Loading
HUSNUDZON (BERBAIK SANGKA) kepada ALLAH… …………………………….mengapa ? dan untuk apa? …………….. krn BURUK sangka/Su’udzon = berDOSA | EP Artikel-Edy Gojira

HUSNUDZON (BERBAIK SANGKA) kepada ALLAH... ..................................mengapa ? dan untuk apa? ................. krn BURUK sangka/Su'udzon = berDOSA

HUSNUDZON (BERBAIK SANGKA) kepada ALLAH...
..................................mengapa ? dan untuk apa?
.................................. krn BURUK sangka/Su'udzon = berDOSA
".. seorang hamba terkadang mengHARAP RAHMAT Allah dan .... terkadang pula TAKUT akan MURKA dan SIKSA Allah...""
-------------------------------------------
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka {Su'udzan/prasangka BURUK}. Sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah DOSA dan janganlah kamu mencari-CARI keSALAHan orang lain dan janganlah sebagian kamu mengGUNJINGkan sebagian yang lain {Hgibah}. Sukakah salah seorang di antara kamu meMAKAN DAGING saudaranya yang sudah MATI?Maka tentulah kamu merasa JIJIK kepadanya.Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” Q.S. Al Hujarat : 12
..............................
Husnudzon arti harfiahnya adalah berbaik sangka.Husnudzon kepada Allah berarti berbaik sangka kepada Allah dalam hal apapun. Hal ini adalah salah satu cara agar kita dapat selalu mensyukuri apa yang telah Allah berikan kepada kita. Kebahagiaan, kesedihan, berkah, musibah dan apapun yang telah ditetapkan oleh Allah atas diri kita pasti mengandung hikmah yang dapat kita petik.

Ber-husnu dzon (berbaik sangka kepada Allah) adalah salah satu ibadah hati yang agung dan tidaklah lengkap keimanan seorang hamba tanpanya. Hal itu disebabkan karena berbaik sangka kepada Allah merupakan bagian dari kensekwensi tauhid yang paling dalam. Berbaik sangka kepada Allah adalah berprasangka yang sesuai dengan keagungan dan kemuliaan nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang akan berpengaruh pada kehidupan seorang mukmin seperti yang diridhoi oleh Allah azza wajalla. Dengan kata lain, seorang hamba ber-husnu dzon manakala ia beranggapan bahwa Allah mengasihinya, memberi jalan keluar dari kesulitan dan kegundahannya. Hal itu ia lakukan dengan tadabbur (merenungi) ayat-ayat dan hadits hadits tentang kemuliaan, pengampunan Allah dan apa-apa yang dijanjikan-Nya bagi orang-orang yang bertauhid.

Beberapa dalil yang menganjurkan husnu dzon kepada Allah

1) عَنْ أَبِى سُفْيَانَ عَنْ جَابِرٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَبْلَ وَفَاتِهِ بِثَلاَثٍ يَقُولُ « لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ ».

Dari Abu Sufyan, dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu anhu berkata : tiga hari sebelum meninggalnya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, aku mendengar beliau bersabda : “ Janganlah seorang diantara kalian meninggal kecuali dia telah berbaik sangka kepada Allah “ (H.R. Muslim)

2) حديث أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: يَقُولُ اللهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي

Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda : Allah subhanahu wata’ala berfirman : “Aku (akan memperlakukan hamba-Ku) sesuai dengan persangkaannya kepada-Ku” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Maknanya : Allâh Ta’ala akan memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, dan Dia akan berbuat pada hamba-Nya sesuai dengan harapan baik atau buruk dari hamba tersebut, maka hendaknya hamba tersebut selalu menjadikan baik persangkaan dan harapannya kepada Allâh Ta’ala. (Lihat kitab Faidhul Qadîr (2/312) dan Tuhfatul Ahwadzi (7/53).

