Loading
MANUSIA Seperti ….. BINATANG …..(bahkan lebih buRuk lagi) ………….. cara berpikir, cara memahami, … dan berbuat .. spt BINATANG ————————————————————— ……….manusia tergolong BINATANG .. krn selalu mengikuti HAWA NAFSU … apa itu hawa Nafsu ??? ————————————————————— Saat Hati, Mata, dan Telinga tidak dipeRgunakan untuk memahami Kebenaran dari Allah … Tuhannya | EP Artikel-Edy Gojira

MANUSIA Seperti ….. BINATANG …..(bahkan lebih buRuk lagi) ………….. cara berpikir, cara memahami, … dan berbuat .. spt BINATANG ————————————————————— ……….manusia tergolong BINATANG .. krn selalu mengikuti HAWA NAFSU … apa itu hawa Nafsu ??? ————————————————————— Saat Hati, Mata, dan Telinga tidak dipeRgunakan untuk memahami Kebenaran dari Allah … Tuhannya

MANUSIA Seperti ….. BINATANG …..(bahkan lebih buRuk lagi)
………….. cara berpikir, cara memahami, … dan berbuat .. spt BINATANG
————————–————————–———–
……….manusia tergolong BINATANG .. krn selalu mengikuti HAWA NAFSU … apa itu hawa Nafsu ???
————————–————————–———–
Saat Hati, Mata, dan Telinga tidak dipeRgunakan untuk memahami Kebenaran dari Allah … Tuhannya
————————–————————–———
[QS. Al A’Raaf (7) ayat 179]
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neRaka Jahannam) kebanyakan daRi jin dan manusia, meReka mempunyai hati, tetapi tidak dipeRgunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan meReka mempunyai mata (tetapi) tidak dipeRgunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan meReka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipeRgunakannya untuk mendengaR (ayat-ayat Allah). MeReka itu sebagai binatang teRnak, bahkan meReka lebih sesat lagi. MeReka itulah ORang-ORang yang lalai. “

[QS. Al Anfaal (8) ayat 22]
“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang sebuRuk-buRuknya pada sisi Allah ialah; ORang-ORang yang pekak dan tuli yang tidak mengeRti apa-apapun. “
————————–————————–———–
Orang yang Menjadikan Hawa Nafsu sebagai Tuhannya
————————–————————–——————-
[QS. Al FuRqaan (25) ayat 43-44]
“TeRangkanlah kepadaku tentang ORang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihaRa atasnya? Atau apakah kamu mengiRa bahwa kebanyakan meReka itu mendengaR atau memahami. MeReka itu tidak lain, hanyalah sepeRti binatang teRnak, bahkan meReka lebih sesat jalannya (daRi binatang teRnak itu).”

[QS. Al A’Raaf (7) ayat 176]
”Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (deRajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cendeRung kepada dunia dan menuRutkan hawa nafsunya yang Rendah, maka peRumpamaannya sepeRti anjing jika kamu menghalaunya diuluRkannya lidahnya dan jika kamu membiaRkannya dia menguluRkan lidahnya (juga). Demikian itulah peRumpamaan ORang-ORang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceRitakanlah (kepada meReka) kisah-kisah itu agaR meReka beRfikiR.”
————————–————————–————-
jangan jadi golongan KAFIR …atau..”murtad tanpa sadar” …..Orang KafiR adalah sebuRuk-buRuknya Makhluk
————————–————————–————
[QS. Al BaqaRah (2) ayat 171]
“Dan peRumpamaan (ORang-ORang yang menyeRu) ORang-ORang kafiR adalah sepeRti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengaR selain panggilan dan seRuan saja. MeReka tuli, bisu dan buta, maka (Oleh sebab itu) meReka tidak mengeRti. “

[QS. Al Anfaal (8) ayat 55]
“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buRuk di sisi Allah ialah ORang-ORang yang kafiR, kaRena meReka itu tidak beRiman.”

