Loading
Perumpamaan Orang Yang Membaca Al-Quran …. kamu ingin masuk golongan MUNAFIK/fasik yg memBACA Al Qur’an ??? ———————————————– tahu perintah Allah TETAPI .. TIDAK dikerjakan tahu larangan Allah TETAPI … MALAH dikerjakan ============================= | EP Artikel-Edy Gojira

Perumpamaan Orang Yang Membaca Al-Quran .... kamu ingin masuk golongan MUNAFIK/fasik yg memBACA Al Qur'an ??? ----------------------------------------------- tahu perintah Allah TETAPI .. TIDAK dikerjakan tahu larangan Allah TETAPI ... MALAH dikerjakan =============================

Perumpamaan Orang Yang Membaca Al-Quran .... kamu ingin masuk golongan MUNAFIK/fasik yg memBACA Al Qur'an ???
-----------------------------------------------
tahu perintah Allah TETAPI .. TIDAK dikerjakan
tahu larangan Allah TETAPI ... MALAH dikerjaka
=============================
Anas ibn Malik berkata : Abu Musa al-Asy’ari berkata :

Perumpamaan orang mu’min yang membaca al-Qur’an bagaikan buah Utrujah, rasa buahnya enak dan baunya wangi. Dan perumpamaan orang mu’min yang tidak membaca al-Qur’an bagaikan buah Kurma, rasanya enak namun tidak berbau. Sedangkan perumpamaan orang munafik yang membaca al-Qur’an, bagaikan buah Raihanah, baunya enak namun rasanya pahit. Dan perumpaman orang munafik yang tidak membaca al-Qur’an, bagaikan buah Hanzalah, rasanya pahit tetapi tidak berbau.

Hadis sahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (hadis no. 4632) dan Muslim (hadis no. 1328)
------------------------------
Begitu indah bunyi hadits di atas. Di dalamnya menjelaskan kepada kita tentang perumpamaan manusia dalam Islam. Sadar atau tidak sadar, sebagai seorang muslim dalam Islam ini, ternyata diri kita masing-masing memilikirasa dan bautersendiri di hadapan al-Qur’an. Dalam arti, pada setiap kehidupan ini, di manapun kita dan kapanpun serta bersama siapapun kita, masing-masing memiliki pancaran sosial yang berbeda-beda.

Bila dilihat dari bunyi hadits shahih di atas, setidaknya akhlak dan perilaku setiap muslim bisa dianalogikan dari interaksinya bersama al-Qur’an.

Secara eksplisit, kandungan hadits di atas memuat beberapa prototype manusia muslim yang perlu kita ketahui bersama, yaitu:

1. Orang mukmin (beriman) yang suka membaca al-Qur’an seperti buah utrujjah.

Sudah selayaknya setiap muslim untuk bisa, suka dan pandai membaca al-Qur’an dalam hidup ini. Kenapa? Karena ibadah membaca al-Qur’an setiap harinya adalah bagian dari salah satu bentuk ibadah utama bagi kekokohan diri kita . Ketika seseorang rajin tilawah (membaca) al-Qur’an dalam jumlah ayat, surat dan juz yang cukup, maka efek positif dari tilawah itu Insya Allah akan memberikan pancaran cahaya bagi setiap detik hidupnya. Tilawahnya dinilai ibadah dengan pahala yang berlipat-lipat, hatinya selalu connect (tersambung) dengan Allah swt, jiwanya sejuk dengan siraman kelembutannya, pikirannya penuh dengan pesan-pesan ilahi dan dirinya bersama makhluk-makhluk Allah lainnya dalam tasbih dan tahmid memuji Allah swt. Tentu saja dari ketekunannya dalam membaca ini, dirinya akan menjadi baik, mudah mengingat Allah, sigap dan berhati-hati dari segala godaan penyimpangan dan maksiat, dan penuh harap dan cemas kepada ridho-Nya. Makanya, Rasulullah memperumpamakan muslim yang seperti ini dengan buahutrujjah. Atau dengan bahasa familiarnya bagi kita adalah seperti buah durian yang sangat lezat. Baunya harum dan rasanya lezat sekali. Inilah sifat muslim ideal itu.