Imam Nawawi dalam syarah Shahih Muslim berkata : “ Para ulama mengatakan : makna husnu dzon kepada Allah adalah yakin bahwa Allah akan merahmatinya dan mengampuninya “. Kemudian dia mengatakan pula : “ al-Qadhi berkata : mengampuninya jika seorang hamba meminta ampun, menerimanya jika seorang hamba bertaubat, mengabulkannya jika seorang hamba memohon, dan mencukupinya jika seorang hamba meminta. Ada pula yang mengatakan bahwa maksudnya adalah mengharap pengampunan “. (14/210)
..........................
Secara garis besar Husnudhan dapat dibagi menjadi 3 macam yaitu [3]:
...................................
a) Husnudhan Kepada Allah
.............................................
Salah satu akhlak terpuji yang harus tertanam pada dirimu adalah sifat husnudhan kepada Allah. Sifat husnudhan kepada Allah adalah sikap yang selalu berbaik sangka atas segala kehendak Allah terhadap hamba-Nya. Selanjutnya yang menjadi pertanyaan besar ialah, Mengapa kita harus berbaik sangka kepada Allah ? . Banyak hal yang terjadi pada kita seperti musibah membuat kita secara tidak langsung menganggap Allah telah tidak adil kepada kita.Padahal ,sebagai seorang mukmin sejati senantiasa menganggap apa yang ditakdirkan Allah kepada kita adalah yang terbaik .
Seseorang boleh saja sedih ,cemas , dan gundah bila terkena musibah, tetapi hal tersebut jangan sampai berlarut larut sehingga akan membuat dirinya menyalakan Allah sebagai penguasa takdir. Sikap terbaik yang dapat dilakukan adalah dengan cara segera menata hati dan perasaan, kemudian menegguhkan sikap bahwa setiap yang ditakdirkan Allah kepada kita mengandung hikmah, inilah yang disebut dengan sikap husnudhan kepada Allah.
Sebagaimana firman Allah dalam QS. Yunus ayat 44:
Artinya :“Sesungguhnya Allah tidak berbuat aniaya kepada manusia sedikit pun, akan tetapi manusia itu sendiri berbuat anuaya kepada diri mereka sendiri. (QS. Yunus: 44)”
Sebagai seseorang mukmin yang meyakini bahwa Allah Maha Mengetahui atas apa yang terjadi terhadap hambanya ,kita seharusnya berpikir optimis, yakinlah bahwa Rahmat dan Karunia yang diberikan Allah kepada manusia tidak akan pernah putus. Berikut firman Allah SWT ,di bawah ini;
Artinya: “dan rahmat ku meliputi segala sesuatu” (QS.Al-‘Araf 7 : 156).
Sebagaimana firman Allah diatas, yang telah menjelaskan bahwa Rahmat dan Kasih sayang Allah meliputi segala sesuatu ,kita perlu berhusnuzan kepada Allah dalam segala hal dan keadaan.
Allah Maha Mengetahui, maka disaat kita senang dan suka (karena mendapatkan rezeki dan kenikmatan dari Allah ),maupun saat dalam keadaan susah dan duka (karena mendapatkan ujian dan cobaan ) hendaknya kita iringi dengan kita berhusnudhan kepada Allah SWT. Sebab semua yang diberikan oleh Allah ,baik berupa kenikmatan maupun cobaan ,di dalamnya mengandung banyak hikmah dan kebaikan. Sebagaimana ditegaskan Allah dalam sebuah hadits qudis yang berbunyi :
Artinya : “selalu menuruti sangkaan hamba ku terhadap diriku jika ia berprasangka baik maka akan mendapatkan kebaikan dan jika ia berprasangka buruk maka akan mendapatkan leburukan.” (H.R. at –tabrani dan ibnu hibban).
1. Sikap Husnuzan Kepada Allah
1. Sabar serta senatiasa berserah diri kepada Allah (tawakal), [4]
yakni mempercayakan diri kepadaNya dalam melaksanakan sesuatu pekerjaan yang telah direncanakan dengan mantap.
Dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah:112