[QS. Muhammad (47) ayat 12]
“Sesungguhnya Allah memasukkan ORang-ORang mukmin dan beRamal saleh ke dalam jannah yang mengaliR di bawahnya sungai-sungai. Dan ORang-ORang kafiR beRsenang-senang (di dunia) dan meReka makan sepeRti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal meReka.”
……………………..…………………
Hati, Mata dan Telinga yang Menjerumuskan ke Neraka Jahannam

Sementara dalam kajian Sayyid Quthb, ada dua pertimbangan yang bisa ditangkap dari ayat di atas, yaitu:

Pertama, sesungguhnya terbuka bagi pengetahuan Allah yang azali (sejak dahulu kala), bahwa mereka (kebanyakan jin dan manusia) itu akan dijerumuskan ke neraka Jahannam. Dan hal ini tidak membutuhkan terlihatnya perbuatan yang menjadikan mereka berhak masuk neraka ke dalam dunia ‘amal’ nyata mereka. Sebab, ‘ilmu Allah universal dan integral, tidak terbatas pada zaman dan gerakan yang melahirkan perbuatan di dunia hamba yang baru.

Kedua, sesungguhnya pengetahuan Allah yang azali–yang tidak terkait dengan zaman dan gerakan di dunia hamba yang baru–bukanlah yang mendorong kebanyakan jin dan manusia kepada kesesatan, melainkan dipicu oleh faktor yang disebut secara tekstual oleh ayat di atas, “Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah).”

Mereka tidak membuka hati yang dianugerahkan kepada mereka untuk memahami (ayat-ayat Allah). Mereka juga tidak membuka mata untuk melihat ayat kauniyah, tanda-tanda kekuasaan Allah yang terkait dengan alam semesta.

Mereka pun tidak membuka telinga untuk mendengar ayat-ayat Allah yang dibaca. Mereka benar-benar menelantarkan perangkat-perangkat yang dianugerahkan kepada mereka. Karena itu, mereka hidup dalam kelalaian dan tidak pernah melakukan kontemplasi (perenungan). Maka mereka dikatakan, “Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (lihat Fi Zhilal Al Qur’an III/1401).

Hati adalah Pemimpin Tubuh

Penyebutan secara khusus hati, mata dan telinga, menunjukkan betapa pentingnya ketiga organ ini. Mereka bisa mengantarkan ke surga manakala digunakan dengan baik untuk meningkatkan iman dan takwa. Akan tetapi, mereka juga bisa menjerumuskan ke neraka manakala ditelantarkan dan digunakan untuk maksiat kepada Allah.

Didahulukannya hati dari penyebutan mata dan telinga juga memperlihatkan urgensi hati bagi keseluruhan tubuh manusia. Hati menjadi tempat seluruh perasaan jiwa, kekuatan berpikir dan keyakinan manusia. Perasaan cinta, benci, bahagia, gelisah, marah, takabbur, tawadhu, yakin dan ragu muncul dari hati.

Karena itu, hati sangat menentukan baik dan buruk manusia secara menyeluruh, sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Ingatlah bahwa di dalam tubuh manusia ada segumpal organ, bila ia baik maka baiklah seluruh tubuh manusia itu. Dan bila dia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Organ itu adalah hati (qolbu),” (HR Bukhari I/126 dan Muslim XI/27, 28).

Dengan demikian, menjaga kesehatan hati berarti menjaga manusia secara keseluruhan. Sedangkan membiarkan hati rusak sama dengan merusak manusia itu sendiri. Hal ini sangatlah rasional mengingat hati adalah tempat bersemayamnya keyakinan yang akan menentukan visi hidup seorang manusia, sumber niat, motivasi, selera dan emosi yang akan mengarahkan amal seseorang dan menentukan mutunya.

Tak Berhati Tak Berakal

Kalimat penutup ayat 179 surat Al-A’raaf di atas menegaskan, ketika manusia menelantarkan fungsi hati, mata dan telinga, maka ia disamakan seperti binatang yang tidak berhati dan berakal. Karena itu, ayat tersebut memberi sinyal penting akan adanya manusia yang berperilaku binatang.

Tampilan oke, parlente, semua pernak-pernik dan hiasan dunia menempel di tubuhnya, namun perilakunya bak binatang. Seperti pejabat yang menjarah dan mengorupsi uang rakyat milyaran rupiah dan membiarkan sebagian rakyatnya mengidap busung lapar dan gizi buruk. Contoh lain, orang yang merekam perbuatan mesumnya dengan pacarnya dan istri orang lain lalu perbuatan asusilanya itu ditonton oleh sekian juta mata. Mereka bagai binatang, tak berhati tak berakal. Wallahu a’lam bishawab.

