Loading
APAKAH…. Pengumpulan al-Quran itu bid’ah ? ÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷ Ini adalah komentar yang sering dilemparkan oleh para pendukung bid’ah hasanah (baik) untuk menghalalkan bid’ah dan ibadah buatan mereka. ……………………. Maka kita jawab dengan jawaban yg ilmiah | EP Artikel-Edy Gojira

APAKAH.... Pengumpulan al-Quran itu bid'ah ? ÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷ Ini adalah komentar yang sering dilemparkan oleh para pendukung bid'ah hasanah (baik) untuk menghalalkan bid'ah dan ibadah buatan mereka. ......................... Maka kita jawab dengan jawaban yg ilmiah

APAKAH.... Pengumpulan al-Quran itu bid'ah ?
÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷
Ini adalah komentar yang sering dilemparkan oleh para pendukung bid'ah hasanah (baik) untuk menghalalkan bid'ah dan ibadah buatan mereka.
.........................
Maka kita jawab dengan jawaban yg ilmiah

_________

Pertama :

Nabi shallallahu 'alaihiwa sallam telah memerintahkan untuk berpegang teguh dengan sunnah para al-Khulafaa ar-Roosyidiin , diantaranya Abu Bakar radhiallahu ' anhu. Nabi shallallahu'alaihi wa sallam bersabda :

ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺑِﺴُﻨَّﺘِﻲ ﻭَﺳُﻨَّﺔِ ﺍﻟْﺨُﻠَﻔَﺎﺀِ ﺍﻟﺮَّﺍﺷِﺪِﻳْﻦَ
ﺍﻟْﻤَﻬْﺪِﻳِﻴْﻦَ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِﻱ

" Berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah para al-Khulafaa ar- Rosyidiin yang mendapat petunjuk setelahku"

(HR At- Thirmidzi no 2676 , Abu Dawud 4607 , dan Ibnu Maajah no 42 dan dishahihkan oleh At-Thirmidzi dan Al- Haakim, dan dishahihkan oleh Al- Albani dalam Shahih al-Jaami' no 2549) .

Maka, mengumpulkan al-Qur 'an adalah sunnahnya Abu Bakar radhiallahu 'anhu yang kita diperintahkan untuk melakukannya.

________

Kedua :

Penulisan al-Qur'an bukanlah sesuatu yang baru dan para Sahabat hanya mengumpul,menyalin dalam mushaf dan membukukannya saja.

"Al-Qur'an telah tertulis di lembaran-lembaran, akan tetapi terpisah-pisah. Maka Abu Bakar pun mengumpulkannya pada satu tempat. Kemudian setelah itu tetap terjaga hingga akhirnya Utsman bin 'Affaan memerintahkan untuk menyalin dari lembaran-lembaran tersebut. Lalu disalinlah ke beberapa mushaf lalu dikirim oleh Utsman ke kota-kota" (Fathul Baari 9/13)

Allah ta'ala berfirman :

ﺭَﺳُﻮﻝٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻳَﺘْﻠُﻮ ﺻُﺤُﻔًﺎ ﻣُﻄَﻬَّﺮَﺓً

"( Yaitu ) seorang Rasul dari Allah (yaitu Muhammad ) yang membacakan lembaran- lembaran yang disucikan ( Al Quran )" (QS. Al-Bayyinah : 2 ).

Ayat ini menunjukan bahwa al-Qur 'an terlah tercatat di lembaran-lembaran yang suci. Rasulullah shallallahu ' alaihi wa sallam pernah bersabda :

ﻻَ ﺗَﻜْﺘُﺒُﻮﺍ ﻋَﻨِّﻲ ﻭَﻣَﻦْ ﻛَﺘَﺐَ ﻋَﻨِّﻲ ﻏَﻴْﺮَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ﻓَﻠْﻴَﻤْﺤُﻪُ

" Janganlah kalian menulis dariku , barang siapa yang menulis dariku selain Al- Qur 'an maka hapuslah " (HR Muslim no 3004 ).

Hadits ini menunjukan bahwa al-Qur 'an telah tercatat di masa kehidupan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan tentunya mengumpulkan lembaran-lembaran itu semua dalam satu tempat maka bukanlah perkara yang diingkari .

