWA / MATI taruhannya ?
    ————————————-
    kamu MENGIRA akan masuk SURGA ??? …. dapat syafaat Allah? syafaat Al QUr’an ? syafaat Nabi Muhammad? …..
    ————————— Allah pun SUDAH menjawab … Ali Imran:142
    SYAFAAT di AKHIRAT = KEHENDAK Allah saja .. HARUS dg IJIN Allah
    ……………….. “.. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya?……. Al Baqarah:255
    ————————-Allah pun SUDAH menjawab … Al Baqarah:214
    …………………… Mereka menjawab “kan … semua MUSLIM = masuk SURGA” … mendapat Syafaat Nabi-Nya … mendapat Ampunan-Nya (Allah SWT)…. Allah pun sudah MENJAWAB …. { Ali Imran:142, … Al Baqarah:214 }

    Ayat ini adalah ayat untuk UMAT ISLAM … —“apakah pernah Allah menyuruh orang KAFIR”— utk BERJIHAD dan SABAR ????

    >> ﴾ Ali Imran:142 ﴿…. Belum/tidak … diUJI dengan “JIHAD dan SABAR” …. Sudah “mengira AKAN masuk SURGA ??

    Apakah kamu MENGIRA bahwa kamu AKAN MASUK SURGA (???), padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.

    >>> ﴾ Al Baqarah:214 ﴿ …. Belum/tidak … diUJI dengan “MALAPETAKA dan KESENGSARAAN” …. Sudah “mengira AKAN masuk SURGA ??

    Apakah kamu MENGIRA bahwa kamu AKAN MASUK SURGA (??), padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

    …………………………………………………..
    mereka menjawab “orang Islam jika … MASUK neraka …. Kan TIDAK LAMA …. Hanya beberapa HARI saja.. TIDAK LAMA di neraka … setelah itu dimasukkan ke SURGA ??? …. Allahpun sudah menjawabnya … ﴾ Al Baqarah:80)

    “…………. Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja ……” ???????

    ﴾ Al Baqarah:80 ﴿
    Dan mereka berkata: “KAMI SEKALI-KALI TIDAK AKAN DISENTUH OLEH API NERAKA, KECUALI SELAMA BEBERAPA HARI SAJA”. Katakanlah: —–“Sudahkah kamu menerima janji dari Allah—– sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?”

    “……Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung….” ??????

    ﴾ Ali Imran:24 ﴿
    Hal itu adalah karena mereka mengaku: “KAMI TIDAK AKAN DISENTUH OLEH API NERAKA KECUALI BEBERAPA HARI YANG DAPAT DIHITUNG”. Mereka diperdayakan {DAN MEMPERDAYAKAN MEREKA/kesalahan memahami agama/tidak kaffah dalam memahami agama/tidak melihat secara keseluruhan/وَغَرَّهُمْ} dalam agama mereka oleh apa yang selalu MEREKA ADA-ADAKAN.

Leave a Reply