Buah Kurma

2. Orang mukmin yang tidak suka membaca al-Qur’an seperti buah kurma. Tidak ada baunya dan rasanya manis.

Karena keimanan setiap muslim itu bertingkat-tingkat di hadapan Allah, maka ada juga mukmin yang tidak suka membaca al-Qur’an. Dirinya hanya cukup dengan tilawah yang apa adanya, sehingga sedikitpun tidak merasakan kenikmatan dalam membacanya. Akibatnya, kewajiban tilawah al-Qur’an pun berada pada tingkatan terendah. Nauzubillah. Padahal Rasulullah saw sebagai guru al-Qur’an bagi umatnya mewanti-wanti kita, umatnya untuk menjadikan tilawah harian sebagai indikasi keimanan kita kepada Allah swt (lihat Qs al-Baqoroh: 121). Ya, walaupun amalan ibadah yang lainnya cukup baik, namun apabila sisi al-Qur’an ini terlupakan, jadinya aroma keimanannya pun menjadi berkurang. Oleh karena itu, Rasulullah saw menyamakannya seperti buah kurma. Rasanya manis tapi tidak ada baunya.

3. Orang munafik yang suka membaca al-Qur’an seperti buahraihanah.

Baunya enak, tapi rasanya pahit.

Kaum munafikin adalah satu dari ketiga golongan manusia yang diklasifikasikan dalam al-Qur’an selain orang-orang kafir dan orang-orang mukmin. Jumlah kaum munafik ini selalu saja berada pada populasi yang besar ketimbang kedua golongan lainnya. Munafik adalah beriman secara zahir tapi kafir secara batin. Nah, erat kaitannya hal muamalah dengan al-Qur’an, ada orang munafik yang suka dan pandai membaca al-Qur’an. Tapi sangat disayangkan, tilawahnya itu hanya sekedar pemoles bibir dan suaranya saja. Sementara isinya yang indah tidak sampai di bawah pada praktek sehari-hari. Dengan kata lain, ia pandai mengaji (tilawah) tapi maksiat jalan terus. Nah, menurut Rasulullah, orang munafik semacam ini tak ubahnya bagaikan buah Raihanah (dalam bahasa arab) yang baunya enak tapi rasanya pahit. Pancaran keindahan ayat-ayat al-Qur’an yang ia baca itulah yang menjadikannya dirinya ‘baunya ‘ enak. Tapi, sayang..enaknya hanya di bibir saja, sedangkan isinya tidak diamalkan. Karenanya, jadilah dirinya pahit.

Buah Hanzalah

4. Yang terakhir, orang munafik yang tidak suka membaca al-Qur’an, seperti buah Hanzholah. Tidak memiliki bau dan rasanya pahit.

Inilah sejelek-jeleknya contoh manusia. Sudah munafik yang dibenci Allah, eh dia juga tidak suka membaca al-Qur’an. Bisa jadi akibat kemunafikannya itulah ia tidak beriman dengan al-Qur’an sehingga mengakibatkan dirinya sama sekali tidak memiliki pancaran Islam dan kelembutan al-Qur’an. Aromanya pun nihil dan rasanya pahit sekali. Semua penampilannya buruk di hadapan manusia. Apalagi di hadapan Allah swt. Baik secara akhlak maupun psikis. Wajar saja, jika Allah menjadikan tempat akhir mereka kelak di yaumil akhir pada kerak neraka yang paling dalam. Na’uzubillah min zalik. Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat yang satu ini. Amiin.

Jadi, mari kita merenung dan intropeksi bersama, manakah di antara keempat sifat manusia di atas yang melekat pada diri kita??

Semoga kita bisa memperbaiki diri dalam bermuamalah dengan al-Qur’an ini, sehingga Allah memberikan kita ‘aroma dan rasa’ yang menyedapkan bagi lingkungan sosial dan kehidupan kita, dari dunia sampai akhirat nanti.
آمين يا مجيب السائلين

Wallahu a’lam bish-showab

Views All Time
Views All Time
962
Views Today
Views Today
1
About Edy Gojira 722 Articles
sampaikanlah .... kebenaran ayat-ayat Allah

1 Comment on Perumpamaan Orang Yang Membaca Al-Quran .... kamu ingin masuk golongan MUNAFIK/fasik yg memBACA Al Qur'an ??? ----------------------------------------------- tahu perintah Allah TETAPI .. TIDAK dikerjakan tahu larangan Allah TETAPI ... MALAH dikerjakan =============================

  1. Perumpamaan orang mu’min yang membaca al-Qur’an bagaikan buah Utrujah, rasa buahnya enak dan baunya wangi. Dan perumpamaan orang mu’min yang tidak membaca al-Qur’an bagaikan buah Kurma, rasanya enak namun tidak berbau. Sedangkan perumpamaan orang munafik yang membaca al-Qur’an, bagaikan buah Raihanah, baunya enak namun rasanya pahit. Dan perumpaman orang munafik yang tidak membaca al-Qur’an, bagaikan buah Hanzalah, rasanya pahit tetapi tidak berbau.

    Hadis sahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (hadis no. 4632) dan Muslim (hadis no. 1328)

Leave a Reply