________

Ketiga :

Mereka (para sahabat) mengumpulkan al- Qur 'an dalam rangka merealisasikan firman Allah

ﺇِﻧَّﺎ ﻧَﺤْﻦُ ﻧَﺰَّﻟْﻨَﺎ ﺍﻟﺬِّﻛْﺮَ ﻭَﺇِﻧَّﺎ ﻟَﻪُ ﻟَﺤَﺎﻓِﻈُﻮﻥَ

" Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar- benar memeliharanya" ( QS Al -Hijr : 9 )

Ayat ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al Qur'an selama - lamanya. Dan diantara bentuk penjagaan Allah terhadap al-Qur 'an adalah Allah memudahkan para sahabat untuk mengumpulkan lembaran-lembaran Al-Qur ' an sebagaimana yang dipelopori oleh Abu Bakar As-Shiddiq dan kemudian dilanjutkan oleh Utsman bin 'Affaan dengan penyalinan lembaran- lembaran tersebut dalam mushaf - mushaf .

Oleh karenanya apa yang dilakukan oleh Abu Bakar adalah fardu kifayah dalam rangka menjalankan perintah Allah .

Al-Haafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

" Ibnu Al- Baaqillaani berkata : Apa yang dilakukan oleh Abu Bakr merupakan fardu kifayah, dengan dalil sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam " Janganlah kalian menulis dariku selain Al- Qur 'an" disertakan dengan firman Allah

ﺇِﻥَّ ﻋَﻠَﻴْﻨَﺎ ﺟَﻤْﻌَﻪُ ﻭَﻗُﺮْﺁﻧَﻪُ

" Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan ( membuatmu pandai) membacanya" ( QS Al- Qiyaamah :17)

Dan juga firman Allah :

ﺇِﻥَّ ﻫَﺬَﺍ ﻟَﻔِﻲ ﺍﻟﺼُّﺤُﻒِ ﺍﻷﻭﻟَﻰ (١٨ )

"Sesungguhnya ini benar- benar terdapat dalam Kitab - Kitab yang dahulu " ( QS Al-A ' la : 18)

Dan firman Allah

ﺭَﺳُﻮﻝٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻳَﺘْﻠُﻮ ﺻُﺤُﻔًﺎ ﻣُﻄَﻬَّﺮَﺓً

"( yaitu ) seorang Rasul dari Allah (yaitu Muhammad ) yang membacakan lembaran- lembaran yang disucikan ( Al Quran )" (QS Al-
Bayyinah : 2 )

Maka seluruh perbuatan yang kembali pada (merealisasikan) pengumpulan dan penjagaan al-Qur 'an maka hukumnya wajib kifayah .
Dan itu semua adalah bentuk nasehat kepada Allah , RasulNya, KitabNya , para pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin pada umumnya" (Fathul Baari 9 /14 )

Karenanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memiliki sekretaris-sekretaris ﻛُﺘَّﺎﺏُ ﺍﻟْﻮَﺣْﻲِ yang beliau tugaskan untuk menulis wahyu (al-Qur 'an ).

Mereka menulis al-Qur ' an yang didikte oleh Nabi shallallahu'alaihi wa sallam. Tentunya ini merupakan isyarat dari Nabi untuk mengumpulkan al- Qur 'an setelah selesai seluruh penyalinan di lembaran- lembaran mereka.

Tentunya Allah tatkala menjamin penjagaan Al- Qur 'an bukanlah penjagaan secara otomatis akan tetapi penjagaan dengan sebab yang Allah siapkan yaitu menggerakan hati-hati para sahabat untuk mengumpulkan Al-Qur 'an agar tidak ada yang hilang atau yang diperselisihkan keotentikannya.

_______

Keempat :

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melarang untuk bersafar membawa mushaf ke negeri musuh.
ِّ
Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhumaa bahwasanya Rasulullah shallallahu ' alaihi wa sallam melarang untuk bersafar membawa al- Qur 'an ke negeri musuh (HR Al-Bukhari no 2990 dan Muslim no 1869 )

Ini merupakan isyarat bahwasanya al- Qur 'an akan ada terkumpulkan di umat ini dan akan mudah di bawa dalam safar . (Lihat Ahkaamul Qur 'aan karya Abu Bakr Ibnul 'Arobi (wafat 542 H ), tahqiq : Muhammad Abdil Qodiir 'Atoo , Daarul Kutub al-' Ilmiyah, cetakan ketiga, 2 /611 )

_____
Kelima :

Pengumpulan al-Qur ' an merupakan perkara yang disepakati oleh para sahabat , sehingga hal ini merupakan ijmak, dan ijmak merupakan hujjah.

