Loading
BerTAWAKAL… dan RIDHA terhadap TAKDIR Allah …..bagaimanapun keadaannya ——————————————— Kewajiban hamba mengenai takdir Allah ini adalah berusaha, berdo’a untuk mencapai yang kita inginkan, lalu bertawakkal, sabar dan ridha atas segala hal yang telah Allah tetapkan bagi diri kita. وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ “…Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakkal.” (Qs. Ibrahim: 11) وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ “…Dan bertawakkallah kamu hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang yang beriman.” (Qs. Al-Ma’idah: 23) | EP Artikel-Edy Gojira

BerTAWAKAL... dan RIDHA terhadap TAKDIR Allah .....bagaimanapun keadaannya --------------------------------------------- Kewajiban hamba mengenai takdir Allah ini adalah berusaha, berdo’a untuk mencapai yang kita inginkan, lalu bertawakkal, sabar dan ridha atas segala hal yang telah Allah tetapkan bagi diri kita. وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ “…Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakkal.” (Qs. Ibrahim: 11) وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ “…Dan bertawakkallah kamu hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang yang beriman.” (Qs. Al-Ma’idah: 23)

BerTAWAKAL... dan RIDHA terhadap TAKDIR Allah .....bagaimanapun keadaannya
---------------------------------------------
Kewajiban hamba mengenai takdir Allah ini adalah berusaha, berdo’a untuk mencapai yang kita inginkan, lalu bertawakkal, sabar dan ridha atas segala hal yang telah Allah tetapkan bagi diri kita.

وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

“…Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakkal.”
(Qs. Ibrahim: 11)

وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“…Dan bertawakkallah kamu hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang yang beriman.” (Qs. Al-Ma’idah: 23)

Banyak orang yang salah kaprah memahami hakikat tawakkal. Mereka mengira bahwa pasrah begitu saja dan “nrimo ing pandum” (menerima segala sesuatu yang telah ditetapkan) tanpa adanya usaha adalah wujud tawakkal yang benar. Sikap yang demikian keliru. Tawakkal sama sekali tidak menafikan adanya usaha hamba. Rasulullah shallallahualaihi wa sallam mengajarkan kepada kita untuk berusaha dahulu baru kemudian bertawakkal.

حَدَّثَنَا المُغِيرَةُ بْنُ أَبِي قُرَّةَ السَّدُوسِيُّ، قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ، يَقُولُ: قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَعْقِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ، أَوْ أُطْلِقُهَا وَأَتَوَكَّلُ؟ قَالَ: «اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ»

Al-Mughirah ibn Abi Qurrah As-Sadusi mengabarkan kepada kami, “Saya mendengar Anas ibn Malik radhiyallahuanhu berkata, “Ada seorang lelaki berkata kepada Nabi shallallahualaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah saya ikat (tambatkan) unta itu lalu saya bertawakkal atau saya lepaskan unta itu lalu saya bertawakkal?” Nabi shallallahualaihi wa sallam pun berkata, “Ikatlah unta tersebut, lalu bertawakallah.” (HR.Tirmidzi, dan dihasankan oleh Syaikh Albani dalam kitab Takhrij Ahadits Musykilah Al-Faqr wa Kaifa ‘Alajaha Al-Islam )

Pelajaran apakah yang bisa kita petik dari hadits ini?
Bahwa sebelum kita bertawakkal, kita harus menempuh sebab yakni dengan berusaha (di dalam hadits dicontohkan dengan mengikat unta) terlebih dahulu, baru kemudian kita bertawakkal.

Bisa disimpulkan bahwa terdapat dua jenis pondasi dalam tawakkal:
1. Adanya usaha yang sungguhsungguh
2. Adanya penyandaran dan pasrah diri hanya kepada Allah setelah berusaha