_____________________________________
manusia tergolong BINATANG TERNAK .. krn selalu mengikuti HAWA NAFSU
————————–————————–————————–————
Manusia diciptakan dengan 2 unsur. Dia tercipta dari jasad dan ruh. Jasad adalah unsur yang terlihat sementara ruh itu abstrak dan tak kasat mata.

Setiap hari manusia selalu dalam keadaan berperang. Perang antara keinginan jasmaninya dengan kehendak ruhnya. Terkadang jasad bisa mengalahkan ruh dan terkadang ruh menjadi pemenangnya. Syahwat selalu terkait dengan keinginan jasmani sementara akal selalu beriringan dengan keinginan rohani kita.

Suatu hari, Rasulullah saw berjalan melewati sekumpulan anak muda yang sedang adu kekuatan mengangkat batu. Rasul memuji kekuatan mereka lalu bersabda,
“Manusia yang paling kuat adalah dia yang bisa mengalahkan hawa nafsunya.”

Dua unsur manusia itu sama-sama membutuhkan makanan. Jasad akan sakit jika jarang diberi makanan, sementara ruh juga bisa sakit jika jarang diberi asupan. Banyak orang yang hanya fokus untuk memberi makan tubuhnya sementara dia lalai kepada ruhnya yang kelaparan.

Kita melihat manusia memiliki hobi yang berbeda-beda. Salah satu faktor yang mempengaruhi hobi seseorang adalah cukupnya makanan ruh. Seseorang yang memberi makanan yang cukup pada ruhnya akan memiliki hobi yang positif. Seperti Imam Ali bin Abi tholib yang sering menggali sumur untuk masyarakat. Puncak kesenangan beliau adalah ketika sumur itu mengeluarkan sumber air sehingga orang-orang bisa memanfaatkan air darinya.

Beda dengan mereka yang ruhnya sekarat karena tak pernah diberi makan. Dia cenderung memiliki hobi yang negatif. Ada seorang yang hobinya melihat orang dibunuh. Seperti seorang bernama Hajjaj. Dia adalah pembunuh para ulama’ yang berseberangan dengannya. Dia juga gemar membunuh para pecinta Ahlulbait Nabi. Bahkan, saat dia ingin menaikkan selera makannya, dia menyuruh anak buahnya untuk membunuh seseorang didepannya. Hal seperti ini yang bisa menaikkan selera makannya.

Manusia bisa melakukan hal-hal yang binatang pun enggan melakukannya. Manusia juga bisa melakukan hal yang membuatnya terbang lebih tinggi dari derajat Malaikat.

Semuanya bergantung pada akal dan hawa nafsu. Ayat-ayat yang memuliakan manusia adalah untuk mereka yang bisa mengendalikan hawa nafsunya. Dan ayat yang berisi tentang kerendahan manusia adalah untuk mereka yang patuh pada perintah hawa nafsu. Bahkan, orang yang kalah dengan hawa nafsunya adalah makhluk terburuk menurut Al-Qur’an.

إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِندَ اللّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لاَ يَعْقِلُونَ -٢٢-

“Sesungguhnya makhluk bergerak yang bernyawa yang paling buruk dalam pandangan Allah ialah mereka yang tuli dan bisu (tidak mendengar dan memahami kebenaran) yaitu orang-orang yang tidak berakal.”

(Al-Anfal 22)

Telinga mereka telah dibuat tuli dari kebenaran. Mulut mereka telah dibisukan dari menyampaikan kebenaran. Dan akal mereka telah dikalahkan. Semua adalah karena hawa nafsu.

Manusia selalu merasa dirinya paling mulia di muka bumi ini. Tapi tunggu dulu, bukankah Allah perbah berfirman:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ -١٧٩-

“Dan sungguh, akan Kami Isi neraka Jahannam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah”

(Al-A’raf 172)

Dalam ayat ini, Allah tidak ingin mendzalimi binatang dengan menyamakan mereka dengan manusia yang hina. Allah menyebut manusia seperti ini lebih hina dari binatang ternak. Bayangkan saja, binatang ketika kenyang tidak akan menjadi beringas dan memangsa lagi. Sementara manusia tidak pernah kenyang, selalu merasa kurang.