____
Keenam :

Pengumpulan al-Qur ' an dilakukan oleh para sahabat sesuai dengan kaidah " Saddu Dzari 'ah" dan " Dar 'ul Mafaasid " , yaitu dalam rangka untuk mencegah hilangnya sebagian al- Qur 'an dan juga mencegah terjadinya perselisihan di antara umat di masa depan karena berselisih tentang al-Qur 'an . Hal ini sebagaimana yang diisyaratkan oleh Umar bin Al-Khottob, dan juga sebagaimana yang dilakukan oleh Utsman bin 'Affan dengan menyalin lembaran-lembaran yang dikumpulkan oleh Abu Bakar dalam beberapa mushaf lalu di bagi- bagikan di bebeparapa kota.

Semuanya dilakukan agar kaum muslimin bersatu dan tidak berselisih.

===
Peringatan :
____
Pertama :

Jika ada yang berkata,
" Jika mengumpulkan al-Qur ' an merupakan bentuk penjagaan Al-Qur'an lantas kenapa Nabi shallallahu ' alaihi wa sallam tidak melakukannya ?"

Jawapannya

sebagaimana yang disampaikan oleh Ibnu Hajar Al- 'Asqolaani rahimahullah, beliau berkata :

" Al-Khotthoobi rahimahullah dan yang lainnya berkata, " Dan ada kemungkinan bahwasanya Nabi shallallahu ' alaihi wa sallam tidaklah mengumpulkan al-Qur ' an dalam sebuah mushaf karena beliau menantikan datangnya nasikh (ayat yang menghapus) yang menaskh - kan (menghapus) sebagian hukum - hukum al-Qur ' an atau tilawahnya . Tatkala selesai turunnya Al-Qur ' an – dengan wafatnya beliau shallallahu 'alaihi wa sallam - maka Allahpun mengilhamkan kepada khulafaa ar- Rosyidin untuk mengumpulkan al- Qur 'an sebagai bentuk penunaian janji yang benar bahwasanya Allah akan menjaga al- Qur 'an bagi umat Muhammadiah – semoga Allah menambah kemuliaan mereka- . Dan permulaan penjagaan al-Qur 'an dimulai melalui tangan Abu Bakr As- Shiddiq dengan musyawarah /masukan Umar radhiallahu 'anhumaa " ( Fathul Baari 9 /12 )

______

Kedua :

Jika kita perhatikan pengumpulan al- Qur 'an bukanlah membuat suatu ibadah yang barusama sekali bukan . Ia justru suatu bentuk sarana untuk memudahkan kaum muslimin untuk beribadah dengan membaca dan mempelajari al- Qur 'an . Hal ini sangat berbeza dengan bid 'ah-bid 'ah hasanah yang kebanyakannya merupakan bentuk ratacara baru dalam beribadah .
Seperti solat model baru , dzikir model baru, perayaan model baru… ini semua adalah kreasi dalam beribadah. Adapun pengumpulan al- Qur 'an sama sekali tidak ada kreasi dalam membuat suatu tata cara beribadah, bahkan dilakukan pengumpulan al-Qur ' an dalam rangka memantapkan ibadah-ibadah yang sudah ada !!!

Karenanya para ulama menyebutkan bahwasanya pengumpulan al- Qur 'an termasuk dalam al- Maslahah al- Mursalah. Sama seperti pembuatan sekolah- sekolah agama, pondok tahfiz al-Qur 'an , ilmu sanad dan riwayat, ilmu al- Jarh wa at- Ta' diil, ilmu nahwu dan shorof , semuanya bukanlah kreasi ibadah baru , akan tetapi sebagai sarana untuk bisa mengamalkan ibadah -ibadah yang sudah ada .

Silahkan kembali membaca perbedaan antara al- Maslahah al- Mursalah dengan bid' ah hasanah .

_______

Ketiga :

Lihatlah bagaimana Abu Bakar dan Zaid bin Tsaabit radhiallahu ' anhumaa pun hati- hati dan sempat berhenti dan berpikir panjang. Padahal jelas mengumpulkan al- Qur 'an adalah perkara yang dibolehkan dan bentuk pengamalan dari firman Allah tentang penjagaan Al- Qur 'an .

Akan tetapi para sahabat tetap saja sangat berhati- hati untuk melakukan sesuatu yang " masih baru" yang tidak pernah dikerjakan oleh Nabi. Bahkan Zaid bin Tsaabit mengatakan bahwa pekerjaan mengumpulkan al-Qur 'an lebih berat daripada memindahkan sebuah gunung !! . Lantas cuba kita bandingkan dengan para (pelaku ) bid 'ah -bid 'ah hasanah , baik tata cara ibadah baru , baik
model- model dzikir baru… sungguh mereka sama sekali membuatnya tanpa ragu -ragu sedikitpun !!!