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Sesungguhnya salah seorang dari kamu, penciptaannya telah dihimpun di perut ibunya selama empat puluh hari berupa nuthfah, kemudian menjadialaqah selama itu pula, kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula. Kemudian, diutuslah malaikat kepadanya, meniupkan ruh kepadanya, dan diperintahkan untuk menulis empat hal: menulis rezekinya, ajalnya, amalnya, dan apakah ia celaka atau bahagia…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hal yang perlu diperhatikan di sini menyikapi takdir adalah:
Takdir manusia memang telah ditetapkan di Al-Lauh Al-Mahfuzh dan tidak akan pernah berubah. Adapun berkenaan dengan ketentuan takdir yang terdapat dalam catatan malaikat, maka masih dapat berubah sesuai dengan amalan hamba. Manusia hanya diperintahkan untuk berusaha (disertai dengan berdoa dan bertawakkal tentunya) agar manusia dipermudah kepada apa yang telah ditakdirkan baginya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Wahai sekalian manusia bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah usaha mencari rezeki, karena jiwa tidak akan mati sampai sempurna rezekinya walaupun kadang agak tersendat –sendat. Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah dalam mengusahakannya, ambillah yang halal dan buanglah yang haram.” (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih Ibnu Majah no.1741)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Setiap orang yang berbuat telah dimudahkan untuk melakukan perbuatan (yang telah ditakdirkan baginya -pen).” (HR. Muslim, bab Al-Qadar, no.2648)

Manusia hanya bisa berusaha, sedangkan Allah lah Yang Maha Kuasa. Siapapun yang didapat nantinya merupakan anugrah terbaik dari Allah ‘Azza wa Jalla, maka bersyukurlahmeskipun kenyataan yang didapati merupakan hal yang kurang disukai.

…فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

“…Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak…” (Qs. An–Nisa’: 19)

Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata,

من ملأ قلبه من الرضى بالقدر : ملأ الله صدره غنى وأمنا وقناعة وفرغ قلبه لمحبته والإنابة إليه والتوكل عليه

Barangsiapa yang memenuhi hatinya dengan ridha kepada takdir, maka Allah memenuhi dadanya dengan kecukupan, rasa aman, dan qana’ah, serta mengosongkan hati orang tersebut untuk mencintaiNya, kembali kepada Allah dengan melaksanakan ketaatan dan menjauhi larangan Allah [4], dan bertawakkal kepadaNya.” (Madarij As-Salikin)

Bagaimana jika seseorang sudah berusaha keras menjadi shalih/shalihah, namun ternyata pasangan hidupnya jauh dari ketaatan dan standar idaman? Apakah Allah menyalahi janjinya bahwa pria shalih akan mendapat wanita shalihah? Tidak! Dan apakah menghadapi kenyataan itu, lalu kita menghabiskan waktu kita dengan muka bermuram durja? Sedih, kecewa, putus asaatau malah ingin segera mengakhiri perjalanan bahtera rumah tangga?? Tentu tidak! Taruhlah jika seseorang itu sudah benar dalam berusaha dan berdoa, tapi nyatanya dia mendapat pasangan yang justruberbeda derajat” keshalihan/keshalihahannya, jauh panggang daripada api, ada dua hal yang bisa dirunut di sini:

• Allah hendak menguji dia melalui pasangan hidupnya. Siapa tahu justru dirinya yang menjadi perantara pasangannya untuk kembali mengenal kebenaran. Siapa pula yang tahu bahwa kesabaran, dakwah, dan didikan yang dilakukan bagi pasangannya, justru menjadi ladang pahala yang bisa mempermudah dia meretas jalan menuju ke FirdausNya. Pasti ada banyak hikmah yang terkandung dalam segala takdir yang Allah tetapkan, namun terkadang manusia tidak mengetahui karena keterbatasan akal pikiran.

Views All Time
Views All Time
720
Views Today
Views Today
2
About Edy Gojira 722 Articles
sampaikanlah .... kebenaran ayat-ayat Allah

2 Comments on BerTAWAKAL... dan RIDHA terhadap TAKDIR Allah .....bagaimanapun keadaannya --------------------------------------------- Kewajiban hamba mengenai takdir Allah ini adalah berusaha, berdo’a untuk mencapai yang kita inginkan, lalu bertawakkal, sabar dan ridha atas segala hal yang telah Allah tetapkan bagi diri kita. وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ “…Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakkal.” (Qs. Ibrahim: 11) وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ “…Dan bertawakkallah kamu hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang yang beriman.” (Qs. Al-Ma’idah: 23)

  1. “…Dan bertawakkallah kamu hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang yang beriman.” (Qs. Al-Ma’idah: 23)

    Banyak orang yang salah kaprah memahami hakikat tawakkal. Mereka mengira bahwa pasrah begitu saja dan “nrimo ing pandum” (menerima segala sesuatu yang telah ditetapkan) tanpa adanya usaha adalah wujud tawakkal yang benar. Sikap yang demikian keliru. Tawakkal sama sekali tidak menafikan adanya usaha hamba. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita untuk berusaha dahulu baru kemudian bertawakkal.