Artinya :"Barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhan dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (QS. Al-Baqarah:112)
1. Senantiasa taat kepada Allah.
2. Yakin bahwa terdapat hikmah di balik segala penderitaan dan kegagalan.
3. Menerima dengan ikhlas semua keputusan Allah.
4. Syukur dan qona’ah, yakni senatiasa berterima kasih atas pemberian Allah serta merasa cukup atas pemberihanNya itu.
Dijelaskan dalam QS. At-Taubah:59
Artinya : "Jika mereka sungguh-sungguh rida dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah”. (Tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka).(QS. At-Taubah:59)
2. Hikmah Husnuzan kepada Allah
Sikap husnuzan mempunyai hikmah yang besar.Berhusnuzan kepada Allah memiliki hikmah yang banyak, diantaranya seperti berikut.
1) Dapat menumbuhkan sikap untuk selalu optimis dalam menyongsong masa depan
Sebagaimana firman Allah yang Artinya :
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
2) Menumbuhkan perasaan tidak mudah putus asa
3) Menumbuhkan perasan syukur kepada Allah atas nikmat yg telah dianugrahkan allah kepada kita [5]
4) Menumbuhkan sifat sabar dan tawakkal.
......................................
b) Husnuzan kepada Diri Sendiri
..................................................
Husnuzan kepada diri sendiri adalah sikap baik sangka kepada diri sendiri dan meyakini akan kemampuan diri sendiri.
Husnuzan kepada diri sendiri dapat ditunjukkan dengan sikap-sikap berikut:[6]
1. Gigih dan Optimis
Gigih berarti sikap teguh pendirian, tabah, dan ulet atau berkemauan kuat dalam usaha mencapai sesuatu cita-cita.Sedangkan optimis adalah sikap yang selalu memiliki harapan baik dan positif dalam segala hal.
Manfaat sikap gigih adalah:
a. Membentuk pribadi yang tangguh.
b. Menjadikan seseorang teguh pendirian sebab tidak mudah menerima pengaruh buruk dari orang lain.
c. Menjadikan seseorang kreatif.
d. Menyebabkan seseorang tidak gampang berputus asa dan menyerah terhadap keadaan.
2. Berinisiatif
Berinisiatif artinya pelopor atau langkah pertama, atau senantiasa berbuat sesuatu yang sifatnya produktif.Berinisiatif menuntut sikap bekerja keras dan etos kerja yang tinggi.
Ciri khas orang penuh inisiatif, adalah:
a. Kreatif
b. Tidak kenal putus asa
........................................
c) Husnuzan kepada Sesama Manusia
................................................
Husnuzan kepada sesama manusia adalah sikap yang selalu berpikir dan berprasangka baik kepada sesama manusia. Sikap ini ditunjukkan dengan rasa senang, berpikir positif, dan sikap hormat kepada orang lain tanpa ada rasa curiga, dengki, dan perasaan tidak senang tanpa alasan yang jelas.
Nilai dan manfaat dari sikap husnuzan kepada manusia adalah:
a. Hubungan persahabatan dan persaudaraan menjadi lebih baik.
b. Terhindar dari penyesalan dalam hubungan dengan sesama.
c. Selalu senang dan bahagia atas kebahagiaan orang lain.
................................
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
Mengapa harus ber-husnu dzon kepada Allah ?
.............................................................................
Karena husnu dzon sebagai bentuk respon seruan dari firman Allah ta’ala :
24. Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan Sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan. (Q.S. al-Anfal 24)