Ibnu Batthool berkata,

"Abu Bakar dan Zaid bin Tsabit menghindar (dari mengumpulkan al- Qur 'an) hal ini dikarenakan mereka berdua tidak mendapati Rasulullah shallallahu ' alaihi wa sallam melakukannya . Maka mereka berdua benci untuk memposisikan diri mereka berdua sebagai posisi orang yang menambah - nambah kehati- hatiannya untuk agama melebihi kehati -hatian Rasulullah shallallahu ' alaihi wasallam.

Akan tetapi tatkala Umar mengingatkan mereka berdua akan faedah mengumpulkan al- Qur 'an dan kekawatiran terjadi perubahan kondisi di masa depan jika tidak dikumpulkan al-Qur ' an sehingga al- Qur 'an akan menjadi samar setelah tadinya dikenal , maka mereka berduapun mengambil inisiatif Umar bin al- Khotthoob" ( Fathul Baari 9 / 13-14 ).

berbagai sumber

Views All Time
Views All Time
332
Views Today
Views Today
1
About Edy Gojira 722 Articles
sampaikanlah .... kebenaran ayat-ayat Allah

3 Comments on APAKAH.... Pengumpulan al-Quran itu bid'ah ? ÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷ Ini adalah komentar yang sering dilemparkan oleh para pendukung bid'ah hasanah (baik) untuk menghalalkan bid'ah dan ibadah buatan mereka. ......................... Maka kita jawab dengan jawaban yg ilmiah

  1. TIDAK ADA bid’ah hasanah

    Barangsiapa diberi hidayah oleh Allah, maka tak seorang pun bisa menyesatkannya; dan barangsiapa dibiarkan sesat oleh Allah, maka tak seorang pun yang bisa memberinya hidayah. Sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk ialah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara ialah perkara yang diada-adakan (dalam agama), dan setiap perkara yang diada-adakan (dalam agama) ialah bid’ah, sedang setiap bid’ah itu sesat dan setiap yang sesat itu di Neraka…” (H.R. An Nasa’i dan Ibnu Majah dari Jabir bin Abdillah, dan dishahihkan oleh Al Albani, lihat Irwa’ul Ghalil 3/73)

    Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim dari jalur yang sama, yaitu Ja’far bin Muhammad (Ash Shadiq) dari ayahnya (Muhammad bin ‘Ali Al Baqir) [3]), dari sahabat Jabir bin Abdillah, dengan lafazh:

    وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.

    “Sejelek-jelek perkara ialah perkara yang diada-adakan (dalam agama), dan setiap bid’ah itu sesat”

    Dalam kedua hadits di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tegas menyatakan bahwa setiap bid’ah adalah sesat, dan sabda beliau ini berkenaan dengan bid’ah menurut syari’at. Mengapa harus begitu? Karena dua hal; pertama: menurut kaidah ushul fiqih, dalam menafsirkan dalil-dalil syar’i, terlebih dahulu kita harus membawanya kepada pengertiannya secara syar’i, kalau tidak bisa, baru kita membawanya kepada pengertian yang lain, seperti pengertian bahasa atau adat setempat sesuai dengan qarinah (petunjuk) yang ada

    Kedua: jika ia ditafsirkan sebagai bid’ah lughawi, konsekuensinya semua hal yang baru dianggap bid’ah dan sesat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setiap penemuan baru dalam bidang IPTEK pun dianggap sesat…dan jelas tidak mungkin ada orang berakal yang mengatakan seperti itu, apalagi seorang Rasul yang ma’shum.
    ----------------------------
    Mendudukkan maksud ucapan Umar bin Khatthab

    Jika kita telah memahami makna bid’ah secara lughawi dan syar’i, maka ucapan Umar bin Khatthab yang berbunyi: “sebaik-baik bid’ah adalah ini…”, sama sekali tidak bisa dijadikan dalil akan adanya bid’ah hasanah dalam agama, karena makna ucapan tersebut ialah bid’ah secara bahasa yang sifatnya nisbi (relatif).

