Loading
Mukmin yang KUAT ….. lebih dicintai oleh Allah ———————– Dalam sebuah hadits riwayat Muslim, Rasulullah saw. bersabda المؤمن القوي خير وأحب إلى الله من المؤمن الضعيف (رواه مسلم) Artinya: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah”.(HR.Muslim) | EP Artikel-Edy Gojira

Mukmin yang KUAT ..... lebih dicintai oleh Allah ----------------------- Dalam sebuah hadits riwayat Muslim, Rasulullah saw. bersabda المؤمن القوي خير وأحب إلى الله من المؤمن الضعيف (رواه مسلم) Artinya: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah”.(HR.Muslim)

Mukmin yang KUAT ..... lebih dicintai oleh Allah
-----------------------
Dalam sebuah hadits riwayat Muslim, Rasulullah saw. bersabda
المؤمن القوي خير وأحب إلى الله من المؤمن الضعيف (رواه مسلم)
Artinya: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah”.(HR.Muslim)
--------------------------------------------
Kata al-qawi (kekuatan) memiliki banyak arti. Di dalam al-Qur’an ditemukan beberapa makna al-qawi, di antaranya:

Pertama, Kekuatan fisik, seperti disebutkan dalam surat ar-Rum [30]: 54
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ
Artinya: “Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.”

Dalam ayat di atas, kata quwat berarti kekuatan fisik. Sehingga, berdasarkan hadits di atas seorang mukmin yang kuat secara fisik lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah secara fisik. Sebab, seorang mukmin yang fisiknya lebih kuat, tentu bisa melakukan berbagai macam akatifitas secara baik dan sempurna dibandingkan seorang mukmin yang lemah fisiknya. Shalat seorang yang memiliki fisik yang kuat agaknya lebih sempurna dalam TAKWA kepada Allah dari seorang yang fisiknya lemah.

Dan tentu saja Allah lebih menyukai amal yang dilakukan seorang hamba secara sempurna.
-------------------------------------------
Dua, kekuatan tekad dan iradah, seperti disebutkan dalam surat al-Baqarah [2]: 63
وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُوا مَا ءَاتَيْنَاكُمْ بِقُوَّةٍ وَاذْكُرُوا مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): "Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya, agar kamu bertakwa".”

Kata quwat dalam ayat di atas bermakna tekad. Sebab, salah satu sikap bani Israel yang selalu dicela Allah, bahwa mereka tidak pernah memiliki keteguhan hati dan tekad dalam menjaga dan memenuhi janji yang telah mereka buat.

Dengan demikian, seorang mukmin yang kuat tekad dan kemauannya adalah lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah tekad dan kemauannya. Sebab, seorang yang memiliki keteguhan tekad bisanya kan menjadi orang yang sabar dan optimis. Dan tentu saja seorang hamba yang memiliki kesabaran dan optimisme yang lahir dari kekuatan tekad, lebih disukai dan dicintai oleh Allah swt.
-----------------------------------
Tiga, kekuatan amanah dan kecerdasan, seperti disebutkan dalam surat an-Najm [53]: 1-3
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى(3)إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى(4)عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى(5)
Artinya: “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya (3). Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya) (4). yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat (5).”

Kata al-quwa dalam ayat di atas dipakai untuk menyebutkan malaikat Jibril. Malaikat Jibril adalah makhluk yang sangat cerdas sekaligus jujur. Betapa tidak, setiap kali ia diperintah menyampaikan wahyu, ia tidak pernah minta diulang dan melupakan apa yang telah diterimanya untuk kemudian disampaikan kepada rasul, tanpa pernah satu huruf pun kurang dari apa yang telah diterimnya dari Allah swt.

Sehingga, seorang mukmin yang kuat kecerdasannya dan memiliki kekuatan dalam menerima dan menyampaikan amanah adalah lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada seorang mukmin yang lemah kecerdasan dan kejujurannya. Sebab, kekuatan intelektual dan kejujuran akan membawa mansuai memilki kedudukan yang tinggi, baik di hadapan Allah maupun di hadapan makhluk. Bukankah nabi Musa as. diangkat menjadi pegawai yang diserahi tugas mengelola kekayaan nabi Syu’aib as dan bahkan kemudian dijadikan menantu olehnya, karena memiliki kekuatan kecerdasan dan kejujuran (Baca QS. Al-Qasash [28]: 26). Begitu juga nabi Yusuf as. diangkat menjadi menteri dan pejabat tinggi di Mesir, juga karena memiliki kekuatan kecerdasan dan kejujuran (Baca. QS Yusuf [12]: 54).
-------------------------------------------
Empat, kekuatan dalam melawan musuh, seperti dalam surat al-Anfal [8]: 60
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَءَاخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ
Artinya: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”

Dengan demikian, seorang mukmin yang memiliki kekuatan dan keteguhan dalam melawan musuh agama adalah lebih baik dan lebih dicintai Allah swt. daripada seorang mukmin yang lemah dalam menghadapi musuh. Bukankah semua sahabat yang ikut berperang pada peperangan Badar, mendapat tempat yang sangat tinggi di hadapan Allah dibandingkan sebagian sahabat yang ikut para perang Uhud, terutama para sahabat yang tidak memiliki kekuatan iman dan keteguhan hati, sehingga mereka lalai terhadap pesan Rasualullah saw?