Karena husnu dzon memiliki hubungan yang sangat erat dengan hal-hal yang berkaitan dengan masalah aqidah, diantaranya adalah :

Masalah tawakkal kepada Allah. Al-Imam Ibnu Qoyyim al- Jauziyah Rahimahullah berkata : “ Derajat yang kelima adalah derajat tawakkal yaitu husnu dzon kepada Allah azza wajalla. Maka sebesar itu prasangka baikmu dan pengharapanmu (raja’) kepada Rabb-mu, sebesar itu pula derajat ketawakkalanmu “ (Tahdzib Madarijus Salikin hal 240).
Memohon pertolongan kepada Allah, bergantung dan bersandar hanya kepada Allah.
Takut kepada Allah azza wajalla. Abu Sulaiman ad-Darani Rahimahullah berkata : “ barangsiapa yang ber-husnu dzon kepada Allah kemudian dia tidak takut kepada-Nya, maka dia telah tertipu “. (Husnu dzon billah hal 40)

Karena seorang hamba terkadang mengharap rahmat Allah dan terkadang pula takut akan murka dan siksa Allah. Ibnu Qoyyim al-Jauziyah berkata : “ Seseorang yang mengharap selamanya akan selalu mengharap dan takut, mengharap keutamaan Rabb-nya, berbaik sangka kepada-Nya “.
Karena terdapat beberapa nash hadits Nabi Shallallahu alaihi wasallam yang memerintahkan dan menyeru untuk selalu ber-husnu dzon, seperti pada hadits diatas (hadits 1 dan 2). Dan sabdanya pula :

مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ، أَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللهِ، كَرِهَ اللهُ لِقَاءَهُ

Barangsiapa yang menginginkan perjumpaan dengan Allah, Allah pun menginginkan perjumpaan dengannya. Dan barangsiapa yang tidak ingin berjumpa dengan Allah, maka Allah pun tidak ingin berjumpa dengannya “. (H.R. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah R.A)

Karena mengetahui keadaan manusia masa kini ( yang banyak berprasangka buruk kepada Allah ) dengan anggapan bahwa itu sikap ber-husnu dzon kepada Allah. Ibnu Qoyyim al-Jauziyah Rahimahullah berkata : “ Banyak manusia pada zaman ini bahkan seluruhnya kecuali orang yang dikehendaki oleh Allah, telah berprasangka buruk kepada Allah dengan tanpa hak, sesungguhnya kebanyakan anak Adam meyakini bahwa dia tidak beruntung, seharusnya dia mendapat lebih dari apa yang telah diberi oleh Allah, sehingga lisannya mengatakan : Rabb-ku telah mendhalimiku, telah membatasi hakku. Hal ini dapat disaksikan melalui sikap dalam dirinya sedangkan lisannya mengingkari, dan tidak berani mengatakan dengan terang-terangan “. (Zaadul Ma’ad 3/235)
Karena barangsiapa yang ber-husnu dzon kepada Allah azza wajalla, meyakini kebenaran janji-Nya, kesempurnaan perintah-Nya dan apa yang dikabarkan-Nya tentang pertolongan akan agama-Nya, maka akan semakin bersungguh-sungguh melakukan amalan untuk agama yang mulia ini, dan berdakwah kepada Allah azza wajalla serta berjihad di jalan-Nya dengan harta dan jiwa.
Karena adanya pengaruh yang positif dalam diri orang mukmin di kehidupan dunianya sebelum matinya. Barangsiapa yang ber-husnu dzon kepada Allah dan bertawakkal kepada-Nya dengan sebenar-benarnya tawakkal, maka Allah akan menjadikan seluruh urusannya mudah dan diberi jalan keluar serta kegembiraan dari kesulitannya. Sehingga hatinya menjadi tenang lapang, jiwanya menjadi senang, ridha dengan ketetapan dan ketentuan Allah, dan senantiasa tunduk kepada Rabb azza wajalla.
Karena husnu dzon kepada Allah mendorong hamba untuk bersegera menuju pengampunan dan Rahmat-Nya. Sehingga seorang hamba selalu siap mengetuk pintu Rabb-Nya mengharap pengampunan-Nya dan bertaubat dari maksiat kepada-Nya. Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam bersabda :

إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوْبَ مُسْيْءُ النَّهَارِ ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوْبَ مُسِيْءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا ” ( رواه مسلم )

“ Sesungguhnya Allah ta’ala membuka tangan-Nya dimalam hari untuk menerima taubat orang-orang yang berdosa di siang hari, dan membuka tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang-orang yang berdosa di malam hari sampai matahari terbit dari barat “. (H.R. Muslim).