    Alasannya: Lihatlah konteks ucapan Umar selengkapnya berikut:

    عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِيِّ أَنَّهُ قَالَ خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِي رَمَضَانَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ, وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلَاتِهِ الرَّهْطُ. فَقَالَ عُمَرُ: وَاللَّهِ إِنِّي لَأَرَانِي لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلَاءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ, فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ. قَالَ: ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلَاةِ قَارِئِهِمْ, فَقَالَ عُمَرُ: نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ, وَالَّتِي تَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنْ الَّتِي تَقُومُونَ, يَعْنِي آخِرَ اللَّيْلِ وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ

    Dari Abdurrahman bin Abdil Qaary katanya; aku keluar bersama Umar bin Khatthab t di bulan Ramadhan menuju masjid (Nabawi). Sesampainya di sana, ternyata orang-orang sedang shalat secara terpencar; ada orang yang shalat sendirian dan ada pula yang menjadi imam bagi sejumlah orang. Maka Umar berkata: “Menurutku kalau mereka kukumpulkan pada satu imam akan lebih baik…” maka ia pun mengumpulkan mereka –dalam satu jama’ah– dengan diimami oleh Ubay bin Ka’ab. Kemudian aku keluar lagi bersamanya di malam yang lain, dan ketika itu orang-orang sedang shalat bersama imam mereka, maka Umar berkata: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini, akan tetapi saat dimana mereka tidur lebih baik dari pada saat dimana mereka shalat”, maksudnya akhir malam lebih baik untuk shalat karena saat itu mereka shalatnya di awal malam. (H.R. Malik dalam Al Muwaththa’ bab: Ma jaa-a fi qiyami Ramadhan).

    Kemudian sebagaimana kita ketahui, anjuran beliau untuk shalat tarawih berjama’ah itu bukanlah sesuatu yang sama sekali baru, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah melakukannya beberapa kali, kemudian beliau hentikan karena khawatir kalau shalat tarawih diwajibkan atas umatnya

    Akan tetapi di masa Umar berkuasa, tidak semua warga Madinah tahu akan hal ini, karena banyak di antara mereka yang tidak pernah berjumpa dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apalagi shalat dibelakang beliau. Karenanya, bagi mereka ini merupakan hal baru (bid’ah lughawi). Jadi, jelaslah bahwa bid’ah yang dimaksudkan Umar di sini bukanlah bid’ah syar’i maupun lughawi secara mutlak, akan tetapi bid’ah lughawi nisbi (hal yang baru bagi sebagian kalangan).
    ------------------
    Lebih dari itu, ingatlah bahwa Umar termasuk salah seorang Khulafa’ Ar Rasyidin yang perbuatannya dianggap sebagai sunnah oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana sabda beliau:

    أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ (رواه أبو داود (4607) واللفظ له, وابن ماجه (42), وأحمد (16521,16522), والدارمي (95) وصححه الألباني)

    Kuwasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan menaati pemimpin kalian meski ia seorang budak habsyi (kulit hitam). Karena siapa yang hidup sepeninggalku nanti, pasti akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib baginya berpegang teguh dengan Sunnah (ajaran)-ku dan Sunnahnya Khulafa’ur Rasyidin sepeninggalku. Peganglah sunnah tadi erat-erat dan gigitlah dengan taringmu. Dan waspadailah setiap muhdatsaatul umuur [7]), karena itu semua adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat. (H.R Abu Dawud (no 4607) Ibnu Majah (42), Ahmad (16521,16522) dan Ad Darimi (95); ini adalah lafazh Abu Dawud dan dishahihkan oleh Al Albani, lihat: Shahih wa Dha’if Sunan Abi Dawud).
    ---------------------------
    Demikian juga sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain:

    عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ اقْتَدُوا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِي أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ

    (رواه الترمذي وقال: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ).

    Dari Hudzaifah katanya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Jadikanlah dua orang sepeninggalku sebagai qudwah (panutan/teladan) kalian: Abu Bakar dan Umar” (H.R. Tirmidzi dan beliau menghasankannya)
    --------------
    Kalaulah yang diperbuat oleh Umar tadi merupakan bid’ah dalam agama (bid’ah syar’i), maka mustahil Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan umatnya untuk meneladani seseorang yang mengatakan bahwa bid’ah syar’i itu ada yang baik, sedangkan Nabi sendiri mengatakan bahwa semua bid’ah itu sesat… Ini adalah sesuatu yang kontradiksi! Dan tidak pantas bagi sahabat sekaliber Umar bin Khatthab yang dijuluki al faruq (pembeda antara haq dan batil), untuk menyelisihi sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menganggap bahwa ada bid’ah yang baik dalam agama.