Karena itu, kita bisa melihat manusia dalam dua kelompok. Ada yang selalu naik menuju Allah. Mereka sering disebut Insan Malakuti. Mereka begitu mulia di mata Allah karena selalu menggunakan akal dalam setiap perbuatan.
إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ -١٠-

“Kepada-Nyalah akan naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal kebajikan Dia akan Mengangkatnya.”

(Fathir 10)
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إ -١٣-

“Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”

(Al-Hujurat 13)

Allah lah yang memuliakan manusia yang selalu menggunakan akalnya. Allah pula yang menghinakan manusia ketika dia selalu menyembah syahwatnya.
وَمَن يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِن مُّكْرِمٍ -١٨-

“Barangsiapa Dihinakan Allah, tidak seorang pun yang akan memuliakannya.”

(Al-Hajj 18)

Bagaimana cara agar kuat melawan hawa nafsu?

Salah satu cara agar kita mampu melawan hawa nafsu adalah dengan menghargai hukum Allah. Orang-orang bengis tidaklah langsung menjadi orang bengis. Dia butuh proses untuk menjadi se-buruk itu. Berawal dari meremehkan solat, melalaikan puasa dan meremehkan hukum-hukum Allah yang lain. Dari situlah dia memutus hubungan dengan Allah. Sampai hatinya dipenuhi oleh hawa nafsu dan bisa melakukan hal-hal keji.

Sering membaca Al-Qur’an juga membantu kita menjadi kuat melawan hawa nafsu. Bukankah kita melihat di awal Surat Ar-Rahman.
الرَّحْمَنُ -١- عَلَّمَ الْقُرْآنَ -٢- خَلَقَ الْإِنسَانَ -٣-

(Allah) Yang Maha Pengasih, Yang telah Mengajarkan al-Quran. Dia Menciptakan manusia,

(Ar-Rahman 1-3)

Dalam Surat ini kita akan temukan hal yang aneh. Kenapa Allah mendahulukan “mengajarkan Al-Qur’an” sebelum “menciptakan manusia”?

Dalam Surat ini, Allah seakan ingin mengisyaratkan bahwa tujuan diciptakannya manusia adalah untuk mengikuti Al-Qur’an. Jika dia tidak berpegang pada Al-Qur’an, maka tak layak lagi disebut manusia.

About Edy Gojira 722 Articles
sampaikanlah .... kebenaran ayat-ayat Allah

2 Comments on MANUSIA Seperti ….. BINATANG …..(bahkan lebih buRuk lagi) ………….. cara berpikir, cara memahami, … dan berbuat .. spt BINATANG ————————————————————— ……….manusia tergolong BINATANG .. krn selalu mengikuti HAWA NAFSU … apa itu hawa Nafsu ??? ————————————————————— Saat Hati, Mata, dan Telinga tidak dipeRgunakan untuk memahami Kebenaran dari Allah … Tuhannya

  1. Hati, Mata dan Telinga yang Menjerumuskan ke Neraka Jahannam

    Sementara dalam kajian Sayyid Quthb, ada dua pertimbangan yang bisa ditangkap dari ayat di atas, yaitu:

    Pertama, sesungguhnya terbuka bagi pengetahuan Allah yang azali (sejak dahulu kala), bahwa mereka (kebanyakan jin dan manusia) itu akan dijerumuskan ke neraka Jahannam. Dan hal ini tidak membutuhkan terlihatnya perbuatan yang menjadikan mereka berhak masuk neraka ke dalam dunia ‘amal’ nyata mereka. Sebab, ‘ilmu Allah universal dan integral, tidak terbatas pada zaman dan gerakan yang melahirkan perbuatan di dunia hamba yang baru.

    Kedua, sesungguhnya pengetahuan Allah yang azali–yang tidak terkait dengan zaman dan gerakan di dunia hamba yang baru–bukanlah yang mendorong kebanyakan jin dan manusia kepada kesesatan, melainkan dipicu oleh faktor yang disebut secara tekstual oleh ayat di atas, “Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah).”

    Mereka tidak membuka hati yang dianugerahkan kepada mereka untuk memahami (ayat-ayat Allah). Mereka juga tidak membuka mata untuk melihat ayat kauniyah, tanda-tanda kekuasaan Allah yang terkait dengan alam semesta.