Adapun cara agar memperoleh kekuatan dan untuk tetap kuat, adalah selalu meminta ampun terhadap setiap dosa dan kesalahan dan selalu bertaubat kepada Allah swt. Begitulah caranya agar kekuatan tumbuh dalam diri seseorang, jika dia jauh dari dosa dan banyak melakukan amal kebajikan. Seperti disebutkan dalam surat Hud [11]: 52
وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا
Artinya: “Dan (dia berkata): "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa."
-------------------------------------------
Rasulullah Shallallahualaihi wa sallam bersabda :

“ Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah dari pada mukmin yanglemah dalam setiap amal kebaikan “ (Diriwayatkan oleh Muslim didalam Kitab al-Qadar, bab. Iman lil-Qadari wal-Idz’aan lahu).

Mukmin yang kuat –Lihat didalam Syar Shahih Muslim karya an-Nawawi 13 / 64, 16 / 215– :

Yang dimaksud dengan kuat adalah kehendak jiwa yang kuat dan kesediaan dalam setiap perkara-perkara akhirat, dengan demikian seseorang yang memiliki sifat ini akan lebih gagah berani dalam menghadapi musuh dan bergegas disaat keluar dan berangkat untuk menghadapinya. Dan juga mempunyai ‘azimah yang kuat dalam Amar Makruf Nahi Mungkar, dan bersabar dalam setiap gangguan dari setiap amalan itu, dan mampu untuk memikul segala kesulitan dalam pencapaian kepada Dzat Allah ta’ala,lebih bersungguh-sungguh dalam pengerjaan ibadah shalat, puasa, dzikir, dan ibadah-ibadah lainnya, dan lebih bersemangat dalam pencapaiannya dan penjagaannyadan lain sebagainya.

Kekuatan juga dimaksudkan disini adalah kekuatan fisik dan persiapan yang matang sebelumpeperangan dengan mempersiapkan segala macam senjata yang dipergunakan dalam peperangan sesuai dengan perkembangan zaman dan tempat. Dan kekuatan inilah yang seharusnya dipersiapkan oleh kaum muslimin baik secara individu perorangan ataukah secara berkelompok dan negara, sebagai bentuk manifestasi perintah Allah ta’ala :

“ Dan kalian persiapkanlah segala kekuatan yang kalian sanggup untuk menghadapi mereka “ (Surah al-Anfal : 60).

Dan itu berlaku dalam amal jihad fi sabilillah, meninggikan kalimat Allah,memerangi mush-musuh mereka, membebaskan tanah kediaman mereka serta membela kebenaran dan kaum yang tertindas.

Rasulullah Shallallahualaihi wa sallam telah memberikan sebuah khuthbah pada suatu hari diatas minbar, beliau bersabda :

Kalian persiapkanlah segala kekuatan kalian untuk menghadapi mereka., dan ketahuilah sesungguhnya kekuatan itu adalah kemampuan untuk melontarkan anak panah, ketahuilah kekuatan itu adalah kemampuan untuk melontarkan anak panah, ketahuilah kekuatan itu adalah kemampuan melontarkan anak panah “ (Diriwayatkan oleh Muslim didalam Kitab al-Imarah, bab. Fadhlu ar-Ramyu wal-Hatstsu ‘alaihi).

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan penafsiran dari makna kekuatan dengan kemampuan untuk melontarkan anak panah. Dan pada hadits ini menunjukkan keutamaan melontarkan anak panah dan perlombaan memanah dan perlunya fokus terhadap kemahiran mempergunakannya dengan niat Jihad fi sabilillah ta’ala. Demikian juga dengan pelatihan-pelatihan kemiliteran dan penggunaan ragam bentuk senjata, perlombaan menunggang kuda dan lain sebagainya. Dan maksud dari semuanya itu tiada lain untuk melatih kesiapan berperang dan latihan serta pengupayaan segala penunjang peperangan dan melatih kesiapan fisik.

Persiapan kekuatan mental dan fisik ini juga dimaksudkan untuk mengentarkan hati musuh-musuh Islam, kaum munafik, orang-oang kafir dan para penghianat, sebagaimana dalam firman Allah ta’ala :

“ Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang ( yang dengan persiapan itu ) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkanpada jalan Allah niscayaakan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya ( dirugikan ) “ (Surah al-Anfal : 60).