    Karenanya, ucapan Umar bin Khatthab di atas tidak boleh diartikan sebagai bid’ah secara syar’i, namun yang beliau maksudkan ialah bahwa keputusannya untuk menyatukan kaum muslimin pada satu imam merupakan suatu hal baru dan baik setelah sekian lama ditinggalkan.
    ----------------------
    SHALAT TARWAIH berJAMA'AH .... ada di masa NABI MASIH HIDUP {shalat MALAM di dalam BULAN RAMADHAN }

    Dari Abdurrahman bin Abdil Qaary katanya; aku keluar bersama Umar bin Khatthab t di bulan Ramadhan menuju masjid (Nabawi). Sesampainya di sana, ternyata orang-orang sedang shalat secara terpencar; ada orang yang shalat sendirian dan ada pula yang menjadi imam bagi sejumlah orang. Maka Umar berkata: “Menurutku kalau mereka kukumpulkan pada satu imam akan lebih baik…” maka ia pun mengumpulkan mereka –dalam satu jama’ah– dengan diimami oleh Ubay bin Ka’ab. Kemudian aku keluar lagi bersamanya di malam yang lain, dan ketika itu orang-orang sedang shalat bersama imam mereka, maka Umar berkata: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini, akan tetapi saat dimana mereka tidur lebih baik dari pada saat dimana mereka shalat”, maksudnya akhir malam lebih baik untuk shalat karena saat itu mereka shalatnya di awal malam. (H.R. Malik dalam Al Muwaththa’ bab: Ma jaa-a fi qiyami Ramadhan).

  2. Pengumpulan al-Quran itu bid'ah ?
    ÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷
    Ini adalah komentar yang sering dilemparkan oleh para pendukung bid'ah hasanah (baik) untuk menghalalkan bid'ah dan ibadah buatan mereka.

    Maka kita jawab dengan jawaban yg ilmiah

    _________

    Pertama :

    Nabi shallallahu 'alaihiwa sallam telah memerintahkan untuk berpegang teguh dengan sunnah para al-Khulafaa ar-Roosyidiin , diantaranya Abu Bakar radhiallahu ' anhu. Nabi shallallahu'alaihi wa sallam bersabda :

    ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺑِﺴُﻨَّﺘِﻲ ﻭَﺳُﻨَّﺔِ ﺍﻟْﺨُﻠَﻔَﺎﺀِ ﺍﻟﺮَّﺍﺷِﺪِﻳْﻦَ
    ﺍﻟْﻤَﻬْﺪِﻳِﻴْﻦَ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِﻱ

    " Berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah para al-Khulafaa ar- Rosyidiin yang mendapat petunjuk setelahku"

    (HR At- Thirmidzi no 2676 , Abu Dawud 4607 , dan Ibnu Maajah no 42 dan dishahihkan oleh At-Thirmidzi dan Al- Haakim, dan dishahihkan oleh Al- Albani dalam Shahih al-Jaami' no 2549) .

    Maka, mengumpulkan al-Qur 'an adalah sunnahnya Abu Bakar radhiallahu 'anhu yang kita diperintahkan untuk melakukannya.

    ________

    Kedua :

    Penulisan al-Qur'an bukanlah sesuatu yang baru dan para Sahabat hanya mengumpul,menyalin dalam mushaf dan membukukannya saja.

    "Al-Qur'an telah tertulis di lembaran-lembaran, akan tetapi terpisah-pisah. Maka Abu Bakar pun mengumpulkannya pada satu tempat. Kemudian setelah itu tetap terjaga hingga akhirnya Utsman bin 'Affaan memerintahkan untuk menyalin dari lembaran-lembaran tersebut. Lalu disalinlah ke beberapa mushaf lalu dikirim oleh Utsman ke kota-kota" (Fathul Baari 9/13)

    Allah ta'ala berfirman :

    ﺭَﺳُﻮﻝٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻳَﺘْﻠُﻮ ﺻُﺤُﻔًﺎ ﻣُﻄَﻬَّﺮَﺓً

    "( Yaitu ) seorang Rasul dari Allah (yaitu Muhammad ) yang membacakan lembaran- lembaran yang disucikan ( Al Quran )" (QS. Al-Bayyinah : 2 ).