Karena di dalam husnu dzon terdapat keselamatan, keuntungan dengan surga dan mendapat Ridha Allah. Abu Bakar bin Abi ad-Dunya meriwayatkan dari Ibrahim, dia berkata : mereka senang untuk menyebutkan amal baik seorang hamba ketika akan meninggal dunia supaya hamba tersebut berbaik sangka kepada Allah azza wajalla.
Husnu dzon kepada Allah membantu seseorang untuk merenung dan memikirkan nama-nama dan sifat-sifat Allah yang terkandung dalam makna ibadah dan ikhlas.

Ber-husnu dzon kepada Allah dengan cara melakukan amal sholeh bukan dengan berangan-angan.

Sebagian orang ada yang beranggapan bahwa jika kita melakukan suatu perbuatan buruk kemudian meminta ampun kepada Allah, maka Allah akan mengampuni kita. Ini sebagai bentuk husnu dzon kita kepada Allah. Sesuai dengan hadits :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اَللَّهِ وَبِحَمْدِهِ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ, وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ اَلْبَحْرِ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

“ Dari Abu Hurairah R.A. berkata : Rasulullah SAW bersabda : barangsiapa yang mengucapkan : Subhanallah wa bihamdihi 100 kali. Maka akan diampuni dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di lautan “. (H.R. Mutafaq alaihi)

Dan firman Allah :

53. Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. az-Zumar 53).

Anggapan seperti ini adalah keliru. Karena husnu dzon kepada Allah refleksinya adalah amalan shaleh hamba itu sendiri. Karena seorang hamba ketika melakukan amalan shaleh, yang mendorong dirinya melakukan amalan shaleh adalah husnu dzon-nya kepada Allah bahwa Ia akan memberi balasan pahala dan menerima dari amalan yang telah dilakukannya. Setiap kali dia ber-husnu dzon kepada Allah, setiap kali pula memotivasi dirinya untuk melakukan amal shaleh. Jika tidak demikian maka ber-husnu dzon kepada Allah dengan mengikuti hawa nafsu dan berangan-angan kepada Allah adalah termasuk sikap lemah yang disabdakan oleh Rasulullah SAW :

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

“ Orang yang cerdas adalah yang mempersiapkan dirinya dan bekerja untuk hari esok (setelah kematian), dan orang yang lemah adalah yang selalu mengikuti hawa nafsunya dan hanya berangan-angan kepada Allah (bahwa Allah akan merahmatinya, mengampuninya dll) “. (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Syadad bin Aus R.A.).