    حَدَّثَنَا المُغِيرَةُ بْنُ أَبِي قُرَّةَ السَّدُوسِيُّ، قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ، يَقُولُ: قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَعْقِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ، أَوْ أُطْلِقُهَا وَأَتَوَكَّلُ؟ قَالَ: «اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ»

    Al-Mughirah ibn Abi Qurrah As-Sadusi mengabarkan kepada kami, “Saya mendengar Anas ibn Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ada seorang lelaki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah saya ikat (tambatkan) unta itu lalu saya bertawakkal atau saya lepaskan unta itu lalu saya bertawakkal?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, “Ikatlah unta tersebut, lalu bertawakallah.” (HR.Tirmidzi, dan dihasankan oleh Syaikh Albani dalam kitab Takhrij Ahadits Musykilah Al-Faqr wa Kaifa ‘Alajaha Al-Islam )

    Pelajaran apakah yang bisa kita petik dari hadits ini?
    Bahwa sebelum kita bertawakkal, kita harus menempuh sebab yakni dengan berusaha (di dalam hadits dicontohkan dengan mengikat unta) terlebih dahulu, baru kemudian kita bertawakkal.

    Bisa disimpulkan bahwa terdapat dua jenis pondasi dalam tawakkal:
    1. Adanya usaha yang sungguh – sungguh
    2. Adanya penyandaran dan pasrah diri hanya kepada Allah setelah berusaha

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    “Sesungguhnya salah seorang dari kamu, penciptaannya telah dihimpun di perut ibunya selama empat puluh hari berupa nuthfah, kemudian menjadi ‘alaqah selama itu pula, kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula. Kemudian, diutuslah malaikat kepadanya, meniupkan ruh kepadanya, dan diperintahkan untuk menulis empat hal: menulis rezekinya, ajalnya, amalnya, dan apakah ia celaka atau bahagia…” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Hal yang perlu diperhatikan di sini menyikapi takdir adalah:
    Takdir manusia memang telah ditetapkan di Al-Lauh Al-Mahfuzh dan tidak akan pernah berubah. Adapun berkenaan dengan ketentuan takdir yang terdapat dalam catatan malaikat, maka masih dapat berubah sesuai dengan amalan hamba. Manusia hanya diperintahkan untuk berusaha (disertai dengan berdoa dan bertawakkal tentunya) agar manusia dipermudah kepada apa yang telah ditakdirkan baginya.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    “Wahai sekalian manusia bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah usaha mencari rezeki, karena jiwa tidak akan mati sampai sempurna rezekinya walaupun kadang agak tersendat –sendat. Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah dalam mengusahakannya, ambillah yang halal dan buanglah yang haram.” (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih Ibnu Majah no.1741)

  2. "Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."(QS. Ali Imran: 31)

    Al-Imad Ibnul Katsir berkata, "Ayat yang mulia ini menghakimi atas setiap orang yang mengaku cinta kepada Allah sedangkan ia tidak berada di atas jalan hidup Nabi Muhammad, bahwa ia berdusta dalam pengakuannya pada saat itu juga. Sehingga ia mengikuti syariat Nabi Muhammad dan dien Nawabi (Islam yang beliau bawa) dalam semua perkataan dan perbuataannya. Sebagaimana yang tertera dalam Shahihain, dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda: "Siapa yang beramal dengan satu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka ia tertolak."

    Al-Hasan al-Bashri dan ulama salaf lainnya telah berkata: Suatu kaum mengaku mencintai Allah, lalu Allah menguji mereka dengan ayat ini. lalu beliau membaca ayat di atas.

    Cinta kepada Allah tidak cukup hanya pengakuan. Tapi harus disertai pembuktian. Dan tanda bukti nyatanya adalah mengikuti utusan-Nya Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam semua keadaanya; baik dalam perkataan dan perbuatannya, dalam pokok agama dan cabangnya, dalam zahir dan batinnya. Maka siapa yang mengikuti Rasul itu menunjukkan benarnya pengakuannya. Dan siapa yang tidak mengikuti Rasul, ia tidak cinta kepada Allah Ta'ala. Karena kecintaan kepada Allah mengharuskan untuk mengikuti utusan-Nya. Jika hal itu tidak ditemukan pada seseorang, menunjukkan tidak adanya kecintaan kepada Allah dalam dirinya, ia dusta dalam pengakuannya.

Leave a Reply