    Ayat ini menunjukan bahwa al-Qur 'an terlah tercatat di lembaran-lembaran yang suci. Rasulullah shallallahu ' alaihi wa sallam pernah bersabda :

    ﻻَ ﺗَﻜْﺘُﺒُﻮﺍ ﻋَﻨِّﻲ ﻭَﻣَﻦْ ﻛَﺘَﺐَ ﻋَﻨِّﻲ ﻏَﻴْﺮَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ﻓَﻠْﻴَﻤْﺤُﻪُ

    " Janganlah kalian menulis dariku , barang siapa yang menulis dariku selain Al- Qur 'an maka hapuslah " (HR Muslim no 3004 ).

    Hadits ini menunjukan bahwa al-Qur 'an telah tercatat di masa kehidupan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan tentunya mengumpulkan lembaran-lembaran itu semua dalam satu tempat maka bukanlah perkara yang diingkari .

    ________

    Ketiga :

    Mereka (para sahabat) mengumpulkan al- Qur 'an dalam rangka merealisasikan firman Allah

    ﺇِﻧَّﺎ ﻧَﺤْﻦُ ﻧَﺰَّﻟْﻨَﺎ ﺍﻟﺬِّﻛْﺮَ ﻭَﺇِﻧَّﺎ ﻟَﻪُ ﻟَﺤَﺎﻓِﻈُﻮﻥَ

    " Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar- benar memeliharanya" ( QS Al -Hijr : 9 )

    Ayat ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al Qur'an selama - lamanya. Dan diantara bentuk penjagaan Allah terhadap al-Qur 'an adalah Allah memudahkan para sahabat untuk mengumpulkan lembaran-lembaran Al-Qur ' an sebagaimana yang dipelopori oleh Abu Bakar As-Shiddiq dan kemudian dilanjutkan oleh Utsman bin 'Affaan dengan penyalinan lembaran- lembaran tersebut dalam mushaf - mushaf .

    Oleh karenanya apa yang dilakukan oleh Abu Bakar adalah fardu kifayah dalam rangka menjalankan perintah Allah .

    Al-Haafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

    " Ibnu Al- Baaqillaani berkata : Apa yang dilakukan oleh Abu Bakr merupakan fardu kifayah, dengan dalil sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam " Janganlah kalian menulis dariku selain Al- Qur 'an" disertakan dengan firman Allah

    ﺇِﻥَّ ﻋَﻠَﻴْﻨَﺎ ﺟَﻤْﻌَﻪُ ﻭَﻗُﺮْﺁﻧَﻪُ

    " Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan ( membuatmu pandai) membacanya" ( QS Al- Qiyaamah :17)

    Dan juga firman Allah :

    ﺇِﻥَّ ﻫَﺬَﺍ ﻟَﻔِﻲ ﺍﻟﺼُّﺤُﻒِ ﺍﻷﻭﻟَﻰ (١٨ )

    "Sesungguhnya ini benar- benar terdapat dalam Kitab - Kitab yang dahulu " ( QS Al-A ' la : 18)

    Dan firman Allah

    ﺭَﺳُﻮﻝٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻳَﺘْﻠُﻮ ﺻُﺤُﻔًﺎ ﻣُﻄَﻬَّﺮَﺓً

    "( yaitu ) seorang Rasul dari Allah (yaitu Muhammad ) yang membacakan lembaran- lembaran yang disucikan ( Al Quran )" (QS Al-
    Bayyinah : 2 )

    Maka seluruh perbuatan yang kembali pada (merealisasikan) pengumpulan dan penjagaan al-Qur 'an maka hukumnya wajib kifayah .
    Dan itu semua adalah bentuk nasehat kepada Allah , RasulNya, KitabNya , para pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin pada umumnya" (Fathul Baari 9 /14 )

    Karenanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memiliki sekretaris-sekretaris ﻛُﺘَّﺎﺏُ ﺍﻟْﻮَﺣْﻲِ yang beliau tugaskan untuk menulis wahyu (al-Qur 'an ).

    Mereka menulis al-Qur ' an yang didikte oleh Nabi shallallahu'alaihi wa sallam. Tentunya ini merupakan isyarat dari Nabi untuk mengumpulkan al- Qur 'an setelah selesai seluruh penyalinan di lembaran- lembaran mereka.

    Tentunya Allah tatkala menjamin penjagaan Al- Qur 'an bukanlah penjagaan secara otomatis akan tetapi penjagaan dengan sebab yang Allah siapkan yaitu menggerakan hati-hati para sahabat untuk mengumpulkan Al-Qur 'an agar tidak ada yang hilang atau yang diperselisihkan keotentikannya.