As-Syaikh Muhammad bin Shalih al- Utsaimin pernah ditanya : Bagaimana berbaik sangka kepada Allah yang benar. ? maka beliau menjawab : “ husnu dzon kepada Allah adalah seseorang jika melakukan amalan shaleh, dia berbaik sangka kepada Allah bahwasanya Dia akan menerima amalannya. Jika berdoa, akan diterima doanya dan dikabulkan. Jika berdosa kemudian bertaubat kepada Allah dengan sebenar-benarnya taubat dan kembali kejalan yang benar, akan diterima taubatnya. Jika dicoba oleh Allah dengan beberapa musibah, dia juga akan berbaik sangka kepada Allah bahwa Dia tidaklah menurunkan musibah kecuali didalamnya ada hikmah yang agung. Berbaik sangka kepada Allah atas semua takdirnya kepada seluruh makhluq dan atas syariat-Nya yang dibawa oleh Rasul-Nya SAW bahwa semua itu adalah mengandung kebaikan dan maslahat bagi makluk-Nya. Meskipun sebagian manusia tidaklah mengetahui maslahat dan hikmah yang dikandung dari syariat-Nya, akan tetapi wajib bagi kita untuk menerima ketentuan Allah dan berbaik sangka kepada-Nya “.Wallahu a’lam.
............................................................
........Berperasangka Buruk (su’udzon).........
..........................................................................
Pengertian Berperasangka Buruk (su’udzon)
Menurut bahasa, as-suu’u artinya:
1. Semua yang buruk atau kebalikan dari yang bagus
2. Semua yang menjadikan manusia takut, baik dari urusan dunia maupun urusan akhirat.
Adz-dzonn menurut bahasa berarti:
1. Ragu. Allah berfirman: “Barangsiapa yang menyangka bahwa Allah sekali-kali tiada menolongnya (Muhammad) di dunia dan akhirat, Maka hendaklah ia merentangkan tali ke langit, Kemudian hendaklah ia melaluinya, Kemudian hendaklah ia pikirkan apakah tipu dayanya itu dapat melenyapkan apa yang menyakitkan hatinya.” (QS 22: 15).
Suudzon adalah akhlak yg sangat tdk terpuji karena mengandung arti berburuk sangka, dan suudzon adalah awal dari penyakit hati. Orang yg mempunyai sifat suudzon, ia akan menafsirkan setiap apa yg terjadi akan menjadi jelek dalam pandangannya. Sebuah permusuhan biasanya diawali dengan suudzon.Ghibah termasuk dalam ruang lingkup suudzon (dalam arti luas), karena suudzon itu adalah bahasa hati sedang ghibah adalah bahasa lisan.

Adapun ayat tentang berburuk sangka:

Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja.Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.
- QS Yunus:13

Bicara mengenai su’udzin tentu kita pula harus mengetahui jenis-jenisnya diantaranya:
1. Su’udzon dalam Pandangan Islam
a. Haram
1. Su’udzon kepada Allah. Allah berfirman: “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)” (QS 6: 116)
2. Su’udzon kepada Rasul
3.Su’udzon kepada orang-orang Mukmin yang dikenal dengan kebaikannya. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah berdosa.” (49: 12)

b. Wajib.
1. Wajib su’udzon kepada orang kafir yang terang-terangan dengan kekufurannya dan permusuhannya kepada Allah, Rasulullah dan orang-orang Mukmin yang shaleh. Allah berfirman:
Bagaimana bisa (ada perjanjian dari sisi Allah dan Rasul-Nya dengan orang-orang musyrikin), padahal jika mereka memperoleh kemenangan terhadap kamu, mereka tidak memelihara hubungan kekerabatan terhadap kamu dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. mereka menyenangkan hatimu dengan mulutnya, sedang hatinya menolak. dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (Tidak menepati perjanjian).” (QS 9: 8)
2. Su’udzon kepada orang Muslim yang dikenal terang-terangan berbuat maksiat, menghalangi jalan Allah dan tidak komitmen terhadap Islam.
Contoh berburuk sangka sebagai berikut:
Kayaknya dia meli mobil dengan cara menghutang ke tetangga.
Saya pikir semua yang mereka lakukan kepada desa kita semata-mata hanya untuk di puji.
Saya curiga, jangan-jangan dia mendapat nilai seratus karena menyontek
2.Sebab- Sebab Su’udzon
1. Niatan yang buruk
2. Tidak terbiasa dalam menggunakan kaidah yang benar dalam menghukumi sesuatu. Kaidah tersebut adalah:
a. Melihat segala sesuatu dari lahiriyahnya dan membiarkan batiniahnya menjadi urusan Allah.
b. Selalu mendasarkan atas bukti-bukti
c. Memastikan kebenaran bukti-bukti tersebut
d. Bukti-bukti tersebut tidak saling bertentangan satu dengan yang lainnya.
3. Lingkungan yang buruk akhlaknya
4. Mengikuti hawa nafsu
5. Terjatuh dalam masalah syubhat
6. Tidak memperhatikan adab-adab Islam dalam berkomunikasi. Adab komunikasi adalah: a) Tidak diperbolehkan berkomunikasi berdua dan lebih baik bertiga b) Pembicaraan hendaknya dalam kebaikan dan ketaatan.
7. Mengabaikan masa kini yang baik dan hanya terpaku pada masa lalu yang buruk.
3. Dampan Buruk Dari Berburuk Sangka Suudzon
1. Berpotensi menganggu jiwa dan kesehatan mental.
Selama orang suka usil dan hanya mencari-cari kesalahan dan kelemahan orang maka selama itu pula pikiran dan perasaan dan pikirannya dipenuhi oleh hal negatif, selama itu pula kita tidak akan maju dan berprestasi.