    Mereka pun tidak membuka telinga untuk mendengar ayat-ayat Allah yang dibaca. Mereka benar-benar menelantarkan perangkat-perangkat yang dianugerahkan kepada mereka. Karena itu, mereka hidup dalam kelalaian dan tidak pernah melakukan kontemplasi (perenungan). Maka mereka dikatakan, “Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (lihat Fi Zhilal Al Qur’an III/1401).

    Hati adalah Pemimpin Tubuh

    Penyebutan secara khusus hati, mata dan telinga, menunjukkan betapa pentingnya ketiga organ ini. Mereka bisa mengantarkan ke surga manakala digunakan dengan baik untuk meningkatkan iman dan takwa. Akan tetapi, mereka juga bisa menjerumuskan ke neraka manakala ditelantarkan dan digunakan untuk maksiat kepada Allah.

    Didahulukannya hati dari penyebutan mata dan telinga juga memperlihatkan urgensi hati bagi keseluruhan tubuh manusia. Hati menjadi tempat seluruh perasaan jiwa, kekuatan berpikir dan keyakinan manusia. Perasaan cinta, benci, bahagia, gelisah, marah, takabbur, tawadhu, yakin dan ragu muncul dari hati.

    Karena itu, hati sangat menentukan baik dan buruk manusia secara menyeluruh, sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Ingatlah bahwa di dalam tubuh manusia ada segumpal organ, bila ia baik maka baiklah seluruh tubuh manusia itu. Dan bila dia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Organ itu adalah hati (qolbu),” (HR Bukhari I/126 dan Muslim XI/27, 28).

    Dengan demikian, menjaga kesehatan hati berarti menjaga manusia secara keseluruhan. Sedangkan membiarkan hati rusak sama dengan merusak manusia itu sendiri. Hal ini sangatlah rasional mengingat hati adalah tempat bersemayamnya keyakinan yang akan menentukan visi hidup seorang manusia, sumber niat, motivasi, selera dan emosi yang akan mengarahkan amal seseorang dan menentukan mutunya.

    Tak Berhati Tak Berakal

    Kalimat penutup ayat 179 surat Al-A’raaf di atas menegaskan, ketika manusia menelantarkan fungsi hati, mata dan telinga, maka ia disamakan seperti binatang yang tidak berhati dan berakal. Karena itu, ayat tersebut memberi sinyal penting akan adanya manusia yang berperilaku binatang.

    Tampilan oke, parlente, semua pernak-pernik dan hiasan dunia menempel di tubuhnya, namun perilakunya bak binatang. Seperti pejabat yang menjarah dan mengorupsi uang rakyat milyaran rupiah dan membiarkan sebagian rakyatnya mengidap busung lapar dan gizi buruk. Contoh lain, orang yang merekam perbuatan mesumnya dengan pacarnya dan istri orang lain lalu perbuatan asusilanya itu ditonton oleh sekian juta mata. Mereka bagai binatang, tak berhati tak berakal. Wallahu a’lam bishawab.

  2. Hawa Nafsu = “Hawa nafsu adalah kecondongan jiwa kepada sesuatu yang selaras dengan keinginannya”Definisi HAWA NAFSU ….. “ adalah kecondongan jiwa kepada sesuatu yang selaras dengan keinginannya”
    ———————————————————————–
    Ulama merinci sebagai berikut:
    1. Jika terkait dengan hawa nafsu jenis syubhat, maka bisa sampai menjerumuskan seseorang ke dalam status ahli bid’ah dan dinamakan ahlul ahwa`. Dan kebiasaan salaf menamai ahli bid’ah dengan nama ahlul ahwa`.
    2. Adapun hawa nafsu jenis syahwat, maka terbagi dua, yaitu dalam perkara yang mubah, seperti makan, minum, dan pakaian dan bisa juga dalam perkara yang diharamkan, seperti zina, khamr, dan pelakunya dinamakan dengan fajir, fasiq, atau pelaku maksiat.
    ——————————————————————-
    Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah mengatakan,
    الهوى ميل الطبع إلى ما يلائمه
    “Hawa nafsu adalah kecondongan jiwa kepada sesuatu yang selaras dengan keinginannya” (Asbabut Takhallaush minal hawa, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, hal. 3).

Leave a Reply