    _______

    Keempat :

    Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melarang untuk bersafar membawa mushaf ke negeri musuh.
    ِّ
    Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhumaa bahwasanya Rasulullah shallallahu ' alaihi wa sallam melarang untuk bersafar membawa al- Qur 'an ke negeri musuh (HR Al-Bukhari no 2990 dan Muslim no 1869 )

    Ini merupakan isyarat bahwasanya al- Qur 'an akan ada terkumpulkan di umat ini dan akan mudah di bawa dalam safar . (Lihat Ahkaamul Qur 'aan karya Abu Bakr Ibnul 'Arobi (wafat 542 H ), tahqiq : Muhammad Abdil Qodiir 'Atoo , Daarul Kutub al-' Ilmiyah, cetakan ketiga, 2 /611 )

    _____
    Kelima :

    Pengumpulan al-Qur ' an merupakan perkara yang disepakati oleh para sahabat , sehingga hal ini merupakan ijmak, dan ijmak merupakan hujjah.

    ____
    Keenam :

    Pengumpulan al-Qur ' an dilakukan oleh para sahabat sesuai dengan kaidah " Saddu Dzari 'ah" dan " Dar 'ul Mafaasid " , yaitu dalam rangka untuk mencegah hilangnya sebagian al- Qur 'an dan juga mencegah terjadinya perselisihan di antara umat di masa depan karena berselisih tentang al-Qur 'an . Hal ini sebagaimana yang diisyaratkan oleh Umar bin Al-Khottob, dan juga sebagaimana yang dilakukan oleh Utsman bin 'Affan dengan menyalin lembaran-lembaran yang dikumpulkan oleh Abu Bakar dalam beberapa mushaf lalu di bagi- bagikan di bebeparapa kota.

    Semuanya dilakukan agar kaum muslimin bersatu dan tidak berselisih.

  3. TIDAK ADA bid’ah hasanah
    ............................................
    “Sejelek-jelek perkara ialah perkara yang diada-adakan (dalam agama), dan setiap BID'AH itu SESAT” HR Muslim
    -----------------------------------
    ---------------------------------
    Dalam riwayat An Nasa’i,

    مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلا هَادِيَ لَهُ ، إِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

    “Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan yang disesatkan oleh Allah tidak ada yang bisa memberi petunjuk padanya. Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka” (HR. An Nasa’i no. 1578, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan An Nasa’i)
    -----------------------------
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

    مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

    “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)
    -------------------------------
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

    مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

    “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Muslim no. 1718)
    ---------------------------------------------
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap memulai khutbah biasanya beliau mengucapkan,

    أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

    “Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. Muslim no. 867)
    ----------------------------------------
    Barangsiapa diberi hidayah oleh Allah, maka tak seorang pun bisa menyesatkannya; dan barangsiapa dibiarkan sesat oleh Allah, maka tak seorang pun yang bisa memberinya hidayah. Sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk ialah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara ialah perkara yang diada-adakan (dalam agama), dan setiap perkara yang diada-adakan (dalam agama) ialah bid’ah, sedang setiap bid’ah itu sesat dan setiap yang sesat itu di Neraka…” (H.R. An Nasa’i dan Ibnu Majah dari Jabir bin Abdillah, dan dishahihkan oleh Al Albani, lihat Irwa’ul Ghalil 3/73)
    ------------------------------------------
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

    “Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at kepada pemimpin walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Karena barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunnah-ku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. At Tirmidzi no. 2676. ia berkata: “hadits ini hasan shahih”)
    -------------------------------
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

    أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ ، لَيُرْفَعَنَّ إِلَىَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمُ اخْتُلِجُوا دُونِى فَأَقُولُ أَىْ رَبِّ أَصْحَابِى . يَقُولُ لاَ تَدْرِى مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

    “Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Lalu ditampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku’. Allah berfirman, ‘Engkau tidak tahu (bid’ah) yang mereka ada-adakan sepeninggalmu’ “ (HR. Bukhari no. 6576, 7049).
    ---------------------------------------
    Dalam riwayat lain dikatakan,

    إِنَّهُمْ مِنِّى . فَيُقَالُ إِنَّكَ لاَ تَدْرِى مَا بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِى

    “(Wahai Rabb), sungguh mereka bagian dari pengikutku. Lalu Allah berfirman, ‘Sungguh engkau tidak tahu bahwa sepeninggalmu mereka telah mengganti ajaranmu”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Celaka, celaka bagi orang yang telah mengganti ajaranku sesudahku”(HR. Bukhari no. 7050).
    -------------------------------

Leave a Reply