2. Merusak diri.
Beburuk sangka secara berlebihan hanya akan menimbulkan penyakit dendam kesumat yang pada akhirnya kalau dibiarkan akan merusak diri.

3. Membuat kita tidak produkitf.
Pengalaman menunjukan bahwa berburuk sangka hanya membuat kita tidak produktif, malas, dan lebih sering menggunakan perasaan untuk membela diri yang sebenarnya tidak perlu dilakukan.

4. Sulit Untuk bahagia.
Jika perasaan buruk sangka ini terus menerus dikembangkan pada orang disekitar kita msialnya teman atau tetangga kita dapat dipastikan kita tidak akan memperoleh kebahagiaan dalam hidup ini, karena perasaan kita selalu diliputi oleh rasa dengki dan iri hati.

5. Bisa membuat sakit.
Berburuk sangka bisa membuat kita sakit secara fisik.Hal ini bukanlah sekedar kata orang tetapi telah dibuktikan secara ilmiah.Dalam studi yang dilakukan di Amerika Serikat, partisipan dalam penelitian yang hanya memfokuskan fikirannya pada masa-masa lalunya yang menyedihkan, sistem kekebalan tubuhnya melemah secara signifikan.Dari penelitian tersebut, juga terlihat adanya hubungan antara aktivitas bagian otak yang berhubungan dengan depresi, dan tentunyahal ini sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh kita.

6. Sikap Pengecut.
Berburuk sangka adalah sesuatu yang tidak ksatria dan cenderung melamahkan semangat hidup utuk berkompetisi sehingga akhirnya menimbulkan sikap pengecut di dalam diri kita. Tentunya kalau kita ingin maju, sudah barang tentu berbagai macam hambatan dan rintangan haruslah dilalu dengan cara yang benar, bukan dengan mencari-cari kesalahan orang lain agar kita dianggap benar.

7. Tidak Rasional.
Sangat tidak rasional kalau kita berburuk sangka pada orang lain karena prestasi yang mereka buat karena kita lebih menggunakan aspek perasaan daripada logika perfikir kita, dimana kalau kita biarkan terus menerus hal ini bisa membuat diri kita menjadi kerdil.

4.Cara Mengatasi Su’udzon
1. Membangun aqidah yang benar yang berpegang di atas prinsip husnudzon spada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang Mukmin.
2. Melakukan tarbiyah dalam rangka mengokohkan aqidah dalam diri
3. Membiasakan diri untuk komitmen dengan adab-adab Islam di dalam menghukumi segala sesuatu.
4. Menjauhkan diri dari masalah-masalah subhat
5. Berusaha untuk berada dalam lingkungan yang baik
6.Mujahadah dan berusaha untuk mengendalikan hawa nafsu dan syahwat
7.Mempersepsikan manusia dengan realitas sekarang dan bukan masa lalunya
8. Senantiasa membaca buku-buku sejarah orang-orang yang shalih

Views All Time
Views All Time
284
Views Today
Views Today
1
About Edy Gojira 721 Articles
sampaikanlah .... kebenaran ayat-ayat Allah

Be the first to comment

Leave a Reply