Oleh karena itu wajib bagi kaum muslimin untuk senantiasa mempersiapkan kekuatan ini dan dengan semakin menyempurnakannya sehingga akan menggentarkan kekuatan kebatilan dan musuh-musuh Allah dan menanamkan dalam hati sanubari mereka rasa takut, yang akan membuat mereka segan untuk menyerang negeri-negeri Islam dan tidak terbersit dalam pemikiran mereka untuk berdiri menghadapi cahaya Islam yang menyebar memberi pembebasan bagi setiap kaum manusia di muka bumi dan untuk menegaskan Uluhiyah Allah semata dan merobohkan segala bentuk uluhiyah terhadap hamba-Nya. Jadi kaum muslimin mereka diperintahkan untuk menjadi orang-orang yang kuat, dan agar mereka memobilisir segala aspek yang akan memberi kekuatan bagi mereka, agar mereka disegani dimuka bumi dan agar kalimat Allah ditinggikan dan kalimat orang-orang kafir menjadi rendah terhinakan, dan pada akhirnya Agama ini hanyalah bagi Allah.

Kesimpulannya, Allah ta’ala mencintai seorang mukmin yang memiliki kekuatan mentalitas dan fisik, yang membuatnya kuat dalam penyebaran Agama-Nya dan dalam jihad fisabilillah, dan ini lebih dicintai Allah dari pada mukmin yang lemah. Adapun sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “ Dan masing-masingnya mempuyai kebaikan “, maknanya bahwa masing-masing mukmin baik yang kuat maupun lemah memiliki kebaikan, karena keduanya konyungtif pada perihal keimanan, pada sisi pelaksanaan ibadah-ibadah si mukmin lemah .

Views All Time
Views All Time
370
Views Today
Views Today
3
About Edy Gojira 721 Articles
sampaikanlah .... kebenaran ayat-ayat Allah

2 Comments on Mukmin yang KUAT ..... lebih dicintai oleh Allah ----------------------- Dalam sebuah hadits riwayat Muslim, Rasulullah saw. bersabda المؤمن القوي خير وأحب إلى الله من المؤمن الضعيف (رواه مسلم) Artinya: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah”.(HR.Muslim)

  1. Kesimpulannya, Allah ta’ala mencintai seorang mukmin yang memiliki kekuatan mentalitas dan fisik, yang membuatnya kuat dalam penyebaran Agama-Nya dan dalam jihad fisabilillah, dan ini lebih dicintai Allah dari pada mukmin yang lemah. Adapun sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “ Dan masing-masingnya mempuyai kebaikan “, maknanya bahwa masing-masing mukmin baik yang kuat maupun lemah memiliki kebaikan, karena keduanya konyungtif pada perihal keimanan, pada sisi pelaksanaan ibadah-ibadah si mukmin lemah .

  2. Yang dimaksud dengan kuat adalah kehendak jiwa yang kuat dan kesediaan dalam setiap perkara-perkara akhirat, dengan demikian seseorang yang memiliki sifat ini akan lebih gagah berani dalam menghadapi musuh dan bergegas disaat keluar dan berangkat untuk menghadapinya. Dan juga mempunyai ‘azimah yang kuat dalam Amar Makruf Nahi Mungkar, dan bersabar dalam setiap gangguan dari setiap amalan itu, dan mampu untuk memikul segala kesulitan dalam pencapaian kepada Dzat Allah ta’ala,lebih bersungguh-sungguh dalam pengerjaan ibadah shalat, puasa, dzikir, dan ibadah-ibadah lainnya, dan lebih bersemangat dalam pencapaiannya dan penjagaannyadan lain sebagainya.

    Kekuatan juga dimaksudkan disini adalah kekuatan fisik dan persiapan yang matang sebelumpeperangan dengan mempersiapkan segala macam senjata yang dipergunakan dalam peperangan sesuai dengan perkembangan zaman dan tempat. Dan kekuatan inilah yang seharusnya dipersiapkan oleh kaum muslimin baik secara individu perorangan ataukah secara berkelompok dan negara, sebagai bentuk manifestasi perintah Allah ta’ala :

    “ Dan kalian persiapkanlah segala kekuatan yang kalian sanggup untuk menghadapi mereka “ (Surah al-Anfal : 60).

    Dan itu berlaku dalam amal jihad fi sabilillah, meninggikan kalimat Allah,memerangi mush-musuh mereka, membebaskan tanah kediaman mereka serta membela kebenaran dan kaum yang tertindas.

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan sebuah khuthbah pada suatu hari diatas minbar, beliau bersabda :

    “ Kalian persiapkanlah segala kekuatan kalian untuk menghadapi mereka., dan ketahuilah sesungguhnya kekuatan itu adalah kemampuan untuk melontarkan anak panah, ketahuilah kekuatan itu adalah kemampuan untuk melontarkan anak panah, ketahuilah kekuatan itu adalah kemampuan melontarkan anak panah “ (Diriwayatkan oleh Muslim didalam Kitab al-Imarah, bab. Fadhlu ar-Ramyu wal-Hatstsu ‘alaihi).

Leave a Reply